
Olin sangat terkejut saat melihat sang kakak sudah berada di markas miliknya. Gadis itu kemudian berlari lalu memeluk sang kakak.
" Mengapa tidak mengabari dulu?"
" Sengaja, aku ingin mengejutkan adikku."
Olin begitu senang melihat Dean datang mengunjunginya. Sudah setahun lebih semenjak ia menginjakkan kaki di tanah air, baru kali ini sang kakak menemuinya. Ia tahu, Dean bukannya tidak mau datang tapi pasti sang kakak banyak hal yang harus dilakukan.
" Apakah semuanya di sini aman?"
" Tentu saja, kakak tidak perlu khawatir. Sini aku kasih lihat sesuatu kepada Kak Dean."
Olin menarik tangan Dean ke meja kerjanya. Gadis itu kemudian membuka laptop dan memperlihatkan sebuah laporan keuangan selama ia melakukan bisnis tersebut.
Dean tersenyum, ia kemudian mengacak rambut adik perempuannya itu. Akan tetapi Olin merasa Dean tidak puas dengan apa yang ia perlihatkan. Sepertinya pikiran sang kakak sedang tidak ada di sana.
" Kak!"
" Hmmmm?"
" Apa yang tengah kakak pikirkan?"
" Oh tidak ada."
Dean kemudian membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Olin. Ia mencari tempat untuk merebahkan badan. Sebenarnya bukan itu tujuannya, pria berusia 28 tahun itu hanya tidak ingin ditanya macam-macam oleh sang adik.
Namun, rupanya rasa penasaran Olin belum juga hilang. Ia pun mengekor Dean berusaha mencari tahu apa yang kakaknya itu pikirkan.
" Kak, aku tahu kau sedang gelisah. Bercerita lah padaku."
" Tck, bocah kecil tahu apa. Sudah sana aku mau tiduran."
__ADS_1
Tak ingin menyerah Olin kini berdiri tepat di depan sang kakak. Ia menatap lekat mata Dean, dan Olin tahu apa yang kakaknya itu pikirkan.
" Huft, apakah tentang wanita itu lagi. Kak dia sudah meninggal. Meskipun aku belum pernah melihat wajahnya, tapi untuk apa kakak selalu mengingat orang yang sudah tidak ada lagi."
" Ya, kau benar. Untuk apa kakak memikirkan orang yang sudah meninggal."
Olin tersenyum lalu menepuk bahu kakaknya itu. Setelah memberikan nasehat agar kakaknya segera move on, Olin pun meninggalkan Dean di sebuah kamar yang ada di markas.
Pria berwajah latin itu merebahkan tubuhnya. Matanya menatap ke langit-langit dengan tangan berada di kening. Dean mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuang nya kasar. Ia kembali mengingat wajah gadis di toko bunga yang tidak lain adalah Elisa.
Ingatan Dean kembali ke beberapa tahun silam. Saat itu usianya masih 23 tahun. Seorang gadis penjual bunga datang menghampirinya dan menawarkan dagangannya. Awalnya Dean menolak. Namun gadis itu sungguh gigih menawarkan hingga Dean dengan terpaksa membelinya. Gadis itu sungguh bahagia, ia berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada Dean. Bahkan gadis itu juga selalu mengucapkan kata syukur setelah menerima uang hasil menjual bunganya.
Adrina Hortensia adalah nama gadis itu. Semenjak itu Dean selalu menemui Adrina untuk membeli bunganya. Lambat laun Dean menaruh hati pada Adrina. Namun ternyata rasa hati Dean tidak terbalas. Gadis itu sudah punya tunangan. Singkat cerita Adrina menikah, akan tetapi nasib buruk menimpa si gadis. Adrina meninggal setelah prosesi pernikahannya. Gadis itu terkena peluru dari salah satu tamu. Ternyata tamu itu adalah musuh pria yang jadi suaminya. Dengan mata kepalanya sendiri, Dean melihat tubuh Adrina sengaja dijadikan tameng oleh si pria.
Dean sungguh marah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena waktu itu Dean belum menjadi seperti yang sekarang.
Dan sekarang, Dean kembali diingatkan kembali kepada Adrina setelah melihat Elisa. El memiliki wajah yang mirip dengan Adrina. Meski jika dilihat dengan seksama tentu keduanya sangat berbeda. Akan tetapi saat melihat El memberinya bunga lili, Dean benar-benar Adrina lah yang berada di depannya.
Dean menjadi sedikit penasaran dengan Elisa. Dalam benaknya ia ingin kembali menemui El lagi. Tapi tidak sekarang. Ada hal yang harus ia lakukan terlebih dulu.
*
*
*
Tiga hari berlalu, Ar sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama tiga hari itu Ar hanya menghubungi Elisa sekali yakni di hari pertama dia dirawat. Itu pun dengan alasan dia ada urusan ke luar kota. Ar tidak ingin membuat gadis itu merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan.
“ Ingat, jangan makan yang pedes dulu untuk beberapa hari kedepannya.”
“ Iyee kakak ipar. Kakak ipar lama-lama bawel kayak Sisi deh."
__ADS_1
Dika acuh dengan selorohan Ar. Dokter itu benar-benar memastikan bahwa saudara kembar sang istri itu baik-baik saja. Bahkan Dika meminta Roki untuk mengawasi Ar yang harus meminum obatnya rutin hingga seminggu kedepannya.
Roki tentu saja senang. Hal ini merupakan bagian dimana Ar tidak bisa menolak. Bagaimanapun Ar akan dipantau oleh Dika demi kesehatannya.
Sebenarnya usus Ar memang sedikit bermasalah. Ditambah ginjal Ar yang sudah tidak sehat karen efek minuman keras yang dulu ia konsumsi. Beruntung Ar sudah tidak lagi menyentuh minuman laknat itu selama setahunan ini. Akan tetapi Ar benar-benar harus ke pola hidup sehat agar organ dalam tubuhnya sehat.
Dika pun mengultimatum Ar untuk tidak makan makanan pedas untuk beberapa waktu ini. Ditambah ia harus mengonsumsi makanan yang halus dulu.
“ Hahaha kembali ke setelan bayi ye bos.”
“ Sialan kau Rok, awas aje ye. Gue bakal bikin lo ikutan makan juga apa yang gue makan. Kalau lo nggak mau, jangan harap gaji lo cair sampai akhir tahun."
Glek, Roki menelan saliva nya dengan susah payah. Rupanya ia sudah salah bicara. Sedangkan Dika hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan bos dan asistennya itu. DIka benar-benar merasa Ar semakin kesini semakin banyak berubah. Tidak seperti saat pertama mereka bertemu.
Setahun yang lalu atau lebih mungkin saat Dika bertemu Ar, pria itu benar-benar menampilkan seorang mafia yang kejam. Sebenarnya tidak jauh beda dengan sang istri. Dika melihat sendiri bagaimana Silvya menghabisi musuh-musuhnya tanpa ampun. Pun dengan Ar. Bahkan keduanya bahkan seakan tidak merasakan sakit saat terkena timah panas.
“ Sudah cukup berdebat nya. Ar ingat peringatanku dan kau Roki kau juga harus ingat apa yang aku pesankan padamu. Administrasi sudah aku bereskan, jadi pulang dan istirahat.”
Ar dan Roki kompak mengangguk. Ar sungguh berterima kasih karena tidak melaporkan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya dan saudara kembarnya. Roki pun membawa tuannya kembali ke apartemen. Ikut bersama dengan Black Wolf sedari kecil tentu Roki terbiasa dengan hal yang namanya memasak. Ia pun kemudian membuat makanan sesuai instruksi dr. Dika yakni bubur.
Ar membuang nafasnya kasar. Ia benar-benar harus mengonsumsi makanan itu untuk sementara waktu.
“ Oh no, bagaimana nasib samyang ku dan pasta cabe ku.”
Roki hanya terkekeh pelan. Ia tentu tahu betapa gilanya Ar dengan makanan pedas. Tapi tampaknya sang bos kali ini harus benar-benar menahan keinginannya itu.
Tring
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Ar. Ia segera membukanya. Jujur Ar sedikit terkejut mendapat pesan tersebut.
“ Rupanya ada yang sedang main-main denganku. Sepertinya mereka lupa bahwa di sini masih ada Black Wolf. Baru beberapa saat Wild Eagle pensiun, para curut ini seakan tidak sabar untuk keluar mencari mangsanya. Mari kita lihat sampai dimana kalian bisa mencari makanan, atau kalian akan habis aku buru.”
__ADS_1
TBC