Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
BAB 24. Mafia Bucin


__ADS_3

Pagi hari Ar sudah menjemput Jasmine dan El untuk mendatangi toko bunga yang baru. Sebenarnya oleh Roki, toko tersebut sudah di tata dan dirapikan sedemikian mestinya layaknya toko bunga. Hanya tinggal menunggu bunga-bunga nya saja yang datang.


Tentu saja semua itu atas perintah Ar. Setiap pulang dari perusahaan, Roki langsung menuju toko tersebut dan merapikannya. Namun bukan dia sendiri melainkan dengan bantuan Benjiro dna Shenia.


" Apa sekarang bos mu itu ingin menjadi penjual bunga?"


" Ben, dia bos mu juga. Entahlah, aku tidak mengerti jalan pikiran si bos."


Seperti itulah obrolan kedua pria jomblo sata beberes di toko yang Ar inginkan. Sedangkan Shenia hanya berdecak kesal pasalnya dua pria itu tak kunjung bergerak dan hanya saling bicara.


Akhirnya setelah berkutat selama 3 hari semua beres juga. Baik Roki maupun Benjiro sudah berada di depan toko guna menyambut Ar. Pun dengan Shenia gadis cantik tapi sedikit judes itu juga ikut menemani sang bos.


" Ar datang," ucap Benjiro kepada kedua rekan nya tersebut. 


Ar berhenti tepat di depan toko. Ia berdecak pelan melihat ketiga anaknya berdiri di sana.


" Ini ngapain mereka masih di sini. Kan gua kata kalo kelar tinggalin," gumam Ar lirih. Namun dia pun tak lagi bisa mengusir mereka karena ada El dan Jasmine di sana.


Ar kemudian turun dari mobil dan berlari ke sisi lain  untuk membukakan pintu. Tentu saja pandangan tersebut membuat Roki dan Benjio membuka mulut merek lebar-lebar. Bagaimana bisa Ar yang biasanya dibukakan pintu kini membukakan pintu mobil untuk orang lain.


Namun keduanya kini paham dan mengerti saat seormag gadis keluar dari dlaam mobil Ar.


" Ooh pantes," ucap Roki singkat.


" Mode bucin rupanya," imbuh Benjiro.


Roki dan Benjiro bisa melihat betapa Ar perhatian kepada gadis itu. Gadis yang bernama Elisa itu rupanya benar-benar bisa memikat hati sang mafia kejam.


Mau tidak mau Ar akhirnya mengenalkan ketiga anak buahnya itu kepada El dan Jasmine. Shenia yang baru berkenalan tampaknya sudha bisa langsung akrab dwngan ibu dan anak itu. 

__ADS_1


Bahkan tanpa ragu Shenia ikut membantu menata bunga-bunga yang di display. Benjiro sesaat terpesona melihat senyum dan tawa Shenia yang sangat jarang gadis itu tampilkan. 


" Cantik," ucap Benjiro singkat.


" Siapa?" tanya Ar galak.


" Shenia, memang kau pikir siapa."


Benjiro memutar bola matanya dengan jengah menatap kecemburuan dari Ar. Sungguh ini akan menjadi hal yang merepotkan jika menghadapi mafia yang tengah bucin tersebut.


Setelah sekitar 2 jam akhirnya semua selesai. Roki, Benjiro, dan Shenia pamit untuk ke perusahaan. El dan Jasmine berkali-kali mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka semua.


Melihat Shenia mengingatkan El pada temannya Olin. Gadis itu membuang nafasnya kasar. Ar tentu tahu apa yang ada dipikiran Elisa.


" Dia bukan gadis yang baik. Kamu tidak perlu lagi mengingatnya."


🍀🍀🍀


Di belahan bumi lain, Olinda tengah menjalani perawatan karena syok yang dialami nya. Rupanya gadis itu benar-benar belum bisa menghadapi resiko dari apa yang ia kerjakan.


" Kak, aku takut."


Bayang-banyang hukuman penjara membuat gadis itu bergidik ngeri. Dean hanya membuang nafasnya dengan kasar. Pria itu kemudian memeluk sang adik.


" Maaf ya, kakak sungguh minta maaf. Tidak seharusnya kakak membiarkanmu masuk ke dunia seperti ini."


Dean merasa bersalah. Awalnya ia memang ingin membentuk Olinda menjadi seperti dirinya. Akan tetapi ternyata mental Olinda tidak seperti mental Shakila. Shakila dulu adalah gadis yang kuat dan gigih serta tidak takut akan hal apapun. Berbeda dengan Olinda yang kelihatannya saja kuat tapi sebenarnya dia begitu lemah. Terlebih di psikologisnya.


Dean memutuskan untuk tidak lagi membawa Olinda masuk ke dunianya. Bahkan untuk saat ini saja ia harus mencari cara agar Olin bisa keluar tanpa harus dikenali.

__ADS_1


" Lin, apa kau mau melakukan bedah plastik?"


Olin memicingkan matanya mendengar pertanyaan sang kakak. Bedah plastik? Entah dari mana Dean tiba-tiba memiliki ide seperti itu. 


" Tidak kak, aku tidak mau. Aku sudah sangat senang dengan wajahku ini. Aku bangga dengan apa yang aku miliki. Lagian kalau aku nanti bedah plastik, wajahku jadi tidak mirip dengan kakak."


Dean tersenyum, beberapa orang atau tepatnya anak buah Dean mengatakan bahwa Olin adalah versi perempuan dari Dean. Rex pun mengatakan hal yang sama. Keduanya memang adik kakak yang memiliki tingkat kemiripan 90%.


" Baiklah jika begitu. Tapi kau tahu, selama ini kau tidak boleh dulu keluar. Kakak akan berusaha menghapus database mu dari pihak-pihak berwajib. Baik yang di negara ini maupun di negara sana."


Olin mengangguk paham. Hari-hari membosankan akan datang untuknya. Tapi ya memang harus seperti itu. Ia akui dirinya masih begitu naif dan nyalinya juga kecil untuk mengikuti jejak sang kakak.


" Haish, kalau kayak gini mending nikah aja kali ya. Enak tuh bener-bener di rumah mengurus suami."


Tampaknya Olin benar-benar dilanda kegalauan. Kejadian kemarin selain membuatnya takut juga sedikit trauma.


Dean yang sudah berada di meja kerjanya segera membuka laptop miliknya. Ia meminta Rex untuk menghubungkan dirinya dengan Mr. Sun guna meminta tolong untuk menghapus data personal Olinda. Namun permintaan Dean langsung ditolak mentah-mentah oleh Mr. Sun.


" Sial, ini hacker sebenarnya siapa sih. Mengapa kelihatannya pilah pilih sekali menerima orderan."


Dean berusaha meminta Mr. Sun dengan tawaran bayaran yang tinggi hingga 1 juta dollar. Tapi lagi, hacker misterius itu menolak. Dean tentu dibuat kesal oleh orang yang sama sekali tidak terlihat bahkan terdeteksi oleh siapapun itu ( hayo tebak-tebak an. Di sini Mr. Sun umur berapa hehehe).


Akhirnya mau tidak mau Dean mengerahkan tenaga anak buahnya sendiri untuk melakukan tugas tersebut. Tentu saja itu tidak mudah karena dia harus membobol keamanan dua negara sekaligus untuk menghapus data mengenai Olin. Dimana itu ia harus lakukan secara hati-hati dna bersih. Jika tidak, maka malah dia yang akan kena serangan balik alias data mereka bisa jadi bocor.


Dean membuang nafasnya kesal. Dia harus menyusun rencana untuk membalas perbuatan Arduino. Dean sangat yakin bahwa Ar adalah dalang dibalik tertangkapnya Olin. Meskipun demikian Dean sebenarnya masih merasa bersyukur katean Ar tidak berlaku kejam kepada Olin. Mungkin jika Ar mau, Olin bisa saja kehilangan nyawanya saat masih di negara sana.  


" Antara berterimakasih atau marah aku terhadapmu Ar. Aku sendiri juga tidak tahu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2