Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 50. Menjauh Sesaat


__ADS_3

Tampakya musuh kali ini tidak sesederhana yang Ar pikirkan . Rogno Velenoso merupakan Klan Mafia yang lumayan besar dan kuat yang berasal dari negeri pizza.


Ar sepertinya harus mengambil sebuah keputusan yang berat. Ia sementara ini akan sedikit menjauhi El. dia tidak ingin El menjadi alat Rogno Velenoso saat pemimpinnya yang bernama Malvis Bonaventura itu tahu bahwa El dekat dengan Ar.


Sebelumnya Ar sudah membicarakan hal tersebut dengan Mia dan Yoyok. mereka berdua akan tetap mendampingi El. Ar akan menggunakan alasan pergi ke kota P untuk menyelesaikan urusan perkebunan sawit yang ada di sana. Ar tentu tidak ingin terjadi apa-apa terhadap wanita yang dicintainya itu. 


Dia juga akan mengajukan cuti ke universitas Nusantara guna meyakinkan Elisa mengenai urusannya. Berada di taman kini mereka berada. Ar tengah menemui Elisa untuk mengatakan alasannya itu. Ia berharap El bisa memahami nya. Meskipun belum meluncur kalimat suka atau cinta dari bibir El kepada dirinya, tapi Ar yakin gadis itu juga memiliki rasa yang sama kepadanya.


“ El?”


“ Ya bang.”


“ Sepertinya abang sementara ini harus kembali ke kota P. Disana banyak masalah mengenai perkebunan yang tidak bisa ditangani oleh Roki maupun Bruno asisten abang sendiri. Jadi abang harus ke sana dan kita mungkin tidak akan bertemu untuk beberapa saat."


“ Ooh, Oke.”


Mulut Ar menganga sempurna saat mendengar jawaban singkat, padat, dan jelas dari Elisa. Gadis itu seakan tidak ada rasa tidak rela. Ar bahkan sampai menatap wajah El dengan intens. Ia berusaha mencari kepura-puraan disana. Tapi tidak ada, Elisa benar-benar mengatakan hal tersebut dari dalam hatinya.


Kampret, ni cewek anyep bener dah ah. Pusing aing jadinya mau bersikap kek gimana biar doi peduli sedikit. Doi peduli kalau gue lagi terluka doang.


Ar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh dia langsung kehilangan kata dengan sikap dingin dan datar Elisa tersebut. Berhubungan dengan gadis itu selama ini rupanya belum bisa meluluhkan sikap dingin Elisa. Ar pun kembali bergumam dalam hatinya, bagaimana membuat gadis itu sedikit lebih warm agar ke cool-annya bis sedikit berkurang.


" Jadi kapan abang berangkat?"


Double kill, Ar serasa mati dua kali saat ini. Ia pun membuang nafasnya kasar. Ia sungguh tidak bisa berbuat apa-apa sekarang terhadap gadis itu. Ar pun mengatakan ia akan berangkat malam ini juga. Elisa mengangguk, ia kemudian mengatakan agar Ar hati-hati.


Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya Elisa rasakan. Gadis itu sebenarnya tidak rela juga Ar pergi dengan waktu yang lama. Tapi dia benar-benar bisa menyembunyikan perasaan hatinya. Terbiasa memendam rasa membuat El dengan mudahnya menampilkan mimik wajah biasa saja didepan semua orang padahal hatinya tidak seperti itu.


El kembali ke toko bunga sang bunda dengan diantar oleh Ar. Tapi karena Ar akan bersiap maka pria itu tidak ikut turun.

__ADS_1


El pun masuk ke toko dengan lemas tidak bersemangat. Jasmine yang melihat sang putri tampak lesu pun bertanya tentang apa yang tengah terjadi.


" Bang Ar mau ke kota P."


" Lalu?"


" Ya tidak lalu-lalu. Udah gitu aja."


Jasmine tersenyum simpul melihat kelakuan sang putri. Tampaknya putrinya itu benar-benar jatuh cinta kepada pria bule tersebut.


" Apa El menyukai Ar?"


Elisa seketika langsung menatap wajah bundanya. Ia sedikit heran mengapa bunda nya bisa berbicara seperti itu.


" Apa bund, nggak lah. El cuma, cuma."


" Cuma cinta?"


Wajah El bersemu merah saat Jasmine dengan jelas mengatakan hal tersebut. Bagaimana mungkin dia menyukai Ar, atau bahkan mencintainya. Mereka belum lama bertemu dan pertemuannya juga karena El harus membayar hutang budi yang sudah Ar berikan kepadanya.


Mana mungkin aku menyukainya, atau cinta. Waaah yang benar saja. Dia pasti besar kepala saat tahu nanti. Tapi apakah aku benar-benar mencintainya?


🍀🍀🍀


Ar bergegas kembali ke rumah sakit. Operasi yang dilakukan Dika untuk Dean sukses. Ia pun merasa tenang. Ar masih penasaran ada urusan pribadi apa yang membuat Dean berada di negara ini dan bahkan tanpa pengamanan sama sekali. Sekelas Dean membiarkan dirinya pergi sendiri tanpa pengawalan sungguh sesuatu yang janggal.


Dean masih terbaring di ruang ICU. Dia belum juga sadar, mungkin karena masih di bawah pengaruh anestesi. Ar diperbolehkan masuk oleh Dika. Ia duduk di sebelah brankar Dean.


“ Apa yang kau lakukan disini Dean. Apa yang kau cari sebenarnya. Mengapa sepertinya kau sangat berambisi dengan negara ini.

__ADS_1


“ Kak … kak … ma-af.”


Dean mengigau, Ar yang mendengar suara samar Dean langsung memanggil Dika. Dika pun segera datang dan memeriksa Dean. Ia pun bernafas lega saat memeriksa bahwa semuanya normal.


“ Bagus Ar, dia sudah baik-baik saja sekarang. Nanti akan aku pindahkan ke ruang perawatan.”


“ Baik kak, Oh iya aku akan meminta izinmu. Seperti dulu, aku akan menampilkan beberapa penjaga untuk Dean. Tempatkan saja Dean di lantai 17 akan mudah mengawasinya. Untuk biaya kakak ipar jangan khawatir.”


“ Baik, aku akan mengurusnya.”


Ar bernafas lega, paling tidak Dean akan aman di rumah sakit tentunya dengan pengawasan orang-orang nya. Lagi-lagi Rex kagum dengan semua yang Ar lakukan. Bahkan Ar tidak melakukan perhitungan sama sekali tentang kejadian Olinda. Padahal Olin sudah banyak membuat kekacauan.


" Terimakasih Tuan Ar untuk semua bantuan Anda."


" Jangan sungkan, kalian terluka di wilayahku maka kalian menjadi bagian dari tanggung jawabku."


Rex benar-benar berhutang nyawa kepada Ar. Entah apa yang terjadi jika Ar tidak menolong Dean. Ar pun menghubungi orang di negaranya untuk mengirim beberapa orang ke sini. Tentunya itu sudah atas izin Ar. Mereka perlu berhati-hati dalam sekarang dan mempersiapkan semuanya dengan baik. Rex tidak ingin mengulang kejadian ini lagi. Ia tidak mau kebobolan.


Di sisi lain Malvis tersenyum lebar saat bisa melukai saingan terberatnya itu. Ya Dean Benicio adalah ornag yang ditargetkan Malvis. Dean membuat Malvis iri dengan keberhasilan kartel Magna Arbor yang bisa menguasai perdagangan obat-obatan terlarang di benua biru. Ia yang merasa bahwa itu adalah wilayah kekuasaannya tentu saja tidak terima.


Malvis pun mencoba mencari cara untuk melakukan join dengan Dean. Alan tetapi Dean tidak mau. Dean yang anti terhadap perdagangan manusia atau human trafficking tentu saja menolak mentah-mentah keinginan Malvis.


Mulai saat itu Malvis membenci Dean. Bahkan ia berkali-kali mencoba mencoba membunuh Dean tapi pria latin itu selalu lolos.


Saat ia mengetahui bahwa Dean ada di negara ini tentu merupakan sebuah kesempatan bagus untuknya. Malvis yakin Dean tidak memiliki penjagaan ketat di negara ini. Dan terbukti ia bisa menyentuh Dean dengan mudah.


" Hahahah, aku yakin dia akan masuk kuburan tidak lama lagi.".


Malvis tertawa puas saat mengetahui mobil Dean yang ringsek waktu anak buahnya mencelakai pria tersebut.

__ADS_1


TBC


__ADS_2