Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 62. Apa??


__ADS_3

Ar sudah berdiri di halaman rumah Elisa. Dengan bersandar di mobilnya, pria bule ganteng itu menunggu sang pujaan hati keluar dari rumah.


El yang buru-buru hendak berangkat ke kampus sedikit syok saat melihat Ar berdiri di sana. Ada rasa senang yang membuncah di hatinya melihat Ar. Pria yang beberapa malam ini mengusik tidurnya, membuat Mia juga ikut gelisah. Tapi El jadi ingat, semalam tiba-tiba Mia pamit untuk pulang. Padahal sebelumnya wanita tersebut masih meringkuk di balik selimut.


Tanpa El tahu, rupanya Mia diminta pulang oleh Ar karena sang bos ingin menjemput gadisnya. Mia tadinya bersungut-sungut dengan ulah bosnya yang seenaknya sendiri. Tapi setelah Ar mengatakan bahwa Roki yang menjemput membuat Mia tidak jadi kesal.


Meskipun di bibir Mia mengatakan kesal kepada Roki, tapi tidak bisa dipungkiri gadis itu juga merindukan Roki.


Kembali kepada Elisa yang masih terkejut dengan adanya Ar di depan rumahnya. Jantungnya memompa lebih keras dari biasanya. El pun menghentikan langkah kakinya untuk menormalkan debaran jantungnya tersebut. Dia berusaha bersikap biasa saja  dengan berjalan santai menghampiri Ar.


" Abang kapan pulang?"


Cup


Bukannya menjawab pertanyaan El, Ar malah mencium pipi gadis itu sekilas. Terang saja jantung yang sebisa mungkin dinormalkan oleh El kembali berpacu. Bahkan wajah gadis itu sudah bersemu merah layaknya udang yang baru saja selesai direbus.


Ar terkekeh geli melihat reaksi Elisa tersebut. Gadis itu masih bengong dengan ulah Ar. 


" Hei jangan melamun. Ntar dapat jodohnya bapak-bapak lho."


" Ya bagus dong dapatnya bapak-bapak. Kalo dapatnya ibu-ibu laaah ngeri."


Kini giliran Ar yang melongo. El yang biasanya apa adanya ketika menjawab sebuah pertanyaan kini bisa mengeluarkan candaan meskipun bagai Ar sangat absurd. Ar pun lalu membukakan pintu mobil menyuruh Elisa untuk masuk.


Keduanya kemudian bersiap berangkat ke kampus. Ar menanyakan ibu Elisa kenapa tidak sekalian ikut berangkat ke toko. Elisa pun menjelaskan bahwa saat ini sang bunda libur karena akan ada acara syukuran di rumah sepupunya. Ar hanya ber-oh ria menanggapi cerita Elisa.


" Apakah selama aku pergi tidak terjadi apa-apa?"


Elisa mengerutkan alisnya saat Ar bertanya hal seperti itu. Pasalnya tidak ada hal apapun yang terjadi selama Ar pergi. Hanya Mia saja yang menginap di rumah, tidak lebih dari itu.


Ar yang mengetahui tatapan tidak mengerti Elisa pun langsung menyambung kembali kata- katanya.


" Maksudku, apakah seniormu itu masih mendekatimu?"


" Edzar?"


Ar langsung melihat ke arah El saat gadis itu mengucapkan nama seniornya itu. Ia sungguh tidak menyukainya. 


" Lha kan bener namanya Edzar."

__ADS_1


Tampaknya El sengaja menggoda Ar saat melihat pria bule itu terlihat tidak suka saat El menyebut nama Edzar. Ar langsung menepikan mobilnya dan melepaskan seat belt yang membelit tubuhnya. Lalu pria itu kemudian memajukan tubuhnya ke arah El dan menghimpit tubuh gadis itu.


" Ayo kita menikah," ucap Ar tiba-tiba. Terang saja El langsung membelalakkan matanya terkejut. Ia menatap mata Ar dengan lekat. Tidak ada kebohongan di sana. Ar sungguh serius dengan ucapannya.


" Tapi aku masih ingin lulus dulu."


Ar langsung lemas saat mendapat jawaban El. Saat ini El baru semester 4 berarti masih butuh 2 tahun lagi untuk Ar bisa menikahi El. 


" Apakah tidak bisa lebih cepat, misalnya tahun depan, sukur-sukur bisa bulan depan."


El tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Ar. Tampaknya pria itu benar-benar tidak sabar ingin menikah. Tapi sungguh El masih ingin lulus dulu, setelah itu barulah dia akan menikah. Pernikahan kedua orang tuanya yang tidak berakhir baik membuat El masih berpikir untuk membina rumah tangga.


" Apa ini penolakan secara halus?"


" Bukan bang, bukan begitu. Sungguh aku ingin lulus dulu."


" Berarti kau menerimaku?"


Mata Ar berbinar saat menanyakan hal tersebut. Jika bukan menolak berarti tentu saja El menerima. 


Wajah El langsung bersemu merah saat mendengar pertanyaan Ar. Ia sedikit mengalihkan wajahnya melihat ke luar jendela. Namun lengan besar Ar lebih dulu menangkup wajah gadis itu. Tanpa ragu Ar mencium bibir El. 


" Cukup. Jika kamu belum ingin menikah dalam waktu dekat ini, mari kita bertunangan lebih dulu. Biar tidak ada laki-laki yang mendekatimu. Bila perlu aku umumkan seantero kampus bahwa kau calon istriku. Daaan, tidak ada penolakan untuk ini."


El mengangguk pasrah. Meskipun belum ada kata cinta yang terucap dari bibir Ar tapi dengan ajakan menikah yang dilontarkan Ar sudah cukup membuktikan bahwa pria itu serius dengan hubungannya.


El sedikit tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Sejak kapan hubungan mereka berkembang menjadi sejauh ini. Hubungan yang beralaskan hutang budi menjadi hubungan dua orang yang ingin menikah. 


" Lalu kapan pertunangan ini akan kita laksanakan?"


" Woaah, kau benar-benar setuju? Baiklah, minggu depan."


" Apa!!!"


🍀🍀🍀


Harold, Fatimah, Silvya dan Dika sedikit heran saat tiba-tiba Ar mengumpulkan mereka malam ini. Fatimah yang bertanya pada putrinya hanya dijawab gelengan kepala.


" Apa kembaranmu itu bikin ulah," tanya Fatimah.

__ADS_1


" No Mom, jika memang benar buat ulah pasti Sisi tahu dan Mas Dika pun juga tahu," jawab Silvya mentab.


Ar tampak ragu-ragu saat ingin berhadapan dengan keluarganya. Padahal biasanya menghadapi orang banyak saja dia biasa saja. Ini Ar tiba-tiba merasa begitu gugup.


" Ehm, sebelumnya selamat malam untuk semuanya," ucap Ar membuka pembicaraan. 


" Woi, mau ngomong apa sih. Ini kamu bukannya mau pidato nyaleg kenapa jadi resmi amat," sahut Silvya tidak sabar.


Oleh Dika, sang istri langsung di genggam tangannya agar lebih sabar. Jika berhadapan keduanya memang seperti Tom and Jerry, tapi tidak ada yang tahu mana yang Tom dan mana yang Jerry. Pokoknya saudara kembar itu sering sekali beradu argumen, meskipun begitu keduanya begitu saling menyayangi.


" Huuuft, Si buset deh. Diam dulu napa. Nervous nih. Mom, Dad, Ar minta tolong lamarkan seorang gadis untuk Ar."


Krik … Krik … Krik …


Bukannya terkejut, tapi keempat orang itu syok. Mereka merasa Ar sedang membuat april mop. Padahal sekarang sudah bulan Mei.


Ar pun menghela nafasnya dengan berat. Sepertinya keluarganya tidak percaya dengan apa yang akan dia lakukan.


" Hei, kenapa wajah kalian begitu tidak percaya. I'm serious. I will marriage a girl. Namanya Elisa, umurnya 20 tahun."


" Ar, apa kau memaksa gadis itu?"


Pertanyaan Silvya sungguh frontal membuat Ar mengacak rambutnya dengan sangat kasar.


" Si, aku tidak seperti itu. Ya Allaah, aku beneran. Kakak ipar perna melihat El, tanya saja sama kakak ipar."


Semua orang langsung mengalihkan pandangannya dari Ar kepada Dika. Dika yang ditatap masih dalam mode off alias belum paham apa yang dikatakan Ar hingga ia mengingat sesuatu.


" Ooh Elisa, gadis yang waktu itu menangis saat kau di rumah sakit."


Ar langsung mengangguk dengan cepat. Paling tidak ada satu orang yang mengerti dan sudah paham dengan wajah Elisa.


" Nah kan, aku tidak bohong. Aku ingin menikahinya tapi dia maunya setelah lulus kuliah. Tapi kita sepakat untuk bertunangan dulu. Nah aku mau lamaran nya sekaligus tunangan," jelas Ar panjang lebar.


" Kapan acaranya?" tanya Fatimah.


" Minggu depan!"


" Apa??"

__ADS_1


TBC


__ADS_2