Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 61. Misi Lain


__ADS_3

Malvis yang berada di ruang bawah tanah milik Jason kini tengah mengerangg marah. Ia ingin sekali bisa meledakkan tempat itu. Sungguh pria itu tidak sadar jika saat ini ia sedang bergantung pada serum obat milik Jason. Malvis memang tidak lagi merasa sakit di area pribadinya, tanpa ia tahu itu hanya sesaat efeknya.


Tapi rupanya hilangnya rasa sakit yang sesaat itu membuat Malvis kembali berulah. Jiwa bossy nya meraung-raung. Bahkan ia saat ini sudah berteriak memaki. Dia sungguh tidak ingat saat memohon dengan wajah yang memelas.


" Brengsekk, bisa tidak kalian melepaskan mu. Awas saja jika aku berhasil keluar dari sini, aku akan membunuh kalian semua. Bastardo!! Ella, aku akan menghabisi mu di ranjang jika aku berhasil keluar dari tempat menjijikkan ini. Arghhh!!!"


Malvis berteriak gila. Suaranya benar-benar memekakkan gendang telinga. Jas, Jan, Ar dan juga Dean berjalan memasuki ruang bawah tanah tersebut. Lagi dan lagi Dean takjub dengan apa yang ia lihat.  Ia tidak menyangka Ar memiliki anak buah yang benar-benar ahli. Namun sesaat kemudian Dean merasa ngeri melihat orang-orang yang dibiarkan terkapar menikmati racun yang disuntikkan ke dalam tubuh mereka oleh Jason.


" Gila, ini benar-benar gila. Bagaimana seseorang bisa menciptakan racun dan obat secara bersamaan seperti ini. Benar-benar jenius.


Dean bergumam takjub dengan setiap apa yang dia lihat. Ar mengajak Dean duduk di sebuah kursi sofa di sana. Tentu saja Dean tidak tahu mengapa harus ikut bersama mereka. Jika ditelaah  bukankah ini rahasia klan mafia Black Wolf, tapi mengapa Ar membiarkan orang lain bahkan klan mafia lain mengetahuinya.


" Ar, sebenarnya apa yang~"


" Diam, dan lihat saja apa yang akan dilakukan dua orang adik kakak tersebut."


Dean menuruti apa yang dikatakan oleh Ar. ia pun memperhatikan Jason dan Janella. Ar yakin Jan sama gilanya dengan Jason. Mereka pasti akan membuat gebrakan besar jika bersatu.


“ Hai sayang.”


Jan masuk ke rungan yang ada Malvis di dalamnya. Ruangan jika dari dalam tidak terlihat ke luar tapi dari luar bisa melihat ke dalam. Mata Dean memicing, ia sedikit was-was melihat Jan menemui Malvis.


“ Waaah, berani kau mendatangiku. Apa kau masih penasaran dengan rasa juniorku hmm.”

__ADS_1


Malvis merangsek maju mendekati Jan. hasratnya kembali muncul. Pria itu sungguh lupa bahwa saat ini junior miliknya itu bentuknya sudah sangat tidak memungkinkan untuk bermain.


Junior milik Malvis membesar beberapa kali lipat dari bentuk aslinya. Tapi karena efek obat penenang sementara yang Jason berikan membuat dia tidak merasakan perbedaanya.


Dalam obat yang diberikan jason memang ada senyawa yang membuat seseorang mengalami halusinasi. hal inilah yang saat sekarang dirasakan Malvis. Dengan bertelanjangg tanpa selembar benang pun ditubuhnya tapi Malvis tidak menyadari hal tersebut. Alat kelamiinnya yang sudah membengkak pun Malvis tidak menyadarinya.


Yang Malvis rasakan saat ini adalah dia masih sehat bugar seperti sebelumnya dan siap menerkam Jan. Dalam pikirannya ia akan bermain sepuasnya hingga wanita yang saat ini berada di depannya akan kelelahan.


Janella tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak menghindar saat Malvis menyentuh wajahnya. Jan kemudian mengeluarkan kembali sebuah kapsul yang berisi jel dan menuangkan ditangannya. Kali ini Janella menggunakan sarung tangan. Ia tidak mungkin mengorbankan tangannya. Karena efek jel tersebut juga bisa melukai telapak tangannya. Tadi saja saat di kapal Jan langsung diberi obat oleh Jason. 


Malvis tersenyum saat Janella menyentuh aset pribadinya. Dean yang melihat dari luar ingin protes. Entah mengapa ia merasa tidak rela dengan apa yang dilakukan Janella terhadap Malvis.


Jan langsung menggerakkan tangannya dengan melakukan gerakan pijatan kecil pada junior milik Malvis. Pria itu merem melek menikmati sentuhan tangan Jan. Api sesaat kemudian ia meringis kesakitan saat miliknya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Malvis bahkan sampai terjatuh ke lantai merasakan sakit yang luar biasa di bagian juniornya tersebut. Rasa tertusuk itu berubah menjadi nyeri. bahkan ujung junior Malvis mengeluarkan darah membuat pria itu berteriak histeris.


Janella berjongkok ia menjambak rambut Malvis dan menatap Malvis dengan tatapan tajam dan dingin. Sambil tersenyum sinis JAn berkata, “ Itu ada balasan untuk mu atas apa yang kau lakukan pada sahabatku. Leana atau aku memanggilnya Lea. Aku sudah memperlakukan gadis baik itu dengan sangat keji. Gadis polos yatim piatu yang mempunyai cita-cita tinggi itu kau jebak dan kau buat dia meninggal dengan mengenaskan. tapi tenang aku tidak akan langsung membunuhmu. Aku ingin kau merasakan dulu betapa nikmatnya rasa sakit itu.”


Mata Malvis membelalak sempurna saat mendengar setiap ucapan dari Janella. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Jan adalah teman Lea. Ia sama sekali tidak mengenalnya. Namun bukannya menyesali perbuatannya, Malvis malah tertawa dan memaki. bahkan dia menyalahkan Lea yang sangat bodoh bisa tertipu oleh dirinya.


Janella menggertakkan gigi-giginya. ia mengepalkan tangannya dan bersiap menginjak junior Malvis. Tapi sebuah tubuh besar memeluknya dari belakang mencegah Janella melakukan itu.


“ Cukup, kau bisa langsung membunuhnya. Jika kau ingin menikmati kesengsaraan nya maka jangan kau lakukan itu. Sayang jika pria semacam itu langsung mati.”


Tubuh Jan melemah di pelukan Dean. Ya, Dean yang merasa tidak bisa berlama-lama melihat Jan di sebuah ruangan dengan pria telanjaang pun menyusul Jan. Niat hati ingin membawa Jan keluar namun saat ia masuk ke ruangan tersebut Jan dalam mode marah.

__ADS_1


" Aku akan melepaskan mu sekarang, nikmati setiap rasa sakit yang kau dapatkan. Aku benar-benar akan jadi neraka duniamu."


Dean membawa Jan keluar membiarkan Malvis meronta, berteriak memaki dan meringis kesakitan.


Sampai di luar ruangan Jan menjatuhkan tubuhnya. Dia pingsan. Dean langsung membawa Jan keluar, ia sungguh panik. Padahal Jason yang kakaknya saja tidak bereaksi apa-apa.


" Kenapa dia begitu, apa dia lupa di sini ada dokter?"


" Hahaha sepertinya kau akan lebih cepat mengantarkan adikmu ke altar Jas. Baiklah selamat mengurusi pria yang bentar lagi bucin terhadap adikmu. Aku akan akan melanjutkan misi yang lain."


" Misi apa?"


" Misi meluluhkan calon istri."


Ar tertawa terbahak-bahak sambil melenggang ke luar dari rumah sakit Jason. Pria itu terlihat begitu bahagia.


" Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu Ar. Selalu."


Jason kemudian menyusul Dean dan Janella dengan sedikit berlari. Kepalanya menggeleng pelan saat melihat Dean berteriak mencari dokter.


"Astaga, benar-benar. Rupanya ketua klan mafia juga bisa bodoh begitu. Ya Tuhan, apa yang harus kau lakukan kepada ketua mafia satu ini. Menghadapi Ar kadang sudah membuat kepalaku pusing dan ini ditambah lagi harus menghadapi Dean. Semoga aku memiliki serum untuk menambah stok sabar ku."


TBC

__ADS_1


 


__ADS_2