Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 17. Seperti Roller Coaster


__ADS_3

Edzar yang diusir oleh Elisa sungguh merasa kesal. Ia melempar sebuket bunga mawar itu ke tong sampah dapur apartemennya.


“ Sial, dia bahkan sama sekali tidak menyuruhku untuk duduk. Brengsek.”


Edzar mengambil botol air mineral dari dalam kulkas dan menenggaknya sekaligus. Ia butuh air dingin untuk mendinginkan hatinya yang begitu panas karena ulah Elisa.


“ Apa cara yang harus aku lakukan untuk bisa mendekati kamu El?”


Edzar mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia kembali mengingat sikap dingin Elisa saat ia berkunjung ke toko bunga.


“ Oh kak, mau beli bunga apa?”


“ Aku minta se buket mawar campur ya El.”


Gadis itu mengangguk dan mulai menyusun bunga sesuai permintaan Edzar. Tanpa ada sedikit kata pun yang keluar dari bibir gadis cantik itu. Edzar yang berusaha mengajak bicara pun hanya dijawab ya atau tidak. Akhirnya Edzar memilih diam karena tidak tahu lagi apa yang harus ia bicarakan. 


" Ini kak, silahkan bayar di kasir ya."


Setelah menyerahkan pesanan Edzar, El berlalu. Kebetulan ada pembeli lain sehingga El langsung menghampiri pembeli tersebut.


Edzar mendengus pelan. Setelah membayar, Edzar mencoba untuk mengajak berbicara El kembali. Namun lagi-lagi ditolak oleh El dengan alasan toko sedang ramai. Sebenarnya itu bukan hanya sekedar alasan kosong tak berisi. Pada waktu itu memang toko bunga milik El sedang ramai. Banyak orang keluar masuk membeli bunga. Bahkan sore itu El dan Jasmine tampak kewalahan melayani pembeli.


Edzar yang duduk di balkon apartemennya berusaha memutar otaknya. Hingga ia menemukan sebuah jalan.


" Olin, mengapa aku bodoh sekali. Bukannya Olin adalah sahabat El. Aku akan meminta bantuannya untuk membuat aku dan El kembali dekat. Ya Olin adalah satu-satu nya cara saat ini."


Edzar tersenyum lebar, namun senyumnya itu berubah masam saat melihat sebuah nama tengah memanggilnya melalui ponsel yang ia pegang.


" Ada apa sayang?" ucap Edzar begitu manis. Sungguh sangat jauh berbeda dengan raut wajah nya yang asli. 


" Sayang, besok papa minta kamu ke rumah. Kata papa ada yang mau dibicarakan."

__ADS_1


" Ooh begitu, oke. Sampaikan ke papa aku akan datang."


Tuuut


Edzar mematikan ponselnya setelah berbicara kepada Amber. Ekspresi wajahnya terlihat sangat marah kali ini ia menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya.


" Kita lihat saja nanti. Lambat laun kau akan memanen apa yang telah kau tanam pak tua. Aku akan membuat perhitungan melalui putrimu itu."


Edzar bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar. Ia mendudukkan  tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya menjulur ke nakas dan membukanya.  Diambilnya sebuah bingkai foto yang menampilkan sebuah keluarga lengkap di sana.


Sebuah foto keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Seorang anak berusia 15 tahun yang tersenyum penuh kegembiraan. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Ya anak itu adalah Edzar, itu adalah senyum bahagia yang terakhir kalinya sebelum kehidupan keluarganya berubah. Senyum bahagia dimana keluarganya belum hancur.


" Aku akan membalas orang yang sudah menghancurkan keluargaku dengan balasan yang setimpal tentunya."


Edzar memeluk foto tersebut lalu menaruhnya kembali ke dalam nakas. Pria berusia 22 tahun itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya. Ia benar-benar merasa sesak saat ini. Berkali-kali ia mengatur nafasnya agar bisa sedikit merasa tenang.


Lain Edzar lain pula Elisa. Gadis itu bersama bundanya kini tengah menyelonjorkan kakinya. Keduanya terlihat sangat lelah setelah selesai melayani pembeli. Bahkan Jasmine sengaja menutup toko bunganya lebih awal.


" Ini tumbenan banget ya bund, banyak yang beli. Apa mereka lagi barengan ngasih hadiah bunga kali ya kok bisa seramai ini toko kita bund."


" Entah lah El, bunda juga tidak tahu. Tapi disyukuri saja ini bagian dari rezeki yang Allaah berikan kepada kita."


El mengangguk, ia pun mengucapkan hamdalah berkali-kali atas apa yang mereka dapat tadi. Mungkin mereka besok harus menutup toko dulu karena stok bunga di toko sangat menipis.


Jasmine bahkan langsung menelpon penyetok  agar dikirimkan bunga-bunga yang sudah dia list sebelumnya.


Tok tok tok


Terdengar pintu toko di ketuk. Ibu dan anak itu saling pandang. Bukankah sudah ada tulisan tutup/close di pintu, mengapa masih ada yang ingin membeli bunga? Itulah yang ada dalam pikiran Jasmine dan Elisa.


Keduanya pun bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan ke depan untuk membukakan pintu.

__ADS_1


" Maaf kami sudah tu~"


Kalimat Jasmine menggantung saat melihat pria yang paling dibencinya berdiri di depan pintu itu. Jasmine buru-buru menarik Elisa agar berdiri di belakangnya. Bukan hanya Jasmine yang terkejut tetapi Elisa juga. Elisa hanya bisa bergerak patuh mengikuti arahan tangan sang bunda.


" Mau apa kamu?"


" Tidak mau apa-apa aku hanya akan memberikan ini. Besok kau tidak boleh lagi membuka toko bunga ini karena ini adalah milikku."


Mata jasmine membulat sempurna. Baskoro memberikan sebuah berkas dan buru-buru Jasmine buka. Wanita paruh baya itu sungguh terkejut bukan main. Disana tertulis perjanjian jual beli pemilik gedung yang ia tempati saat ini dengan Baskoro, mantan suaminya.


Ya, gedung atau ruko yang ia tempati ini adalah sewa. Dia menyewa untuk setahun kedepannya dan sudah berjalan sekitar 7 bulan. Jadi masih ada 5 bulan lagi sebenarnya masa ia menempati ruko tersebut.


" Aku masih berhak menempati ruko ini selama 5 bulan ke depan."


" Sekarang aku pemiliknya jadi terserah aku mau seperti apa. Ooh begini saja, jika kau masih ingin berjualan di sini maka kamu harus menambah uang sewanya sebanyak 50 juta bagaimana? Jika kau tidak mau maka besok pagi ruko ini harus segera dikosongkan. Silahkan ku beri waktu semalam untuk berpikir. El, sebaiknya kau pulang ke rumah ayah. Kau akan sengsara jika bersama bunda mu."


" Jangan harap!"


Baskoro membalikkan badannya dan menaikkan kedua bahunya tanda dia acuh kepada nasib anak dan mantan istrinya itu. Sedangkan Jasmine, tubuhnya sudah merosot ke lantai. Ia menangis tergugu di sana.


" Astagfirullah. Ya Allaah, cobaan apalagi yang kau berikan kepada kami."


" Dasar pria brengsek. Lihat saja aku akan lambat laun menghancurkan mu."


El sungguh marah dengan perlakuan ayahnya itu. Sungguh dalam hatinya El begitu ingin memukul wajah Baskoro. Namun saat ini bukanlah itu yang penting. Hal yang paling penting adalah mencari jalan keluar untuk masalah toko.


" Bund, sekarang bagaimana? Apakah kita benar-benar akan memberi pria brengsek itu 50 juta?"


" El tidak boleh mengatai ayahmu begitu. Biarkan dia berlaku sesukanya. Kita jangan menjadi seperti dia. Bunda Tidak akan memberinya uang sebanyak itu, lagian bunda tidak punya. Sudah cukup kita menyusahkan Om Yudi dan Hasna. Lebih baik kita pindah. Kita cari tempat lain untuk menyewa. Sementara ini barang-barang yang ada di sini kita bawa ke rumah."


El mengangguk mengerti. Hari ini apa yang terjadi benar-benar seperti roller coaster. Belum lama mereka merasa senang karena sesuatu hal, dan kini mereka menangis sedih karena suatu hal pula.

__ADS_1


TBC


__ADS_2