
Pt AG pagi-pagi dipenuhi oleh bunga. Benjiro sungguh terkejut melihatnya. Begitu juga sang sekretaris Shenia. Benjiro bingung, bagaimana cara menyingkirkan bunga-bunga tersebut. Ia cukup tahu Ar tidak menyukai bunga.
Benjiro pun bertanya kepada satpam dari mana datangnya bunga itu. Si satpam hanya berkata bahwa beberapa orang membawanya semalam.
Ciiiit
Mobil milik Ar datang. Benjiro benar-benar bingung bagaimana menyingkirkan bunga-bunga itu. Benjiro pun segera menghampiri Ar dan ingin menjelaskan apa yang terjadi.
" Ar sorry bunga-bunga itu aku belum ~"
" Biarkan, aku suka. Bila perlu setiap meja beri bunga seperti itu. Oh iya di ruanganku juga."
Ar berlalu, sedangkan Benjiro menganga. Ia menoel Roki tapi si asisten bos itu hanya mengangkat kedua bahunya tanda di juga tidak tahu. Akhirnya Benjiro pun meminta ob dan og untuk membagi semua bunga tersebut ke seluruh ruangan.
" Ar sejak kapan kamu suka bunga?"
" Sejak semalam."
Hanya itu saja jawaban yang diberikan Ar. Dan pria berwajah bule itu tersenyum kecil. Setelah mendapat kabar berita dari orangnya mengenai sosok pria yang diyakini menyukai Elisa datang ke toko. Ar langsung memberi perintah mengirim beberapa orang untuk datang ke toko bunga milik Elisa dan membuat Elisa sibuk. Alhasil cara itu berhasil membuat pria yang sudah Ar ketahui namanya adalah Edzar itu pergi.
" Jangan harap kau bisa mendekati gadis ku. Baiklah Rok, aku harus ke kampus dulu. Bagaimanapun aku adalah seorang mahasiswa sekarang."
Roki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini sama saja saja dengan memberinya tugas yang banyak di perusahaan. Meskipun kuliah S2 yang dipilihkan oleh Benjiro bukanlah yang masuk tiap hari, tapi urusan perusahaan pasti akan dilimpahkan kepada Roki.
" Bos, double nggak nih gaji nya? Aku harus handle 2 urusan lho ini."
" Tenang, gaji jadi 2x lipat. Bonus 3x lipat, gimana?"
" Selamat belajar bos."
Wajah Roki tentu saja menjadi cerah merekah bak bunga mekar di pagi hari. Ar hanya mendengus pelan melihat ulah sang asisten itu. Namun Ar tidak mau banyak menanggapi, ia segera pergi menuju kampus. Ia tidak ingin gadisnya itu diganggu oleh para pria-pria brengsek.
Selama perjalanan menuju kampus Ar mencoba menghubungi El. Tapi tidak ada jawaban dari El. Namun tiba-tiba anak buah Ar menghubungi.
" Halo bos."
" Katakan dengan jelas jangan banyak basa-basi."
__ADS_1
Ternyata itu adalah panggilan dari anak buah Ar cabang job mengawasi Elisa. Pria yang bernama Yoyok itu kemudian menjelaskan mengenai apa yang terjadi dengan Elisa.
" Yoyooook kenapa nggak bilang dari semalam."
" Maaf bos, lupa."
" Kau mau aku lupa mengirim gaji kau heh."
" Ampun bos, maap. Nanti anak istri Yoyok mau dikasih makan apa."
" Kasih batu biar awet kenyang."
Di seberang sana Yoyok sudah pucat pasi mendengar kemarahan sang bos. Memang salahnya juga tidak langsung memberi kabar setelah melihat peristiwa yang terjadi pada Elisa semalam.
Ar pun segera memutar kemudi mobilnya menuju toko bunga milik Elisa. Bukan bukan, tapi menuju rumah Elisa atas arahan atau share loc dari Yoyok.
" Dasar anak buah semprul."
Setelah berkendara satu jam an Ar sampai di kediaman Elisa. Rumah tersebut lumayan besar dengan taman disekelilingnya. Terdapat beberapa pohon yang menjulang tinggi. Rumah tersebut sebenarnya bukan rumah meski milik Jasmine dan Elisa. Rumah tersebut milik ayah Jasmine yang diberikan oleh Yudi. Karena meskipun Jasmine adalah anak dari istri kedua kakek Hasna, tetap dia memiliki hak atas peninggalan.
Dan oleh Yudi rumah itu diberikan kepada Jasmine untuk tempat mereka bernaung. Apalagi setelah Jasmine dan Baskoro berpisah, dimana Jasmine tidak diberikan apapun oleh Baskoro.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Elisa dan Jasmine menjawab bersama slama dari Ar. El tentu terkejut melihat kedatangan Ar tersebut.
Bagaimana dia tahu rumahku?
Jasmine tersenyum lalu menanyakan keperluan Ar datang ke sana.
" Aaah, maaf tante perkenalkan nama saya Arduino . Saya temannya Elisa. Tadi saya ke toko tapi kata tetangga toko Anda dan Elisa sudah pindah."
" Oh iya, kami sementara ini pindah ke rumah sampai menemukan toko yang cocok."
Jasmine kemudian mempersilahkan Ar duduk. Wanita paruh baya itu berlaku ke dalam untuk mengambilkan Ar minum.
__ADS_1
" Kenapa abang kesini?"
" Eeeh kamu panggil aku apa? Abang? Wooohoo."
" Apa aku harus memanggilmu om. Kau lebih tua dari aku. Tidak pantas bagiku memanggilmu nama."
Ar tersenyum senang mendapat panggilan baru dari El. Baginya itu adalah panggilan sayang. El lalu terlihat sibuk membereskan bunga-bunga yang berada di teras. Sedangkan Ar mengambil ponsel dari saku celananya untuk menghubungi sang asisten. Ia sedikit berjalan menjauh agar El tidak mendengar pembicaraannya.
" Rok carikan sebuah ruko, toko, gedung atau apalah. Jangan terlalu besar tapi jangan terlalu kecil yang cocok digunakan sebagai toko bunga. Nggak pake lama. Aku beri waktu 2 jam untuk mencari."
Belum juga Roki menjawab panggilan tersebut sudah diakhiri oleh Ar.
" Dasar bos gemblung. Untung gaji lancar."
Meskipun menggerutu Roki tetap melaksanakan perintah sang bos.
Kembali di kediaman Elisa, Ar menggulung kemeja panjangnya dan ikut membantu Elisa dan Jasmine membereskan bunga-bunga tersebut.
" Ehmm.. Maaf tante, apakah bisa mengirim bunga-bunga tersebut ke kantor. Biar kantor terasa lebih seger aja dilihatnya."
" Ehm boleh … jika boleh tahu kira-kira butuh berapa rangkaian bunga?"
" Nanti coba Ar tanya dulu ya sana orang kantor, jika sudah ketahuan Ar akan konfirmasi ke tante."
Jasmine mengangguk. Ar sungguh pria yang baik. Meski baru pertama kali bertemu tapi Jasmine bisa menilai bahwa Ar adalah pemuda yang santun.
Sedangkan El hanya heran melihat keakraban Ar dan bundanya. Bagaimana bisa pria itu begitu mudah akrab padahal baru saja bertemu.
Disisi lain, Olin semakin gencar melebarkan sayap nya. Ia mencoba terus menjangkau bagian-bagian elit. Tak tanggung-tanggung, para konglomerat dan publik figure mulai ia dapatkan.
Tanpa sadar pergerakannya yang cukup besar itu malah membuat nya dicurigai oleh orang-orang dari Black Wolf. Tampaknya Olin lupa jika Black Wolf memiliki anak buah yang menyebar juga. Black Wolf bukan hanya sekedar organisasi mafia yang duduk diam di markas sambil mengamati melalui monitor. Black Wolf memiliki jaringan yang begitu luas karena anggotanya menyebar ke berbagai sektor.
Tring
Ponsel Ar kembali berbunyi. Namun kali ini bukan dari Roki melainkan dari anak buahnya yang lain. Ar membaca pesan itu sejenak dan menyeringai lebat.
" Dapat, kau pikir selama ini aku hanya diam. Tidak semudah itu alejandro. Mari bermain sesuai dengan keinginanmu."
__ADS_1
TBC