
Lampu hijau menyala tanda operasi tengah dimulai. Dika akan mengoperasi Ar dan silvya akan ditangani oleh Bisma. Keduanya benar-benar tengah serius menyelesaikan tugas masing-masing.
Keluarga Dwilaga tentu terkejut dengan kabar mengenai menantunya yang masuk meja operasi. Pun dengan Radi. Ia yang berlaku sebagai dosen Ar tentu tidak menyangka jika Ar yang kelihatannya sehat itu ternyata mengalami hal ini. Ditambah sekarang Silvya juga ada di meja operasi. Sekar yang tidak bisa datang ke rumah sakit karena memang menjaga sang cucunya hanya bisa berdoa.
Aryo ditemani oleh Radi dan Andra mencoba membuat Harold tenang. Seorang ayah yang mana kedua anaknya berada di ruang operasi itu sedari tadi tidak berhenti berjalan kesana-kemari.
Dika dan Bisma menjelaskan operasi ini akan berjalan sekitar 5 sampai 6 jam. Jika Harold sedari tadi tidak berhenti berjalan, Fatimah tampak tidak berhenti memanjatkan doa. Tidak banyak yang ia minta, ia hanya ingin putra dan putrinya selamat.
Terlihat ruang operasi Silvya sudah selesai. Tanda pengambilan organ sudah selesai dan siap untuk dibawa ke ruangan milik Ar. Semua menahan nafasnya. Fatimah dan Harold benar-benar tidak menyangka akan ada di posisi saat ini.
“ Bang, tenanglah dan banyak berdoa. Mereka anak-anak yang kuat. ku yakin semuanya akan baik-baik saja,” ucap Aryo menenangkan besannya itu.
“ Terimakasih mas, terimakasih banyak.”
Berjalan sekitar 2 jam tiba-tiba salah satu tim medis keluar dari ruang operasi dengan berlari. Tentu hal tersebut membuat semua yang berada di luar terkejut dan panik. Ini belum waktunya selesai mengapa ada yang keluar? Itulah kira-kira yang ada dalam pikiran mereka.
Ternyata perawat itu mengambil beberapa kantong darah. Tambah panik saja Harold dan Fatimah. Tubuh Fatimah sudah tidak mampu lagi berdiri. Dan kini Harold merangkul erat bahu istrinya.
“ Kak, aku harap tidak terjadi apa-apa dengan mereka.”
“ Iya, mari kita berdoa kepada Allaah agar semua diberi keselamatan.”
Di ruang operasi suasana sedikit genting. Ar mengalami pendarahan. Tidak ada raut wajah panik pada Dika. Ia tetap tenang, pendarahan dalam operasi sebenarnya merupakan hal yang biasa. Namun meskipun begitu harus segera ditangani.
“ Kasa!”
Perawat memberikan kain kasa kepada Dika. Ia kemudian menanyakan kepada dokter anestesi tentang keadaan ar.
“ Aman dok silahkan dilanjutkan,” ucap dokter anestesi tersebut.
Dika mengangguk mengerti. Ia meminta asistennya untuk mengirigasi lokasi operasi. Tangan Dika menerobos masuk kedalam dan akhirnya menemukan dimana letak hal yang membuat pendarahan itu terjadi. Ia tersenyum. Meskipun tidak tampak tapi gerak mata nya memperlihatkan hal itu.
“ Jarum, benang!”
__ADS_1
Dika mulai menjahit bagian penimbul pendarahan. Ia melakukannya dengan sangat tenang. Setelah menyelesaikan bagian itu barulah Dika kembali ke menu utama.
“ Haish Ar, kau sungguh sangat jauh berbeda saat seperti ini. Aku yakin saat kau bangun nanti kau akan marah padaku.”
Dika bergumam pelan. Hal darurat menyebabkan Silvya harus menjadi donor bagi Ar. Dimana Ar tidak mengharapkan hal itu. Bukan hanya itu saja tapi seluruh keluarga tahu bahwa Ar tengah sakit.
Dika menggelengkan kepalanya saat membayangkan betapa marahnya Ar nanti. Tapi sebagai dokter dia tidak peduli. Yang ia tahu pasti bahwa ia harus menyelamatkan nyawa pasien bagaimanapun caranya.
*
*
*
“ Bang Zola … bangun bang, jangan tidur mulu.”
Ar terkejut mendengar suara seseorang yang memanggil dirinya dengan nama lahirnya itu. Ia langsung membuka matanya. Ia sedikit terkejut saat mendapati dirinya terbaring di tengah sebuah taman yang begitu luas. Sepertinya taman itu tak berbatas.
Ia melihat ke samping tempat tidurnya. Di sana terbaring Silvya. Sama dengan dirinya Silvya juga mengenakan pakaian berwarna putih. Silvya tampak sangat cantik tapi kembarannya itu terlihat masih tertidur pulas.
Ar kembali mendengar suara itu. Ia melihat sekeliling namun sama sekali tidak menjumpai tanda-tanda kehadiran orang lain selain dirinya dan Silvya.
“ Bang, aku di sini di sebelah kak Sisi.”
Ar kembali melihat ke arah Silvya dan di samping Silvya. Betapa terkejutnya Ar saat melihat seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun. Ya, Ar yakin pemuda itu berusia segitu karena ia melihat dirinya di sana saat masih usia remaja. Pemuda itu duduk sambil tersenyum dan membelai wajah Silvya. Wajahnya begitu terang dan tampan.
“ Kamu?”
Pemuda itu mengangguk. Sepertinya ia paham apa maksud Ar. Air mata Ar luruh. Bagaimana tidak, baru kali ini ia melihat saudara kembarnya. Ya orang yang berada di sebelah Silvya itu adalah Zion. Ar tergugu menyaksikan kembarannya itu.
Entah bagaimana ceritanya, Zion yang sedari tadi tersenyum tanpa membuka mulutnya mengapa bisa mendengar ucapannya.
“ Apa kau baik-baik saja?”
__ADS_1
“ Iya aku sangat baik. Sungguh aku senang akhirnya kita bisa bertemu. Tapi aku tidak ingin kalian ikut denganku. Kembalilah Bang, bawa kak Sisi bersamamu. Aku sungguh bahagia kita bisa dipertemukan kembali. Tapi kalian tidak boleh bersamaku.”
“ Haissh, apakah kita tidak bisa sama-sama saja.”
Zion menggeleng. Hal tersebut tidak mungkin terjadi kali ini. Kedua kakaknya itu harus kembali dan dia akan pergi.
“ Kita akan bertemu nanti bang jika sudah waktunya. Tapi saat ini belum. bang jaga Kak Sisi untukku.”
Zion beranjak dari tempat duduk lalu menghampiri Ar. Ia memeluk Ar dengan kuat begitupun sebaliknya. Zion kemudian berbalik ke arah Silvya dan menciumi wajah itu.
Semakin lama tubuh Zion semakin transparan. Senyum terukir di bibirnya sebelum ia hilang sempurna meninggalkan kedua saudara kembarnya.
“ Zion!!!”
Ar dan silvya berteriak bersama memanggil nama saudara kembarnya itu. Semua orang yang khawatir dan cemas karena sudah 3 hari mereka belum sadar pasca operasi terlihat sangat bahagia. Terlebih Dika. Tadinya ia sangat takut bila terjadi apa-apa dengan sang istri. Rupanya Silvya dan Ar ditempatkan di ruangan yang sama agar mudah dalam mengawasinya. Keduanya tampak bingung saat mendapati banyak orang di ruangan itu.
“ Si, apa kau melihatnya?”
“ Ya aku melihatnya.”
“ Hei, mengapa kau ikut terbaring di sini?”
Ar yang masih belum paham bahwa dirinya baru saja menjalani transplantasi ginjal dari Silvya tentu saja bingung dengan apa yang terjadi saat ini hingga Dika menjelaskan.
Boooom
Pria itu mengoceh tidak ada habisnya. semua orang hanya diam tanpa ada yang menyahut ocehan Ar. Hingga tubuhnya dipeluk oleh Silvya.
“ Ar, kita adalah keluarga. Aku bagian darimu dan kau juga bagian dariku. Tidak ada yang salah dengan ini semua. Bukankah kita sekarang lebih dekat. Aku sungguh tidak ingin terjadi apa-apa denganmu.”
Tes
Air mata Arduino mengalir deras di pelukan sang kembaran. Semua orang di ruangan itu keluar. Bahkan Dika pun. Mereka memberikan waktu untuk keduanya saling bicara.
__ADS_1
TBC