Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 48. Siapa Mereka?


__ADS_3

Lain Dean lain pula Ar, ia yang tahu Elisa dan bundanya tidak pernah mendapatkan haknya sama sekali akhirnya membuat bagaimana perusahan ekspedisi yang dipimpin Baskoro itu pailit. 


Ia sedang menggunakan orang-orangnya untuk membuat perusahaan ekspedisi milik Baskoro tidak banyak yang memakai. Setelah itu terjadi Ar akan membeli saham tersebut atas nama Elisa. Tentu hal tersebut bisa dilakukan dengan baik oleh Benjiro. Siapa lagi orang yang bisa melakukannya. Benjiro sangat bisa diandalkan dalam hal tersebut.


Dengan langkah tegap dan lebar Ar berjalan menuju ke ruangan Benjiro. Sudah sangat lama dia tidak mengunjungi PT AG. Semua karyawan tentu masih begitu takjub dan segan setiap Ar mendatangi kantor tersebut.


Ar yang sudah berada di depan ruangan Benjiro tiba-tiba menghentikan langkahnya saat ia mendengarkan sesuatu yang tidak asing di telinganya. Padahal tangan Ar sudah memegang handle pintu namu suara lucknut itu membuat berhenti.


Ar menggelengkan kepalanya perlahan. Bagaimana bisa semua orangnya melakukan hal tersebut di ruangan mereka.


Beberapa saat yang lalu Roki dan Mia yang berciuman panas bahkan saat mereka tengah menanti hukuman darinya. Kini Benjiro, ia yakin asistennya yang satu itu saat ini tengah melakukan apa yang ada dipikirannya.


Meskipun sudah tahu Ar tetap penasaran dengan apa yang terjadi di ruangan kantor tersebut. Ar pun mengintip dari lobang hendle pintu.


“ Astagfirullah haladzim, Benjiro gila bener. Tck … Tck … Shan masih aman nggak itu milikmu. Gila tuh bocah main siang-siang begini kagak inget tempat. Bangsat, gue aja belum sampe di tahap seperti itu. Elaah udah dirajam kali gue sama orang rumah kalau berani kayak gituin Elisa.”


Bukannya berhenti melihat apa yang Benjiro saat ini lakukan, Ar malah terus berkomentar dengan apa yang dia lihat.


Di dalam tampak Benjiro tengah mencumbu Shania. Entah sejak kapan hubungan keduanya itu terjadi. Ar sendiri tidak tahu. Tapi ia senang jika para asistennya itu sudah tidak lagi jomblo.


Rupanya cumbuan Benjiro tidak hanya sekedar cumbuan mereka hampir melakukan final action namun semuanya bubar saat Ar menerobos masuk. Ya, Ar tidak ingin melihat aksi tersebut dilakukan di perusahaannya.


Dengan wajah yang amat sangat tenang Ar masuk dan duduk di sofa yang berada di ruangan Benjiro. Terang saja Ben dan Shania terkejut. mereka pun kembali memakai pakaiannya. Bahkan Shania sudah berlari ke kamar mandi dengan jas milik benjiro yang berhasil menutupi tubuh bagian atas nya hingga ke paha.


“ Bener-bener deh lo Njir. Halalin dulu itu anak orang baru lu pada main sepuasnya.”


“ Ar itu ….’


“ Eleeeh nggak usah banyak ini itu. Kalau lo serius ma anak gadis orang, Minta baik-baik sama orang tuanya. Setelah itu terserahlah mau lo obok-obok, mau lo pompa tiap hari sampe melendung tuh anak perawan bebas dah.”


Benjiro menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memang tadinya tidak ingin melakukan hal tersebut. Namun ciuman yang mereka lakukan tadi membuat hasrat keduanya naik dan hampir saja bobol. Sebenarnya ada untungnya Ar datang langsung menerobos masuk, akhirnya membuat mereka tidak jadi melakukannya.

__ADS_1


“ Maaf Ar.”


“ Jangan minta maaf ke gua. Minta maaf tuh ama anak gadis itu. Dia yang ngerasain, gue mah ogah ye.”


Tawa Benjiro seketika lepas. Ia sungguh senang cara Ar menasehatinya. Shania pun ikut dipanggil oleh Ar. kini keduanya duduk di depan Ar, persis seperti seorang bapak yang sedang menyidang anak-anaknya yang ketahuan berbuat salah.


Ar mengambil nafasnya dalam-dalam. Ia kemudian menanyakan kepada Shania tentang perasaan gadis itu. ia tidak ingin Shania hanya dipaksa oleh Benjiro. Benjiro pun melotot sempurna. Meskipun baru, mereka memang saling menyukai.


“ Oke lah segera menikah. Aku akan tanggung semua biaya pernikahan kalian. Sukur-sukur Roki mau sekalian bareng, eeh jangan ding, kan aku bilang ke Elisa kalau mereka sudah menikah. Urusan Roki gampang yang jelas kalian dulu itu yang udah ngebet pengen jebol gawang.”


Shania Dan Benjiro saling pandang. Mereka sungguh tidak menyangka Ar akan merestui mereka secepat ini. namun baik benjiro maupun Shania belum memutuskan. Mereka akan membicarakannya terlebih dahulu.


“ Oke kalau gitu, tapi janji ye nggak gitu lagi.”


Benjiro mengangguk, sedangkan Shania wajahnya sudah bersemu merah. Sungguh gadis itu sangat malu.


“ Oke, sekarang kembali ke laptop. Aku ada tugas buat lo Njir dan Shan kamu juga harus bantu.”


“ Woelah bos, ini bisa diatur. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin.”


Ar mengangguk. Ar pun meninggalkan ruangan Benjiro dan melenggang keluar dari PT AG. Ar mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


“ Saat aku berhenti dari dunia hitam itu. Aku harap orang-orang ku juga berhenti dan menemukan jalan yang baik. Meskipun aku yakin kita tidak pernah bisa sepenuhnya berhenti.”


Ar memasuki mobilnya. Keinginannya untuk segera pensiun semakin besar. Apalagi jika dia melihat keluarga kecil Silvya, ia tentu memiliki keinginan yang serupa. Memiliki istri dan memiliki anak-anak yang lucu seperti keponakannya.


Ar melajukan mobilnya menuju ke kampus. Ia ingin menemui Elisa. namun ia melihat ada sesuatu yang tidak beres di jalan. Ia melihat Dean yang baru masuk ke mobil amun mobilnya diikuti oleh beberapa mobil lainnya.


“ Itu bukannya Dean. Tapi sepertinya yang dibelakang bukan orang-orang Magna Arbor deh.”


Ar akhirnya putar arah. Entah apa yang ia pikirkan akan tetapi dia merasa Dean sedang berada dalam masalah.

__ADS_1


Ar yang harus memutar sedikit jauh mencoba mengejar mobil Dean. Tampak Dean mencoba membawa mobil-mobil yang mengikutinya ke jalan aman. Dimana tidak banyak warga sipil yang ada disekitarnya.


“ Sepertinya Dean sudah tahu kalau dia diikuti.”


Namun Ar tidak bisa tinggal diam. Mengacau di wilayahnya berarti harus berurusan dengannya juga. Ar semakin dalam menginjak pedal gasnya. Ia tidak boleh ketinggalan dari mobil-mobil di depannya.


Setidaknya ada sekitar 3 mobil yang mengikuti Dean. Sungguh formasi yang sempurna. Mobil tersebut berada disamping kanan dan kiri mobil Dean dan satu lagi di belakang.


“ Apa yang mereka inginkan dari Dean? lalu siapa mereka mengapa menyerang Dean di sini.”


Ar semakin dibuat bingung dengan pikirannya sendiri. Namun kemudian ia kemudian mengacuhkan semua.


Dooor


Sebuah tembakan dilesatkan oleh salah satu orang yang berada di mobil itu ke arah dean. Mobil Dean sedikit oleng. Ar menjadi khawatir. Ia kemudian menggunakan automatic driver dan mengambil sebuah revolver 38 miliknya dari dashboard. Ar membidik mobil yang berada di sisi sebelah kiri Dean.


Door


Blaaam


Suara ban meletus lumayan terdengar nyaring. Hal yang terjadi selanjutnya tentu saja mobil itu oleng dan menabrak pembatas jalan.


Ar melajukan mobilnya agar bisa berjajar dengan Dean. Ia kemudian membuka kaca mobilnya, Sedikit mengambil resiko tertembak oleh musuh. Dean pun melakukan hal yang sama.


” Are you Ok?”


Dean mengangkat ibu jarinya hingga sebuah tembakan dilepaskan kembali dan membuat mobil Dean kali ini benar-benar oleng.


Braaaak


TBC

__ADS_1


__ADS_2