
Ar memerintahkan anak buahnya menyebar. Ia yakin para wanita itu tidak ditempatkan di satu tempat.
“ Ingat, langsung habisi saja setiap orang yang kalian temui. Aku tidak ingin melihat mereka masih berkeliaran nanti.”
Ar berbicara menggunakan alat komunikasi yang tersalur ke semua pasukannya. Mereka pun mengcopy perintah Ar tersebut termasuk anak buah dean. Diawal tadi Dean mengatakan bahwa misi kali ini dibawah satu komando, yakni komando dar Ar. Maka dari itu semua langsung patuh dengan setiap apa yang Ar ucapkan.
Mereka langsung menyebar ke seluruh bagian kapal. Pelan tapi pasti setiap anak buah Ar dan Dean sudah mulai menguasai kapal. Sungguh hal yang tidak disadari oleh malvis maupun vitus.
Kelemahan Malvis adalah, jika dia sudah bermain dengan wanita maka ia akan sedikit acuh dengan keadaan sekitar. Terlebih jika wanita itu benar-benar menarik untuknya. Maka dia bisa lupa akan segala hal. Dan inilah yang saat sekarang terjadi.
Meskipun belum sampai pada menu utama tapi Malvis memang sudah dibuat gila oleh Ella. Gadis itu bisa membuat seorang Malvis menahan gejolak yang membara di bawah sana.
Ella yang duduk di pangkuan Malvis tentu bisa merasakan milik Malvis begitu menonjol. Gadis itu pun dengan berani mengusapnya. Tambah blingsatan saja si Malvis ini.
" Sa-yang, kau benar-benar membuatnya tidak tahan lagi untuk keluar dari sarangnya."
" Kalau begitu lepaskan. Apa mau ku bantu?"
Malvis mengangguk patuh. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Malvis pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Ella.
Gadis itu mulai melepas ikat pinggang Malvis dan tanpa berlama-lama menurunkan celana Malvis, bahkan kain penutup segitiga itu pun berhasil ella turunkan sehingga membuat isinya langsung menyembul keluar.
Ella kemudian menunduk, malvis pikir Ella akan menggunakan mulutnya untuk menyenangkan si junior tapi ternyata salah. Ella menggunakan tangannya. malvbis merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Ella mulai mengusap dan memijit miliknya dengan lembut. Ada sensasi dingin yang ia rasakan tapi Malvis acuh. Saat ini ia lebih fokus dengan rasa nikmat itu. Tanpa ia ketahui di kapalnya tengah terjadi kekacauan.
Rex dan Roki berhasil menemukan sebuah ruangan yang berisi para gadis muda. setelah bergelut dengan dua penjaga bertubuh besar itu, keduanya berhasil membuka pintu itu. Setidaknya ada sekitar 20 orang di sana.
Pun dengan Dean dan Ar, mereka juga berhasil menemukan tempat dimana para gadis disekap. Ada sekitar 30 orang. Ar menggertakan gigi-giginya, jumlah ini tentu lebih banyak dari yang dia tahu. Ar semakin marah saat mendengar laporan bahwa ada beberapa kamar yang ternyata ditempati gadis-gadis hasil penculikan Malvis.
“ Bajingan betul ini si Malvis, aku memang benar-benar harus membumi hanguskan mereka semua.”
Ar meminta orang-orangnya untuk mengeluarkn gadis-gadis itu dengan aman. Ar, Dean dan Jason kemudian mulai bergerak mencari dimana lokasi Malvis.
__ADS_1
Vitus yang mulai merasa ada yang tidak beres dengan kapalnya pun mendatangi ruang kontrol. Sepintas Vitus masih merasa lega karena semua baik-baik saja. Namun mata jelinya menangkap sesuatu yang tidak beres.
“Brengseek!!! Kita kebobolan!”
Vitus kemudian berlari sambil menghubungi orang-orangnya, namun sial ia tidak mendapat jawaban dari para penjaga kamar gadis yang mereka cuik.
“ Siaal, mengapa aku bisa kecolongan.”
Vitus baru menyadari saat kamera cctv tersebut rupanya menampilkan gambar yang sama selama kurang lebih satu jam. Ia semakin yakin saat ia melintas ke arah ruang kontrol namun tidak terekam oleh cctv.
“ Aku harus segera memberitahu Signore.”
vitus benar-benar berlari menuju ruangan dimana Malvis berada. Sampai di depan pintu tanpa ragu Vitus membukanya. Persetan dengan apa yang sedang dilakukan tuannya, tapi ini tentu jauh lebih penting.
Tampak Malvis yang sangat marah. pasalnya saat ini Malvis dengan berada diatas tubuh ella dan siap melakukan menu utama.
“ Vitus, berani-beraninya kau!!!”
“ Bajingan. Lalu apa yang kau lakukan di sini hah. Cepat halau mereka.”
Vitus mengangguk mengerti, pria itu pun kemudian berlari mengumpulkan orang-orangnya. Sedangkan malvis, ia mengusap wajahnya kasar. Ia gagal melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Malvis pun kembali mengenakan pakaian yang sudah berserakan di lantai. Ia menghampiri Ella dan mencium sekilas bibir wanita yang sudah dia klaim menjadi miliknya itu.
“ Tunggu disini, aku akan segera kembali.”
Ella tersenyum dan mengangguk. Namun senyumnya langsung padam saat malvis menghilang dari bali pintu. Ia kemudian menyibakkan selimutnya dan berlari ke kamar mandi. Ella mengguyur tubuhnya dengan menggosok tubuhnya dengan sabun yang sangat banyak. Sungguh ia jijik terhadap Malvis, bakan sisa-sisa sentuhan tangan Malvis pun membuat gadis itu sangat tidak suka. Ella juga menggosok bibirnya da berulang kali mencuci nya.
“ Huuh, untung tepat waktu. Jika tidak amsyong sudah.”
Dibalik rasa kesalnya, Ella bisa bernafas lega karena terlepas dari kungkungan Malvis. Ia pun melihat kedua telapak tangannya.
“ Aku harus segera menggunakan penawar, jika tidak maka tanganku pun tidak akan selamat.”
__ADS_1
Ini merupakan salah satu resiko yang Ella ambil. Ia seperti bertaruh dengan waktu. Terlebih ia tidak langsung mencuci tangannya ketika kedua telapak tangannya itu berlumuran gel racun buatannya.
“ Baiklah saatnya kembali.”
Ella keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya yang semula. Ia merobek lingerie merah tersebut dna membuangnya ke tong sampah. Siapa yang sudi mengenakan baju kurang bahan itu, begitulah pikiran Ella.
Ia pun melenggang keluar ruangan dan menuju ke buritan kapal. Saatnya pulang ke rumah.
Malvis berhasil menuju ke atas kapal. Disna doa melihat Ar dan Dean bersama. Seketika tawa Malvis pun menggelegar.
" Hahahha dasar brengsek. Rupanya kau masih hidup Dean Benicio. Dan wooow, apa ini? Kalian bersatu? Tck tck tck, sungguh diluar nalar."
Ar dan Dean bersikap sangat tenang. Mereka bahkan berjalan mendekat ke arah Malvis dengan wajah mengejek
" Kenapa, kau iri begitu melihat kami. Sorry ye, kami nggak nambah anggota buat gabung dengan kami," ucap Ar tengik.
" Kenapa? Terkejut melihatku masih hidup. Kau pasti tidak menyangka bukan bahwa orang-orang yang kamu kirim tidak bisa membunuhku. Dasar lemah!"
Kata-kata Dean baru saja sungguh membuat Malvis marah. Ia yang memiliki temperamen buruk tentu sangat kesal dengan ucapan Dean. Bahkan Malvis sudah mengacungkan pistolnya ke arah Dean dan menarik pelatuknya.
Semua orang pun mengangkat senjata mereka dan saling mengarahkan kepada lawan. Termasuk Jason, ya sang dokter gila itu masih bersama dengan Ar dan Dean. Tapi tidak dengan Rex dan Roki, kedua orang itu bertugas membawa tahanan keluar dari kapal dengan selamat.
" Wohoo sungguh menarik. Jadi kapan kita bisa melepaskan senjatanya. Apakah pada hitungan ketiga, dan kita akan tahu sjapa yang akan mati duluan."
" Hentikan!! Malvis kau bahkan akan lumpuh sebentar lagi."
" Ella!"
" Mesa!"
" Jan!"
__ADS_1
TBC