Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 29. My Girl


__ADS_3

Elisa tengah membantu sang bunda di toko bunga milik mereka. Sesaat El teringat akan Ar. Sudah beberapa hari ini bule somplak itu tidak terlihat. Ar juga tidak memberi kabar. 


Ngapain gue kepikiran itu orang?


El menggelengkan kepalanya, segera mengusir pikiran kacau nya yang tengah teringat akan wajah Ar. 


Tring


Lonceng yang dipasang di bagian pintu berbunyi. Tanda seseorang pembeli masum untuk mencari bunga yang diinginkan.


" Selamat datang di Jasmine Florist, ada yang bisa saya bantu."


" Nona, apakah ada bunga baby breath?"


" Aaah kebetulan sekali hari ini bunga tersebut baru saja datang. Akan saya siapkan tuan."


Elisa dengan lincah mengambilkan bunga yang diinginkan oleh pembeli tersebut. Dengan senyum mengembang Elisa tampak lincah melayani pembeli.


" Ini tuan bunga anda, apakah ada yang lain?"


Orang tersebut menggeleng. Ia lalu membayar dan keluar dari toko bunga tersebut dengan senyum yang begitu lebar.


" Gadismu sungguh cantik Arduino. Tampaknya menyenangkan jika bermain bersamanya."


Anderson lalu masuk kedalam mobil tepat saat Ar menghentikan mobilnya. Jantung Ar berdetak begitu cepat melihat Anderson yang baru saja keluar dari toko milik El. Bukannya mengejar mobil Anderson, Ar memilih berlari masuk ke dalam toko.


" Selamat datang tu~"


El tentu terkejut saat tubuhnya dipeluk dengan tiba-tiba. El memberontak mencoba melepaskan pelukan Ar. Tapi akhirnya ia urung saat merasakan tubuh Ar yang bergetar seperti ketakutan.


" Bang, are you ok?"


" Aaah sorry. I'm fine. Apa orang tadi mengganggumu?"


" Tidak, dia hanya pembeli. Setelah membeli bunga langsung pergi."


Ar menghela nafasnya penuh dengan kelegaan. Namun tentu saja ia tidak boleh lengah. Pasti pria licik itu akan datang kembali suatu saat nanti.

__ADS_1


Masa iya gue harus nyimpen El di kantong baju gue biar tu kunyuk kagak bisa macem-macem.


Ar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sungguh merasa dilema. Ingin melindungi El dengan cara yang bagaimana. Ia hanya bisa memperketat penjagaan di sekitar El dan bundanya. 


Tring 


Bel toko kembali berbunyi. Baik El maupun Ar kompak menengok ke arah pintu. Wajah El yang tadinya berseri berubah menjadi kesal saat melihat siapa yang masuk ke dalam tokonya.


" Mana bunda mu?"


El membuang nafasnya kasar. Ia sungguh enggan menemui pria yang berstatus sebagai ayahnya itu. Baskoro sungguh menjengkelkan. Ingin rasanya El meninju wajah Baskoro.


" Aku bisa melakukannya untukmu kalau kau mau," bisik Ar.


El tentu terkejut mendengar perkataan Ar tersebut. Bagaimana bisa Ar bisa tahu apa yang ia pikirkan. Gadis itu hanya memberikan tatapan tajam kepada Ar, sedangkan Ar acuh ia malah menatap Elisa dengan tatapan yang entah seperti apa. Elisa akhirnya memutuskan pandangannya terhadap Ar ke arah Baskoro.


Haish, nggak sabar pengen gue halalin ini anak perawan.


Ar bermonolog dalam hati. Ia benar-benar merasa gemas melihat wajah Elisa yang dingin dan datar itu.


Di sisi lain Baskoro sungguh kesal. Pertanyaannya diacuhkan oleh sang putri. Ia benar-benar merasa tidak dihargai. Sepertinya Baskoro lupa jika dirinya memang tidak pantas untuk dihargai.


Baskoro berteriak sangat keras. Beruntung tidak ada pembeli saat ini. Ar tentu saja sangat kesal dengan ulah pria paruh baya di depannya. Belum juga habis rasa kesalnya atas kedatangan Anderson di toko bunga El malah ditambahi dengan adanya Baskoro.


" Yaelah pak, bisa nggak sih ngomongnya nggak pake otot. Awas tuh otot putus nanti. Inget umur pak, udah tua."


" Bocah sialan, siapa kau. Kau tidak berhak ikut campur dengan urusan keluarga ku."


" Yakin keluarga? Sepertinya tidak. Anda sungguh tidak pantas menyebut El dan bunda Jasmine sebagai keluarga. Bahkan Anda sangat tidak pantas memiliki jabatan seorang ayah. Perlakuan Anda terhadap El dan bunda nya tidak mencerminkan seorang kepala keluarga sama sekali. Sebaiknya Anda segera pergi dari tempat ini sebelum saya pihak keamanan."


Baskoro acuh dengan peringatan Ar. Ia masih berusia berbicara kepada El. Bicara yang sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai makian. Ya, Baskoro terus saja memaki Jasmine. Bahkan tak segan keluar dari mulut Baskoro mengatakan bahwa Jasmine adalah wanita murahan.


Baskoro berkata bahwa jasmin pasti menjual tubuhnya untuk bisa mendapatkan toko tersebut.


Ar sungguh marah. Dia sudah melangkah maju namun rupanya langkahnya lebih lambat daripada El.


Bugh

__ADS_1


Sebuah suara pukulan dan erangaan kesakitan keluar dari mulut Baskoro. El yang sudah lama ingin melakukan itu, kali ini akhirnya tercapai juga. El sudah tidak tahan dengan perlakuan Baskoro. Lebih-lebih ini sang bunda yang dijelek-jelekan.


" Jangan sekalipun  Anda menghina ibu saya. Anda sungguh tidak berhak mengatakan itu wahai tuan Baskoro yang terhormat."


"That is my girl."


Ar tersenyum lebar melihat keberanian Elisa. Ia membiarkan gadis itu melupakan semua yang ia rasakan. Ar hanya akan berjaga, khawatir Baskoro bertindak keterlaluan.


" Dasa anak durhaka. Kau berani-berani nya memukulku?"


" Itu belum seberapa, bahkan aku ingin sekali mencabik-cabik mu."


Baskoro beringsut maju dan hendak melayangkan pukulan ke arah El. Dengan sigap Ar menangkap tangan Baskoro. 


" Jangan sekalipun kau berani menyentuh gadisku. Jika itu kau lakukan, maka aku bersumpah kau tidak akan bisa melihat matahari esok hari."


Glek


Baskoro merasa kesulitan menelan saliva nya sendiri. Bahkan ia merasa susah bernafas melihat aura mendominasi dari Ar. Pria itu menciut, menarik kembali tangannya.


Siapa pria ini, mengapa auranya begitu kuat. Dia terlihat sangat kejam.


Baskoro hanya bisa bergumam. Tampak wajahnya yang sangat pucat. Ia pun segera berbalik badan dan ingin cepat keluar dari toko. Namun perkataan Ar membuat Baskoro terhenti.


" Asal Anda tahu tuan. Toko ini adalah aku pemiliknya. Jadi jangan harap Anda bisa berbuat semaunya di sini."


Baskoro melangkah dengan cepat meninggalkan toko bunga. El memicingkan matanya melihat ke arah Ar. 


" Apa yang kau katakan kepada dia sampai-sampai wajahnya pucat begitu."


" Tidak ada, aku hanya berkata aku adalah orang yang kejam dan sadis itu saja."


El menggelengkan kepalanya lalu kembali ke aktivitasnya semula. Ia menganggap ucapan Ar adalah candaan semata. El tidak tahu saja bahwa apa yang dikatakan Ar adalah benar adanya. Biasa bersikap absurd membuat El beranggapan bahwa semua yang terlontar dari mulut Ar hanyalah bercanda.


" Baguslah kalau begitu, setidaknya kau tidak perlu tahu bahwa aku memanglah seperti yang ku katakan. Sialan Anderson sudah mencium lokasi El. Dan apa itu tadi si curut Baskoro juga mau macem-macem rupanya. Aaah sepertinya aku harus memanggil Mia. Dia cocok untuk tugas seperti ini."


Ar tiba-tiba memiliki ide untuk memanggil salah satu orangnya. Tentu saja bukan dia yang akan memanggil Mia melainkan Roki. Ar tertawa kecil dengan apa yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


" Tapi sebaiknya aku saja yang memanggil Mia. Biar jadi kejutan. Aku yakin pasti akan seru hahahha."


TBC


__ADS_2