Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 8. Lepaskan Wanitaku!


__ADS_3

PT. Argo Group pagi hari sudah sangat siap dengan kedatangan big bos. Semua berada di lobi perusahaan untuk menyambut kedatangan Arduino Aaron Linford. Dari nama mereka tahu jika bos mereka ini adalah saudara dari CEO LT.


" Kenapa makhluk sempurna begitu saudaranya juga up level dewa ya?" ucap salah satu karyawan.


" Ho oh, dan kalian tahu CEO LT nikah sama dokter bedah terbaik. Ya ampun, benar-benar devinisi jodoh. Sama-sama sempurnanya. Aku jadi penasaran siapa yang bakal jadi istri Tuan Ar," ucap karyawan lainnya.


Mereka sungguh tidak sabar menunggu kedatangan Arduino. Setelah 15 menit menunggu akhirnya mobil Mercedes-Maybach S580 4Matic berhenti tepat di depan lobi. Roki keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Ar.


Mengenakan setelan jas warna hitam, Ar terlihat begitu gagah. Pria dengan tinggi 189 itu menampakkan kaki jenjangnya yang terlihat sempurna. Wajah khas bule dengan mata coklat benar-benar menyejukkan mata yang memandangnya. Jangan lupakan bulu-bulu halus di wajahnya yang menambah kesan macho dan seksi.



Arduino Aaron Linford


Para karyawan wanita benar-benar di buat menganga dengan tampilan big bos mereka. Namun Ar tampak acuh dengan pandangan kekaguman dari orang-orang yang berada di sana.


" Hay brother, long time no see."


Benjiro memeluk saudara di organisasi bawah tersebut. Ar pun medekap erat sang sahabat.


" Thank you Njir, lo udah jagain perusahaan dengan sangat baik."


Semua tentu terkejut dengan panggilan sang big bos kepada bos mereka. Benjiro menjadi Njir, sungguh membuat mata mereka membulat. Namun tidak dengan Benjiro, ia sudah hapal seperti apa perangai Arduino. Arduino kemudian mengedarkan pandangannya melihat satu persatu karyawannya.


" Njir, suruh semua karyawan wanita mengubah dandanan mereka. Haish, aku aja lah yang bilang. Dengar semua, pertama aku tidak suka karyawan berdandan menor, kedua rok hanya boleh dibawah lutut, ketiga tidak boleh mengenakan baju yang ngepres bodi. Asli geli."


Lagi, semua menganga mendengarkan setiap ucapan Arduino. Namun tidak dengan Sheina. Gadis itu malah suka jadi para karyawan wanita di PT AG tidak berlomba-lomba berpenampilan seksi.


" Ekhem, ikuti peraturan tuan Ar. Kalian semua boleh lanjut bekerja."


Benjiro dan Roki terkekeh geli. Arduino sungguh berubah. Semenjak bertemu dengan keluarganya membuat Ar berpandangan berbeda terhadap wanita. Terlebih sang mommy yang mengenakan jilbab besar dan longgar terlihat anggun dan cantik. Sedangkan Silvya meskipun belum berhijab tapi saudara kembarnya itu tidak pernah mengenakan pakaian terbuka dan seksi.


" Sepertinya sudah berubah selera? Dimana Ar yang suka main dulu?"


" Diam kau Njir."


Benjiro tertawa terbahak-bahak. Ar yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu Ar hobi sekali bermain, meskipun belum mencapai level casanova akan tetapi petualangan ranjang Ar tidak perlu diragukan lagi.

__ADS_1


Keduanya masuk ke ruangan CEO yang sudah disiapkan oleh Benjiro sedemikian rupa. Nuansa hitam tentu menjadi kesukaan Ar. Roki juga akan berada di satu ruangan yang sama dengan Ar karena banyak pekerjaan yang akan di handle oleh nya.


" Wuihhh bagus ruangannya. Sudah lama nggak kerja kantoran. Kaku banget pasti gue."


Ar bergumam sendiri sedangkan Roki dan Benjiro hanya saling pandang melihat tingkah Ar. Keduanya mengambil posisi duduk sedangkan Ar masih melihat-lihat sekitar ruangan. Ia kemudian berjalan kearah jendela tampak ada gedung-gedung tinggi di sana. Namun ada satu tempat yang menjadi perhatiannya.


" Njir, itu bukannya kampus kan?"


" Iya, kampus. Universitas Nusantara itu. Kampus bagus, lumayan terkenal."


" Masukin gue ke sana."


" Apa, lo mau kuliah lagi. Astaga wajah lo udah nggak worth it buat kuliah lagi Ar."


Arduino melirik tajam pada Benjiro. Glek, seketika Benjiro kesusahan menelan saliva nya sendiri. Bagaimana tidak tatapan Ar yang begitu tajam serasa menusuk jantungnya.


Kini Benjiro pusing harus memasukkan ke Ar ke kampus tapi harus sebagai apa. Satu-satunya yang mungkin adalah sebagai mahasiswa pasca sarjana atau S2.


" Lha dalah, dasar mafia somplak. Mafia masih mau belajar lagi rupanya. Bagus lah, pendidikan memang penting," gumam Benjiro lirih.


Benjiro tidak tahu saja kalau Ar memiliki maksud lain masuk ke universitas tersebut. Namun siapa peduli itu, yang penting sang big bos berhasil masuk agar dia pun selamat.


Elisa mendatangi perusahaan sang ayah dengan langkah yang begitu enggan. Bagaimana dia kan menghadapi ayahnya? Sungguh dia begitu bingung harus bagaimana. Baskoro mungkin bukan suami yang baik tapi menurut Elisa dia adalah ayah yang baik.


Huuuuft


Elisa mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. Sudah lebih dari setengah tahun dia tidak menemui Baskoro.


" Non Elisa?"


" Mbak, ayah ada?"


" A-ada tapi ... "


Elisa tidak terlalu mendengarkan ucapan sekretaris ayahnya itu. Gadis itu langsung saja membuka pintu ruangan sang ayah.


" Astagfirullaah ..."

__ADS_1


Elisa sungguh terkejut dengan apa yang Baskoro lakukan. Bagaimana tidak terkejut jika ia melihat sang ayah tengah memangku seorang wanita muda yang mungkin usianya tidak jauh dengan dirinya. Dimana wanita muda itu tidak mengenakan pakaian sama sekali alias telanjang bulat.


El baru benar-benar mengerti sesakit apa hati sang bunda setelah melihat kelakuan ayahnya itu. Elisa berdecak sembari menggelengkan kepalanya. Air matanya luruh. Ia pun membalikan badannya dan bersiap untuk pergi. Sungguh dia tidak sudi melihat perlakuan tercela ayahnya itu.


" El tunggu!"


Baskoro sedikit panik dengan kedatangan Elisa. Dia tidak menyangka sang putri mau menemuinya dan melihatnya tengah seperti itu.


" Jangan harap El mau tinggal lagi dengan ayah. Selamat tinggal Yah, mungkin El lebih baik tidak memiliki ayah."


" El tunggu! El ... Dengerin ayah dulu!"


" Auch ..."


Wanita muda itu berteriak kesakitan saat tubuhnya dihempaskan oleh Baskoro ke lantai. Baskoro segera membenarkan celananya kembali lalu mengejar Elisa yang sudah masuk ke dalam lift. Tidak mau kehilangan kesempatannya berbicara kepada sang putri Baskoro turun dari lantai CEO tersebut menggunakan tangga. Ia menuruni tangga dengan kecepatan yang ia bisa.


Tring ...


Pintu lift terbuka, dan Elisa keluar dari sana sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya. Tak lama kemudian Baskoro sampai juga di lobby ia menarik tangan Elisa dan membawanya ke luar gedung perusahaan.


" El, dengerin ayah dulu."


" Apalagi yang mau ayah katakan. Toh kelakuan ayah memang selamanya begitu dan El lihat sendiri. Apa ayah nggak berpikir El itu perempuan. Bagaimana jika El jadi seperti wanita-wanita mainan ayah. Bagaimana jika El menikah terus suami El suka main wanita begitu hah! Apa ayah sama sekali nggak mikirin perasaan El! Bahkan abang meninggal juga karena ayah bukan?"


Deg


Baskoro tentu terkejut dengan semua yang Elisa katakan. Tapi karena sikap egois yang dimiliki Baskoro membuatnya acuh dengan setiap ucapan yang Elisa lontarkan.


" Cukup El, ayah berhak atas kamu. Kamu anak ayah. Ayah akan minta ke pengadilan untuk mengambil hak asuh mu."


" El udah besar yah, El berhak menentukan mau ikut siapa El nanti."


" El jangan membantah. Kalau begitu mulai sekarang kau sebaiknya ikut ayah."


Baskoro langsung mencengkeram lengan Elisa dan menarik paksa putrinya tersebut. Ia bahkan berusaha memaksa El untuk masuk ke dalam mobil.


" Lepaskan wanitaku pak tua!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2