
Dean yang sudah beada dikota J tengah berjalan-jalan. Ia mencari Jasmine Florist. Ya, ia masih penasaran dengan Elisa yang memiliki kemiripan wajah dengan Andrina. Dean tentu saja tidak bernaggapan bahwa mereka adalah orang yang sama. Perbedaan usia keduanya sangata jauh. Jika Andrina masih hidup, berarti saat ini usainya sekitar 26 tahun.
Kedua sudut bibir Dean membuat sebuah lengkungan. Ia tersenyum lebar saat menemukan toko bunga milik gadis itu. Dean pun kemudian memarkirkan mobilnya lalu bergegas turun. Dean berkjalan dengan begitu bersemangat. Akn tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia melihat seseoang disana.
Dean melihat Pria yang selama ini ingin segera ia sandingkan dengan sang kakak di pemakaman.
“ Apa hubungannya pria baajingan itu degan Elisa?’
Satu pertanyaan keluar daribmulut Dean. Ia kemduian mencoba melihat dengan seksama dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang sedang tiga orang itu bicarakan di dalam. Namun tampaknya itu bukan pembicaraan yang baik. Elisa terlihat tengah melindungi wanita yang menggunakan hijab lebar di belakang tubuhnya sedangkan pria bajingan itu berusaha meraih wanita berhijab lebar itu.
“ Kemari kau jalaang, aku sungguh ingin membuatmu menderita!”
“ Lepaskan tangan kotor mu dari bunda ku. Dasar pria bejat tidak tahu diri. Aku sungguh menyesal dilahirkan dari benih mu itu. Jika kau boleh meminta kepada Tuhan aku tidak ingin sekalpun mau menerima bahwa kau adalah ayahku.”
Dean tentu saja sangat terkejut mendengar setiap kata yang keluar dari bibir mungil Elisa. Ia benar-benar tidak salah dengat. Pria bajingan itu adalah ayah dari Elisa. Berarti selama ini kakaknya merupakan ibu tiri Elisa yang mungkin gadis itu tidak tahu. Tapi sepertinya hubungan mereka tidak la baik. Dean masih melihat dengan seksama. Mecoba mempelajari peristiwa yang terjadi di dalam toko itu.
Akan tetapi sepertinya Baskoro sudah semakin brutal. Ia bahkan mencoba menyakiti Elisa. Dengan cepat Dean berlari dan menangkap tangan Baskoro sebelum berhasil mengenai wajah elisa.
“ Sebaiknya Anda tidak melakukan hal itu tuan Baskoro yang terhormat.”
Baskoro tentu terkejut, begitu juga dengan Elisa. Bagaimana bisa pria itu tiba-tiba muncul dihadapannya. Padahal ia tadi tidak melihat ada orang sama sekali.
“ Heh bule sialan, jangan ikut campur dengan urusan keluargaku. dan bagaimana kau tahu namaku.”
“ Tidak penting bagaimana saya tahu nama Anda. Dan keluarga? Sepertinya Anda tidak pantas disebut sebagai keluarga.”
Kata-kata Dean mengingatkan pria paruh baya itu kepada bule tempo hari yang juga membela Alisa.
“ Tck, kau sungguh berhasil mendidik putrimu sebagai jalaang. Rupanya banyak pria yang telah putrimu dapatkan.”
__ADS_1
Plaaak
Sebuah tamparan melayang di pipi baskoro. Jasmine lah yang melakukan itu. Ia sungguh tidak tahan dengan kelakuan Baskoro yang lebih menyerupai iblis ketimbang manusia.
“ Jaga mulut mu. Jangan sekalipun kau menghina putriku. Sebaiknya kau urus saja wanita-wanita jalangg mu itu. Kau lah yang lebih tepat dipanggil jalaang. Dasar pria sampah.”
Jasmine sangat puas bisa meluapkan apa yang ada di hatinya. Jika selama ini ia hanya diam dan tidak ingin berbicara, kini dia benar-benar mencurahkan semuanya bahkan Baskoro sampai kehilangan kata-kata.
" Akan aku lepaskan kalian kali ini. Tapi aku berjanji akan kembali lagi untuk membuat kalian berdua kembali kepadaku."
Baskoro melenggang pergi. Setelah pria itu hilang dari balik pintu tubuh Jasmine langsung merosot ke lantai.
" Bunda … bunda nggak pa-pa?"
Elisa terlihat khawatir melihat wajah pucat Jasmine. Tapi Jasmine hanya tersenyum dan menggelengkan kepala tanda dia baik-baik saja.
Ternyata hubungan mereka tidak baik juga. Sepertinya jika aku membuat pria itu sengsara kedua wanita ini tidak akan keberatan. Baiklah pria lucknut, terima pembalasanmu sebentar lagi.
" Maaf tuan, maafkan atas ketidaknyamanan ini. Bunga apa yang Anda inginkan tuan?"
" Saya minta lili putih."
Elisa mengangguk lalu mengambilkan apa yang diinginkan oleh Dean. Gadis itu benar-benar cekatan saat membuatkan buket bunga. Pandangan mata Dean tidak lepas pada Elisa hingga Elisa menyerahkan bunga lili putih tersebut padanya.
" Terimakasih nona Elisa."
" Sama-sama tuan. Dan terima kasih untuk bantuan Anda tadi."
Dean tersenyum dan mengangguk. Ia pun lalu pamit undur diri setelah membayar bunga yang diberinya.
__ADS_1
" Apa kau mengenalnya El?"
" Aaah, Tuan Dean? Beliau adalah pembeli juga bund."
Jasmine hanya mengangguk mendengar jawaban Elisa. Tapi wanita paruh baya itu melihat gelagat aneh pada pri tadi. Ia melihat ada ketertarikan di wajah pria itu terhadap putrinya. Seketika Jasmine teringat dengan Ar.
Mengapa dua pria bule itu sepertinya tengah mendekati El. Haish, semoga hanya perasaanku saja.
Berbeda dengan jasmine, El yang melihat Dean seketika teringat Ar. Kemana perginya bule somplak itu. El ingin bertanya kepada Mia namun urung. Ia tidak mau dianggap mengkhawatirkan Ar. Padahal sesungguhnya ia memang khawatir.
🍀🍀🍀
Benjiro, Shenia, dan Mia langsung bertolak ke rumah sakit saat mengetahui Ar akan dioperasi hari ini. Tentu sjaa mereka begitu khawatir bagaimana bisa King dan Queen terbaring di meja operasi bersama.
Geoff pun tak kalah paniknya saat diberitahu oleh sang kakak. Bagaimanapun Ar dan Silvya adalah keponakannya. Ditambah Geoff lama juga bersama dengan Silvya.
" Kak sebenarnya ada apa ini?"
Harold kemudian menceritakan semuanya. Geoff tertunduk lesu. Ia kemudian menghubungi Drake dan meminta pengamanan di rumah sakit. Roki juga melakukan hal yang sama.
Baik Geoff maupun Roki harus mengantisipasi musuh. Mereka bahkan merahasiakan keadaan King dan Queen dari publik. Jika organisasi bawah tahu ditakutkan mereka akan berbondong-bondong menyerang.
Geoff meskipun sudah tidak aktif namun pengaruhnya di dunia bawah masih tetap besar. Tidak jauh dengan Queen. Paman sekaligus tangan kanan Queen itu tentu tahu apa yang mereka harus lakukan saat ini.
Tapi sepertinya keadaan yang serba mendadak itu membuat mereka melupakan sesuatu hal yang tak kalah pentingnya. Anderson, pria itu tentu tahu mengenai keadaan Ar dan Silvya karena dia berada di rumah sakit yang sama. Karena tujuan awalnya sebagai kandidat pendonor bagi Ar membuat pria itu juga diberikan layanan kesehatan. Luka-luka yang tadinya ingin dibiarkan begitu saja mau tidak mau harus diobati oleh tim medis.
Dan, saat ini keluarlah sifat licik pria itu. Ia meminta tolong kepada salah satu perawat untuk meminjamkan ponsel. Ia berdalih ingin menghubungi keluarganya. Tentu saja oleh perawat diberikan apa yang Anderson minta.
" Iraa jemput aku di RS Mitra Harapan. Aku berada di ruang Jodipati Nomor A-13."
__ADS_1
Pria itu menyeringai. Tidak akan mudah melumpuhkannya saat ini, seperti itulah kira-kira apa yang ada dalam pikiran Anderson.
TBC