
Benjiro berada di ruangan CEO yang tidak pernah ditempati CEO nya karena sibuk belajar. Entah belajar betulan atau tidak baik Benjiro maupun roki tidak tahu. Yang mereka tahu persis, bos mereka berada di kampus itu karena sebuah tujuan.
Sebuah panggilan mendarat ke ponsel milik Roki. Rupanya Drake yang menghubungi. Roki pengangkat panggilan itu dan menyalakan mode loudspeaker agar Benjiro juga bisa mendengarkan apa yang disampaikan oleh Drake.
"Bicaralah Drake."
" Rok, aku melihat pergerakan dari Anderson. Sepertinya ia sedang mengumpulkan orang dan bersiap menuju ke arah rumah sakit milik Jason. Jika aku tidak salah mungkin Anderson akan mengambil Rodriguez. Beberapa kali aku melihatnya mengintai rumah Queen juga."
" Apa Queen sudah tahu jika dia diintai."
" Sudah Roki, aku menghubungkan rekaman kamera pengawas dengan ponselnya langsung."
Roki dan Benjiro terdiam sejenak. Sampai saat ini saja mereka belum menerima donor yang tepat untuk Ar. Tapi masalah ini juga tidak bisa dibiarkan.
" Apakah sudah memberitahu Ar, Drake?"
" Ya sudah."
" Baiklah Drake terimakasih. Aku akan menyiapkan orang-orang juga."
Drake mengakhiri panggilan teleponnya. Kini Roki dan Benjiro saling pandang keduanya semakin khawatir dengan kondisi kesehatan Ar.
" Apakah belum ada kabar dari Bruno?"
" Belum Ben, aku baru tadi pagi menghubunginya. Mereka sudah melakukan tes di rumah sakit di sana tapi belum ada yang cocok dengan Ar."
Benjiro memijat pangkal hidungnya yang terasa sakit. Mengapa belum ada yang cocok? Itulah yang dipikirkan oleh Benjiro dan juga Roki tentunya.
" Apa tidak sebaiknya kita memberi tahu keluarga Ar?"
" Dia akan marah Ben. Dan aku belum bisa menghandle kemarahannya. Aku yakin dr. Dika punya jalan keluarnya. Bagaimanapun beliau menyayangi Ar selayaknya adik sendiri. Beliau tidak akan membiarkan Ar kenapa-napa."
Brak!!!
Pintu ruangan itu dibuka dengan keras. Benjiro dan Roki tentu saja terkejut. Mereka semakin terkejut melihat siao yang berdiri di sana.
__ADS_1
" Kalian lagi ngegibahin gue ya?"
Ar berdiri dengan tangan bersedekap. Matanya menatap tajam pada kedua asisten sekaligus temannya itu.
" Jangan ge-er bos. Kita lagi ngebahas telepon dari Drake baru saja."
Ar kemudian berjalan mendekat dan duduk di sofa yang berada di ruangannya. Kini ketiganya tengah berbicara mengenai Anderson. Ar langsung meminta Roki untuk menyiapkan anak buahnya. Mereka akan berangkat setelah ini.
" Aku tidak kau tahu, pokoknya jangan sampai Anderson ataupun Rodriguez lolos."
Ar juga langsung menghubungi Jason untuk mengamankan Rodriguez terlebih dahulu. Selain itu Ar juga memberi instruksi kepada orang-orangnya itu untuk bersiap menyambut tamu yang tidak diundang.
Hari ini ia akan siap menghadapi Anderson. Jika bisa ia akan membersihkan orang itu saat ini juga agar tidak lagi membuat kekacauan di masa mendatang.
Di sisi lain Silvya yang sudah menerima berita dari Drake langsung mendatangi markas Wild Eagle. Ia menitipkan Nataya kepada sang mommy. Sebelumnya juga Silvya sudah izin kepada Dika.
Awalnya Dika sedikit berat melepaskan Silvya pergi. Akan tetapi mengingat kesehatan Ar yang tidak terlalu baik, Dik pun mengizinkan Silvya untuk membantu Ar.
" Hati-hati."
Hanya itu yang Dika katakan kepada Silvya. Wanita itu pun mengangguk patuh. Dan, berada di markas Silvya saat ini. Ia tengah berada di depan layar monitor yang menampilkan banyak gambar. Satu per satu Silvya melihat dan memeriksanya hingga ia mengetahui sesuatu hal.
" Ya kau benar Queen. Apakah tidak perlu memberitahu Ian dan Geoff?"
" Tidak perlu. Cukup aku dan Ar saja. Ian biar fokus di perusahaan. Kau tahu sendiri jika dia dibiarkan bermain. Bisa runyam nanti semuanya dan Geoff, biarkan pamanku itu menikmati hidupnya."
Drake mengangguk. Selama Silvya cuti perusahaan LT dijalankan oleh Ian. Dan Geoff, belum lama pria itu mendapatkan tambatan hatinya. Silvya benar-benar tidak ingin Geoff kembali lagi berurusan dengan senjata.
🍀🍀🍀
Di kampus lagi-lagi Elisa tidak menemukan keberadaan Ar. Ia hanya berjumpa Ar tadi pagi saja saat mengenalkan Mia.
" Apa mencari seseorang?"
" Ooh nggak kok kak.Oh iya Kak Mia sudah berapa lama menikah dengan kak Roki?"
__ADS_1
Mia menelan saliva nya dengan susah payah. Pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa ia jawab. Dalam hati ia merutuki bos nya yang membuat skenario sesuka hati. Tapi bagaimanapun ia harus bisa bersikap tenang menghadapi pertanyaan Elisa. Jangan sampai gadis di depannya itu curiga mengenai identitasnya.
" Ooh itu, kami menikah belum lama. Baru setengah tahun ini kok."
Elisa hanya mengangguk. Dia juga tidak mengenal baik Roki. Jadi tidak banyak yang bisa ditanyakan. Sebenarnya ia ingin bertanya mengenai Ar. Mengapa Ar bisa dengan lincah menggunakan senjata padahal dia bukan seorang aparat. Namun pertanyaan itu ia pending saat seseorang memanggil namanya.
" El!"
Gadis itu mendengus pelan. Mia bisa melihat raut wajah tidak suka Elisa. Dan Mia baru ingat. Pria yang tengah berjalan menuju arah mereka adalah pria yang mengejar Elisa. Sebelumnya Mia sudah diberi tahu oleh Ar.
Waah bos, ini bocah ganteng juga. Sepertinya kau kalah saing ini, gumam Mia dalam hati.
" Maaf ada apa ya kak?"
" El, adakah waktu malam ini atau pulang dari kampus. Ada yang ingin aku katakan."
" Maaf kak, aku tidak bisa kau harus membantu bunda di toko. Dan sepertinya jika ada yang ingin kakak katakan bisa disini saja. Tapi maaf juga aku harus segera ke toko membantu bunda."
Dengan sopan El pergi dari hadapan Edzar sambil menarik tangan Mia. Kini Mia tahu bahwa El tidak menyukai Edzar. Terlihat bagaimana El menghindari Edzar dna enggan berbicara panjang kepada pemuda itu.
Wohooo, kau tampaknya menang bos. Gadis kecil ini tidak menyukai pemuda tampan itu.
Lagi-lagi Mia bergumam dalam hati. Ia terlihat mengembangkan senyumnya saat Em tergesa menarik tangannya menjauhi Edzar.
" Eeh maaf kak, apa aku menyakitimu?"
" Tidak El tenang saja. Sepertinya kau tidak suka pada pria itu?"
" Ya begitulah kak. Lagian dia itu kekasih putri salah satu direksi universitas. Aku nggak mau nanti dikatain keganjenan, atau dibilang godain cowok orang. Hiii mulut netijen ngeri-ngeri kak."
Mia terkekeh geli mendengar ucapan Elisa. Ternyata gadis yang bersamanya itu sebenarnya tidak terlalu pendiam. Hanya saja dia lebih tertutup.
Sedangkan Edzar, pemuda itu tentu sangat kesal. Setiap kali ia ingin mendekati Elisa, gadis itu selalu berusaha menghindarinya. Edzar mendengus kesal mana dia tidak memiliki nomor ponsel Elisa jadi dia kesusahan untuk menghubung Elisa.
Olin, entah kemana gadis itu pergi. Edzar sama sekali tidak bisa menghubunginya. Olin seperti ditelan bumi. Jejaknya benar-benar tidak berbekas sama sekali.
__ADS_1
" Kenapa gue begoo banget sih. Kenapa waktu itu gue nggak minta nomor ponsel Elisa dari Olin. Arghhh brengseeek!!!"
TBC