Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 63. Aku Mencintaimu


__ADS_3

Setelah pulang dari kediaman Hasna, Jasmine langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tadi sang keponakan meminta menginap saja tapi Jasmine tidak bisa. Ia tidak bisa meninggalkan Elisa sendirian.


Elisa juga sangat menyesal karena tidak bisa ikut hadir dalam acara syukuran yang diadakan Hasna karena kegiatan kampus yang tidak bisa ditinggalkan. Namun meskipun begitu Jasmine sudah seharian berada di kediaman sang keponakan. Wajah Jasmine yang begitu mirip dengan Melati, mama dari Hasna membuat ibu dari satu anak itu sangat bahagia. Hasna merasa seperti sang mama hadir di sana.


Tok … tok … tok …


" Masuk nak, tidak bunda kunci."


Elisa membuka pintu kamar Jasmine dan berjalan masuk dengan perlahan. Jantungnya berdetak begitu kencang seperti seseorang yang baru saja lari maraton. El lalu menghempaskan bokongnya di ranjang sang bunda dan diam di sana.


Jasmine tentu merasa sedikit aneh dengan tingkah sang putri. Ia pun bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di headboard tempat tidur. Jasmine mengusap kepala sang putri dengan lembut, ia merasa anaknya itu ingin menyampaikan sesuatu.


" Ada apa hmmm?"


El menoleh ke arah sang bunda hingga matanya beradu tatap dengan mata milik wanita yang melahirkannya itu. 


" Bund,  Bang Ar mau melamar El. Minggu depan."


Jasmine terdiam, wanita paruh baya itu masih mencerna apa yang diucapkan sang putri. Elisa menunduk saat bundanya tidak memberikan reaksi apapun.


Kayaknya bunda nggak setuju deh, gumam El dalam hati. Gadis itu pun akhirnya pasrah dengan jawaban Jasmine. Ia akan mengikuti apa yang dikatakan Jasmine nantinya.


" Baiklah, mari persiapkan dengan baik?"


" Eh, bunda setuju?"


Jasmine tersenyum lalu mengangguk. Ia memeluk putrinya dan mengusap kepala El dengan lembut. Hidup baginya begitu cepat, rasnaya baru kemarin Jasmine menimnag snag putri dan sekarang ia tiba-tiba harus melepas putrinya menuju ke kehidupan baru. Air mata Jasmine tak kuasa terbendung lagi. Ia bahagia karena El menemukan seorang pria yang menurutnya pun baik.


" Bunda menangis?"


" Tidak, bunda hanya bahagia kamu akan menuju kehidupan yang baru."

__ADS_1


" Tapi bund, ini hanya tunangan. El belum akan menikah secepat itu. El dan abang sudah sepakat akan menikah saat El lulus nanti."


Jasmine melerai pelukannya dna mengamati wajah sang putri dengan seksama. Ia mengatakan bahwa tunangan juga merupakan awal dari itu semua. Harapannya El bisa menjaganya agar semuanya lancar hingga hari dimana mereka mengikat sebuah janji suci.


" Nak, temui lah ayahmu. Meskipun bagaimana, dia juga harus tahu."


Elisa  terdiam, ia sungguh enggan menemui Baskoro. Tapi apa yang dikatakan Jasmine bena. Baskoro tetap harus tahu apa yang akan putrinya itu lakukan. Karena bagaimanapun, ia tetaplah wali Elisa.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya Ar lagi-lagi datang menjemput Elisa. Kali ini pria itu masuk ke rumah dan menemui Jasmine. Ia mengutarakan keinginannya untuk meminang Elisa. Jasmine yang sudah diberitahu El semalam  pun tentu langsung setuju. Ar juga menyampaikan rencana pernikahan yang akan mereka adakan.


" Satu pesan bunda, jaga baik-baik hal ini. Biasanya kedua orang yang sudah di tahap hubungan ini akan banyak cobaan yang menghampiri."


" Baik bund, InsyaaAllaah Ar akan berhati-hati."


Banyak hal yang Jasmine sampaikan, terutama keadaan Baskoro. Ia merasa wajib menymapaikan hal tersebut kepada Ar. Tanpa Jasmine tahu, Ar tentu sudah sangat paham dengan siapa Baskoro sebenarnya dan dia tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Ar mengangguk, ia melihat Elisa sekilas. Wajah gadis itu terlihat enggan, tapi mereka memang harus menemui Baskoro.


" Apa benar-benar tidak mau bertemu?"


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil sipa menuju ke rumah sakit tempat Baskoro dirawat. Ya, setelah kejadian waktu itu Baskoro dirawat di rumah sakit dan belum juga keluar dari sana. Pihak rumah sakit sedikit kerepotan dengan apa yang menimpa Baskoro. Pasalnya kasus seperti ini belum pernah mereka temui. Satu-satunya cara adalah memotongnya hingga habis. Tapi Baskoro tentu menolaknya. Pria itu bersikeras mempertahankan benda kebanggaannya itu.


Ar yang tidak mendapat jawaban dari Elisa atas pertanyaannya langsung menggenggam tangan sang gadis. Ia mencoba meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. El pun pada akhirnya mengangguk. Rupanya genggaman tangan Ar memiliki sebuah kekuatan untuk menguatkan hatinya.


Ar melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tak berselang lama mereka pun sampai. Keduanya keluar dari mobil bersama. Terlihat El begitu gugup. Ar melakukan apa yang ia lakukan tadi saat di mobil yakni menggenggam tangan Elisa. Keduanya pun berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan hingga El dan Ar sampai di depan pintu ruang rawat Baskoro.


" Brengseeek!!! Pergi, aku nggak butuh kalian. Yang aku inginkan hanya pulang ke rumahku!!"


Eleisa mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuang nya perlahan. Ia memejamkan matanya sejenak mencoba menguatkan hatinya untuk menemui Baskoro. Teriakan Baskoro dari dalam ruang rawat itu  tentu membuat Elisa jengah. Tapi ia tetap harus masuk sesuai rencana sebelum nya.

__ADS_1


" Apakah besok saja kita kesini nya?"


" Tidak bang, sekarang. Lebih cepat lebih baik."


Ar mengangguk, dalam hati Ar mengatakan sepertinya Baskoro ini benar-benar tidak bisa berubah. Ia akan melihat seperti apa reaksi Baskoro nanti saat mereka meminta restu untuk pernikahan mereka.


Kalau macem-macem, gue ilangin juga deh nih bapak tua dari muka bumi. Nggak ada sadar-sadarnya sudah dalam kondisi begitu, batin Ar.


Ar dan El masuk ke ruang rawat. El sedikit terkejut melihat tempat itu begitu berantakan. Tentu saja semuanya adalah ulab Baskoro. 


" Yah," panggil Elisa kepada ayahnya tersebut.


" Heh, anak durhaka. Anak kurang ajar. Ngapain kamu kesini? Untuk menertawakanku kan!"


Ar tampak marah mendengar ucapan yang keluar dari bibir Baskoro. Rasanya ia ingin segera menyumpal mulut busuk itu. Elisa yang tahu bahwa Ar sedang marah langsung mengusap lembut tangan Ar dan mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya tidak apa-apa.


“ Yah, kami kemari untuk meminta restu ayah. Aku dan abang akan menikah. Tapi kami akan melakukan tunangan terlebih dahulu.”


“ Cuih,aku tidak sudi memberi kalian restu. terlebih dengan pria bule itu. selamanya aku tidak akan merestuimu menikah.”


“ Terserah. Tapi yang jelas dengan atau tanpa restu dari ayah kami tetap akan menikah. Selamat tinggal. Semoga ayah segera bisa menyadari kesalahan-kesalahan yang sudah ayah perbuat selama ini.”


El menarik tangan Ar keluar dari ruangan Baskoro. Meninggalkan pria paruh baya itu yang kembali berteriak marah dan memaki. Ar sesaat tersenyum ke arah El mengingat apa yang El ucapkan tadi.


“ Apa kau sudah mencintaiku?” tanya Ar tiba-tiba membuat El menghentikan langkahnya dan menghadap melihat wajah Ar dengan kepala sedikit mendongak.”


“ Jika aku belum mencintaimu, aku tidak akan menerima lamaranmu Bang.”


“ Aku mencintaimu Elisa Dwi Baskoro, sungguh bahkan mungkin aku sudah mencintaimu saat pertama kali kita bertemu.”


TBC

__ADS_1


__ADS_2