
Seluruh tes bisa diselesaikan selama satu hari penuh. Hari tersebut perkuliahan pun ditiadakan. Semua berhasil diambil sampel darahnya. Bahkan para mahasiswa tidak ada yang boleh meninggalkan kampus. Makan mereka juga ditanggung oleh pihak kampus hingga hasil tersebut keluar.
Lepas jam 7 malam akhirnya hasil tes darah dan urine sudah keluar. Ada sebanyak 120 orang yang terbukti menggunakan obat-obat terlarang. Mau tidak mau orang-orang tersebut harus ikut ke RSKO milik RS Mitra Harapan. Para orang tua dari mahasiswa tersebut pun langsung diberitahu. Bagaimanapun juga mereka harus tahu kondisi anak-anak mereka.
Banyak diantara mereka yang terkejut dan tidak menyangka bahwa anak yang mereka harapkan bisa membanggakan malah terjerumus dalam barang haram. Namun pihak universitas memberikan himbauan bahwa ini bagian dari sebuah kesalahan dan masih bisa diperbaiki lagi.
" El, aku antar kau pulang."
Elisa tadinya ingin menolak. Namun mengingat ini sudah malam, maka Elisa pun menerima tawaran Ar untuk mengantarnya pulang.
El memasuki mobil ar dan duduk dengan tenang. Ar kemudian mencodongkan tubuhnya ke arah Elisa. gadis itu tentu terkejut.
“ Kau, kau mau apa?”
“ Aku? aku hanya mau membenarkan seat belt mu. Apa kau mengharap aku melakukan hal yang lain hmmm?”
Ar mendekatkan wajahnya ke wajah Elisa. Jarak kedua nya hanya sekitar 5 centimeter. Bahkan Elisa bisa merasakan hembusan nafas Ar. Jantung Elisa tiba-tiba berdetak begitu keras.
Ini, kenapa aku jadi deg-deg an gini sih. Huft bule kampret ini mau apa coba?
El sungguh merasa tidak karuan saat ini. Sedangkan Ar, pria itu terkekeh geli saat melihat wajah Elisa yang tampak merona. Ia sungguh suka melihatnya, sangat menggemaskan.
Ar kemudian memundurkan tubuhnya membuat El bernafas lega. Mobil tersebut pun melaju meninggalkan pekarangan kampus dan mulai membelah jalanan yang padat. Sesekali Ar harus menghentikan mobilnya karena kendaraan yang berjajar macet.
Ponsel milik El berbunyi. Gadis itu pun berbicara melalui panggilan telepon. Dari yang Ar tanggap sepertinya el dihubungi oleh bunda nya.
“ Apakah bunda Jasmine?”
“ Iya, bunda tanya kenapa belum sampai di rumah juga. Tapi aku sudah jelasin ke bunda.”
Ar mengangguk. Hingga sekitar setengah jam jalanan mulai lancar dan Ar menekan pedal gas nya lebih dalam agar mobil yang dikendarainya berjalan lebih cepat. Ia tidak ingin membuat ibu dari Elisa itu khawatir karena anak gadisnya belum kunjung sampai rumah.
Namun sepertinya, rencana Ar tidak akan berjalan dengan mulus saat ia menyadari bahwa mobilnya diikuti. Ar yang seharusnya mengambil jalan berbelok memilih jalan lurus ke arah jalan layang non tol. Dimana jalan tersebut lumayan agak lenggang.
“ Bang, kita salah jalan.”
“ El, kamu tetap tenang jika aku bilang tutup mata dan telinga maka lakukanlah.”
“ Apa maksudnya bang?”
“ Ikuti saja instruksi ku!”
__ADS_1
Elisa menatap wajah Ar yang terlihat begitu berbeda dari biasanya. Wajah Ar kali ini begitu tegas dan sedikit menakutkan. Meskipun begitu ketampanan dari wajahnya tidak terkikis sedikitpun malah semakin memesona saat mode serius seperti ini.
“ Rupanya kalian ingin bermain dengan ku. Okeee lo jual gue beli.”
Ar mengambil sebuah pistol dari dashboard mobil nya. El tentu saja terkejut melihat benda tersebut. Ingin bertanya namun dia sudah dikejutkan terlebih dulu oleh suara tembakan yang mengenai pintu jendela mobil sebelah kemudi Ar.
El membungkam mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Meski ia sungguh terkejut namun sebisa mungkin dia bisa menahan dirinya.
“ El merunduk!”
Door
Door
Door
Suara tembakan saling saut menyaut. Ternyata bukan hanya satu mobil saja yang mengikuti Ar. Ada setidaknya 3 mobil di sana. Bahkan ketiga mobil tersebut mengepung mobil Ar.
“ Sial. El, berpeganglah. Dan maaf, aku membawamu di situasi seperti ini.”
Bruuuuummmm
Ar melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sambil menghubungi roki dia tetap fokus mencari jalanan yang sepi. bagaimanapun juga dia tidak boleh membahayakan warga sipil.
“ Rook!!! cepat!!!”
Satu tembakan melesat dari arah belakang. Lagi dan lagi El begitu terkejut. Jantungnya berpacu dengan cepat. Sekarang bahkan posisi El berjongkok di bawah.
Ar berdecak kesal. Ia kemudian memfokuskan bidikannya ke ban mobil milik lawan.
Door
Blaaammm
Braaak braaak braaak
Salah satu mobil tersebut oleng dan menghantam pembatas jalan. Suara ledakan terdengar jelas oleh Elisa. Gadis itu hendak melihat namun dilarang oleh Ar.
" El, tetap di posisimu."
El mengangguk patuh. Ia benar-benar mengikuti instruksi Ar. Tak berselang lama suara tembakan terdengar semakin banyak dan intens. Ar terlihat menghembuskan nafas kelegaan. Ia pun melajukan mobilnya dengan cepat namun tampak lebih tenang.
__ADS_1
Ciiiiit
Ar menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia menghubungi Roki kembali agar menangkap sisanya hidup-hidup. Ia butuh informasi mengenai orang-orang tersebut dan siapa yang mengirim mereka.
" El, kembalilah ke tempat dudukmu."
El menurut pada perintah Ar. Elisa mencuri pandang ke wajah Ar. Tidak tampak lagi rona kecemasan di sana. Namun tidak dipungkiri El masih merasa syok terbukti dari tangan dan tubuhnya yang bergetar.
Greb
Ar memeluk El tiba-tiba. Tampaknya pria itu paham kalau gadisnya tengah ketakutan.
" Maaf, sekali lagi maaf. Kau pasti begitu ketakutan."
Elisa tidak memberontak, gadis itu menemukan kenyamanan di dada bidang milik Ar. Ar kemudian mengurai pelukannya dan menatap wajah Elisa dengan seksama. Dan entah sejak kapan bibir Ar mendarat di bibir Elisa.
Reflek, Elisa memejamkan matanya menikmati sesapan demi sesapan bibir lembut milik Ar. Keduanya berbelit lidah dan bertukar saliva hingga El mendorong dada Ar dan melepaskan pagutannya. Tampaknya El menemukan kesadarannya, ia menatap tajam mata Ar yang berwarna coklat itu.
" Siapa kau! Siapa kau sebenarnya!"
Ar tidak menjawab pertanyaan Elisa. Ia hanya tersenyum lalu kembali membenarkan seat belt milik Elisa dan miliknya. Ar kemudian melajukan mobilnya mengacuhkan tatapan kesal Elisa.
“ Kenapa? Kurang diciumnya?’
Elisa baru ingat jika tadi mereka sudah berciuman. Dan dengan bodohnya dia menikmati setiap sentuhan bibir Ar di bibir nya.
“ Kenapa kau menciumu?”
“ Aku? Aku menyukaimu El. Bahkan sejak pertama kita bertemu dulu.”
Elisa tentu terkejut mendengar pernyataan Arduino. Tentu dia tidak serta merta percaya dengan apa yang dikatakan pria disampingnya itu. Semuanya seperti permainan saja. Bagaimana bisa seorang pria dewasa menyukai bocah sepertinya.
“ Jangan mengalihkan pertanyaan ku dengan ucapan konyol mu itu.”
“ Apa perlu aku kembali mencium mu agar kau percaya bahwa aku benar-benar menyukaimu?”
El seketika menutup bibirnya dengan tangan. Ar hanya terkekeh kecil melihat ulah bocah disampingnya itu.
“ Tenang aku tidak akan mencium mu lagi jika tanpa izin mu. Tapi nggak tahu ya kalau lagi khilaf hahahah.”
Ar tertawa keras sedangkan El hanya menggelengkan kepala nya dengan pelan. Sungguh ia begitu penasaran siapa pria yang berada di sampingnya itu.
__ADS_1
Siapa kau sebenarnya?
TBC