
Ar kembali ke markas Wild Eagle setelah mengantarkan El pulang. Tadinya El menolak, namun dengan sedikit paksaan akhirnya gadis itu menurut juga.
Baik Drake ataupun Roki tidak ada yang bertanya apa yang baru saja Ar lakukan. Mereka memilih fokus dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Ar berdecak kesal dengan semua itu. Bagaimana tidak, urusan Dean saja belum selesai kini sudah muncul lagi masalah yang lain.
" Haishhh, keparaaaat!!! Jika begini terus, kapan aku bisa pensiun dini?"
Ar mengacak rambutnya dengan kasar. Rupanya ia harus sedikit lebih lama berada di dunia bawah nan gelap itu. Rupanya keputusan Wild Eagle untuk pensiun benar-benar membuat goncangan. Bukan masalah internal yang muncul tapi masalah eksternal.
Satu diantaranya yakni mereka yang berada di luar itu mulai bermunculan dan berusaha mengacau negri ini. Meskipun masih ada Black Wolf, tampaknya mereka mencoba mencari peruntungan. Atau mungkin bisa jadi mereka beranggapan bahwa Black Wolf melemah.
" Mungkin kita harus memperlihatkan taring kita agar para curut itu sadar bahwa di sini masih ada Serigala Hitam si penguasa malam gelap."
Roki tentu saja paham maksud dari Ar. Ia pun segera menghubungi anak buahnya untuk bersiap.
" Elaaah kenapa juga mesti di air lagi sih tempatnya. Demen banget deh ah pada cosplay jadi ikan."
Ar menggerutu kesal sedangkan Drake dan Roki hanya terkekeh geli mendengar ucapan absurd Ar. Tapi tampaknya kali ini Ar benar-benar marah oleh ulah Dark Demon.
Bagaimana tidak orang itu tidak perna muncul di tanah air dan tiba-tiba sekarang datang dengan permasalahan yang tidak bisa dianggap remeh. Penculikan anak-anak, human trafficking, sungguh merupakan perbuatan yang keji. Sebagai orang yang sudah lama bernaung di dunia bawah tentu saja hal tersebut merupakan hal yang biasa. Tapi Ar benar-benar tidak bisa mentolerir hal itu.
Meskipun ia dulu dikenal kejam, begitu juga dengan Silvya. Akan tetapi keduanya tidak pernah melakukan hal yang nama nya memperbudak manusia. Terlebih menjualnya ke negara lain seperti apa yang dilakukan oleh Dark Demon.
Black Wolf dan Wild Eagle lebih fokus dengan penjualan senjata, dan eksekutor, serta jual beli narkoba. Akan tetapi itu pun mereka tidak lakukan di dalam negeri.
__ADS_1
Apa yang dilakukan Dark Demon jika bukan di wilayahnya maka Ar dan Silvia tidak akan ikut campur. Tapi rupanya Dark Demon sedang main-main dengan Black Wolf. Mereka benar-benar menguji ke-eksisan Serigala Hitam.
" Lo jual, gue beli. Rok berangkat. Drake terus awasi dan berikan kabar terbaru."
" Siap Ar!"
Roki dan Drake menjawab kompak. Terselip kekhawatiran dalam diri Roki mengenai kesehatan Ar. Bagaimanapun Ar baru saja keluar dari rumah sakit. Seharusnya Ar banyak beristirahat tapi ini Ar harus beraksi.
" Ar, lebih baik kau tidak perlu ikut. Serahkan ini kapdaku dan anak-anak."
Ar sejenak terdiam. Ia menatap lurus ke depan melihat mobil-mobil yang berlalu lalang. Sesaat kemudian pria berusia 27 tahun itu membuang nafasnya kasar.
" Aku harus unjuk gigi. Jika tidak mereka lupa kalau aku masih memiliki gigi-gigi yang tajam."
Roki hanya bisa pasrah. Mereka sama-sama tahu, Dark Demon memiliki kekuatan yang tidak kecil. Namun bila dibanding dengan kartel Magna Arbor tentu saja sangat jauh. Ar mengatakan bahwa anggap saja ini merupakan latihan sebelum benar-benar menghadapi si Dean itu.
Meskipun begitu, sebenarnya yang dipermasalahkan Roki bukanlah saat menghadapi Dark Demon yang akan membawa anak-anak itu. Yang jadi masalah kali ini adalah kesehatan Ar.
Roki tentu yakin jika Black Wolf akan sangat mudah menghadapi Dark Demon. Tapi saat ini fisik Ar tidak sebagus biasanya.
Apa aku harus menghubungi Silvya, gumam Roki lirih. Entah mengapa Roki merasa begitu khawatir dengan Ar saat ini.
🍀🍀🍀
Di kampus, Edzar kebingungan mencari Elisa. Ia pun mencoba menghubungi Olinda. Rupanya kemarin mereka bertukar nomor ponsel saat bertemu.
__ADS_1
Sebenarnya Olin lah yang mengusulkan terlebih dahulu. Ia menawarkan untuk memberitahu mengenai Elisa. Tentu saja Edzar menyambut baik uluran tangan sahabat dari wanita yang ingin ia kejar tersebut.
" Rupanya kamu sudah pulang El. Baiklah sepertinya aku harus berkunjung ke toko bunga milik ibumu."
Edzar berjalan keluar dari gedung kampus. Senyumnya begitu cerah karena ingin menemui Elisa. Namun senyum itu pudar seiring dengan sentuhan lembut dan suara manja milik wanita yang belum lama ia pacari itu.
" Sayang, mau kemana. Katanya mau nungguin aku, tapi kok malah mau pulang."
Suara rengekan manja milik Amber sebenarnya membuat kuping Edzar geli. Namun sebisa mungkin ia bersikap normal. Bahkan dengan cepat kilat Edzar mengubah ekspresi kesalnya menjadi ekspresi yang dipenuhi senyum dan tatapan kelembutan.
Amber adalah salah satu putri dari jajaran dewan direksi di kampus ini. Ia tentu tidak boleh membuat Amber kesal.
" Aah maaf. Aku hanya mau ke toko buku bentar nyari bahan untuk buat tugas dari salah satu dosen."
Amber seketika melepaskan belitan tangannya di lengan sang kekasih. Ada rasa tidak enak karena sudah salah sangka. Gadis itu kemudian meminta maaf kepada sang kekasih dan membiarkan Edzar pergi ke toko buku yang ia katakan tersebut.
" Dasar gadis bodoh, gitu aja percaya. Huft, sebenarnya aku sangat enggan berhubungan dengan gadis bodoh dan manja itu. Tapi sementara ini aku harus tetap berhubungan dengannya. Rencana ku tidak boleh gagal. Susah payah aku bisa masuk ke universitas ini. Jadi tidak boleh sia-sia."
Rupanya Edzar memang tidak benar-benar berhubungan dengan Amber. Ia hanya memanfaatkan putri dari salah satu dewan direksi kampus agar bisa masuk kampus bergengsi tersebut karena sebuah tujuan. Sungguh berbanding terbalik dengan hati Amber yang beranggapan bahwa Edzar benar-benar mencintainya karena sikap lembut Edzar.
Amber yang sudah masuk ke dalam rayuan si wajah tampan Edzar tentu saja sudah begitu jatuh cinta dengan pemuda itu. Siapa yang bisa menolak pesona Edzar. Pria yang wajahnya bak model dan aktor asia tersebut sungguh merupakan pacar idaman bagi seorang gadis.
Bahkan Amber begitu bangga memamerkan Edzar kepada seluruh isi kampus. Tanpa Amber ketahui, dia hanyalah merupakan batu loncatan untuk Edzar mendapatkan tujuannya.
Edzar melenggang keluar kampus dengan penuh senyuman. Ia segera mengemudikan mobil nya menuju ke toko bunga milik Elisa. Ya, ia akan menemui Elisa dengan berpura-pura membeli bunga tentunya. Edzar tahu saat ini Elisa tidak menerima kehadirannya, namun tentu saja Edzar tidak akan menyerah. Dalam hatinya memiliki sebuah keyakinan bahwa ia akan bisa mendapatkan hati Elisa kembali.
__ADS_1
" Kau akan jadi milikku El."
TBC