Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 36. Donor Untuk Ar


__ADS_3

Dengan separuh berlari Dika membawa tubuh Ar dari helipad menuju ke ruang operasi. Ia sedikit mengabaikan tatapan marah sang istri. Dika tahu istrinya itu pasti akan meledak-ledak. Namun saat ini yang terpenting adalah keselamatan Ar terlebih dahulu. Raut wajah marah Silvya diperlihatkan kepada sang suami.


Dika yang sungguh tahu apa yang dirasakan istrinya itu hanya berusaha tetap tenang agar Silvya juga bisa sedikit tenang. Padahal saat ini Dika sama sekali tidak tenang. Ia sungguh khawatir jika Ar sama sekali tidak bisa bertahan. Sedangkan pendonor belum juga didapatkan.


Roki membawa serta Anderson di heli tersebut. Entah apa yang dipikirkan Roki, tapi Roki seperti menggunakan hukum ‘siapa tahu’, ya ‘siapa tahu’ Anderson memiliki kecocokan dengan Ar dan bisa menjadi donor Ar. 


“ Mengapa kau membawa pria bajingann itu Rok?”


“ Siapa tahu dia cocok dengan Ar ginjal yang dibutuhkan Ar Queen. Sudah aku beritahukan padamu tadi jika Ar tidak ingin kau, mommy dan daddy nya menjadi pendonor untuknya. Lagian biar nyawa pria itu tidak sia-sia juga. Sayang kan kalau mati gitu aja, biar bener dan ada manfaatnya.”


Ucapan Roki memang ada benarnya. Sebenarnya saat menghubungi Dika, Roki juga menceritakan kondisi Anderson. Dika tentu setuju dengan usulan Roki untuk melakukan tes terhadap Anderson.


“ Bagaimana Mas?”


Silvya bertanya kepada suaminya yang sudah selesai memberikan pertolongan pertama kepada Ar. Tampak raut wajah khawatir dari ibu satu anak itu.


“ Harus segera melakukan transplantasi.”


“ Aku aja mas, Aku pasti cocok. Aku kembarannya dan aku sehat. Ayo mas aku akan jadi pendonor buat Ar.”


Silvya merengek, rengek nya itu sudah berubah jadi tangisan. Dika langsung memeluk sang istri. Ia tahu ini kali kedua Silvya merasa sangat ketakutan. Raut wajah Silvya yang seperti sekarang pernah Dika lihat melalui rekaman cctv saat Zion meninggal. Saat itu mereka tengah mencari kebenaran dari pembunuh Zion.


Bukannya Dika tidak mau melakukan transplantasi dari Silvya untuk Ar, tapi seperti yang dibilang oleh Ar bahwa dia tidak ingin Silvya yang jadi donor. Ia tidak mau membuat susah keluarganya.


Tapi keadaan ini benar-benar mendesak. Ar mungkin akan kesulitan bertahan jika tidak segera mendapatkan donor. Akan  terjadi komplikasi penyakit serius lainnya, seperti gangguan elektrolit, penumpukan cairan berlebih (seperti asites atau edema paru), hingga penyakit jantung dan pembuluh darah.

__ADS_1


Kerusakan ginjal pada Ar sudah parah. Ditandai dengan penurunan kesadaran Ar beberapa hari ini. Ar sering pingsan. Ar juga kehilangan nafsu makan. Jika dilihat tubuh Ar sedikit lebih kurus dari beberapa bulan yang lain.


“ Mas, aku sungguh siap. Ayo lakukan tes itu sekarang. Aku tidak ingin menyesal seperti saat aku kehilangan Zion. waktu itu aku tidak bisa melakukan apapun untuk Zion, dan aku tidak mau itu terjadi pada Ar.”


Dika tentu paham bagaimana perasaan sang istri. Ia pun akhirnya mengangguk dan membiarkan Silvya melakukan serangkaian tes. Akan tetapi Dika tetap akan menghubungi Fatimah dan Harold. Kedua mertuanya itu harus tahu apa yang terjadi dengan anak-anak nya.


“ Mom, dad. Bisakah Anda berdua datang ke rumah sakit. Nataya, bisa dijaga bunda dulu.”


Harold dan Fatimah tentu saja bungung. Mengapa keduanya dipanggil ke oleh Dika ke rumah sakit. Tidak mau banyak berpikir, mereka pun langsung ke rumah sakit memenuhi permintaan sang menantu.


Saat menginjakkan kaki di rumah sakit, jantung Fatimah berdegup kencang. Ia merasakan perasaan yang luar biasa tidak enak.


“ Ada apa sayang?”


“ Kak, aku merasa ada yang tidak beres.”


“ Mom, dad, ada hal penting yang harus Dika sampaikan. Mohon dengarkan dulu dan jangan panik ya. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja.”


Kedua orang tua itu saling menggenggam erat tangan mereka. Dika kemudian menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir. menjelaskan mengenai kondisi Ar yang sangat buruk dan keinginan Silvya untuk jadi pendonor. Rupanya, Anderson pun tidak cocok sama sekali dengan Ar sehingga hanya Silvya lah harapan satu-satunya.


Harold seketika berdiri saat mengetahui hal tersebut. Tentu dia tidak setuju dengan usulan Silvya yang akan jadi pendonor untuk Ar.


“ Tidak, Tidak boleh. Daddy saja yang akan mendonorkan ginjal daddy. Daddy lebih pas karena sudah tua. Silvya masih sangat muda Dika.”


“ Maaf dad, daddy tidak bisa. Daddy punya riwayat penyakit hipertensi dan dan paru meskipun tidak parah. Daddy tidak dianjurkan sebagai pendonor.”

__ADS_1


Tangis Harold dan Fatimah pecah. hati mereka sungguh hancur. Fatimah yang baru saja menemukan kebahagiaan karena mengetahui putranya masih hidup tiba-tiba harus dihadapkan dengan keadaan seperti ini. Dia yang baru saja menyesali perbuatannya karena terlalu mengacuhkan sang putri karena sibuk mengurusi Zion tiba-tiba harus mendapatkan kenyataan bahwa kedua anaknya kini sama-sama harus berada di meja operasi untuk bertahan hidup satu sama lain.


 Kenapa bukan aku saja yang mengalami ini semua Ya Allaah. kenapa harus anak-anak ku.


Tangis Fatimah pecah. Air mata itu sungguh tidak terbendung sama sekali. Fatimah sungguh merasa menjadi ibu yang buruk untuk anak-anak nya.


“ Mom, dad, semua ini sudah jadi jalan hidup kita. Ini garis takdir yang Allah sudah tuliskan untuk kita. Mari meyakininya dan selalu bertawakal agar kita senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalaninya. Insya Allah semuanya akan baik-baik  saja. Baik Ar ataupun Sisi semua akan bertahan. Mari panjatkan doa yang banyak dan Dika akan berusaha membawa mereka kembali kepada mommy dan daddy.”


Ucapan Dika mampu membuat Harold dan fatimah tenang. Keduanya mengangguk paham. Tapi sebelumnya Harold dan Fatimah ingin melihat Ar dan Silvya terlebih dulu. Jika Ar dalam kondisi benar-benar lemah  sehingga tidak bisa diajak berbicara, maka tidak dengan Silvya. Wanita itu saat ini tengah berhadapan dengan kedua orang tuanya.


Fatimah dan Harold bergantian menciumi wajah sang putri. Ada sejuta rasa bersalah dalam diri Fatimah kepada putrinya itu.


“ Maafkan mommy nak.”


“ Tidak mom, mommy tidak pernah ada salah sama Sisi. Mommy adalah ibu terbaik bagi Sisi. Sisi malah berterima kasih kepada mommy. Sisi dilahirkan dari rahim mommy bersama pria-pria yang merepotkan itu.”


Sisi tergelak dengan ucapannya sendiri. Ya, dulu Zion yang membuatnya begitu khawatir dan sekarang Zola atau Ar yang membuatnya hampir lepas jantungnya.


Harold sebagai ayah sungguh merasa sangat gagal melindungi putra-putrinya. Tampak raut kekecewaan dalam wajah pria paruh baya itu.


“ Dad, jangan berwajah masam begitu. dady adalah ayah yang hebat untuk kami. Percayalah kami benar-benar bangga lahir di keluarga ini.”


Air mata Harold tidak bisa lagi dibendung. aia lalu memeluk putrinya itu. Silvya pun mengusap bahu tua sang ayah.


“ Nitip Nataya ya mom, dad.”

__ADS_1


TBC


__ADS_2