Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 42. Masih Berlanjut


__ADS_3

Berada di markas Wild Eagle kini mereka berada. Silvya dan Ar membawa beberapa orang yang masih bisa diselamatkan. Tentunya bukan untuk membuat mereka bertahan hidup. Hal itu semata-mata dilakukan agar mereka bisa mendapatkan informasi dari mereka.


Sungguh kekejaman Silvya dan Ar tampak disini. Sekitar 3 orang yang dibawa ke markas, 2 diantaranya memiliki luka bakar sekitar 75% dan satu lainnya terlihat masih bisa bernafas dengan baik karena hanya mengalami luka bakar sekitar 50%. Baik Ar maupun Silvya membiarkan orang-orang itu tergeletak di lantai tanpa memberikan pertolongan sedikitpun.


“ Bunuh saja aku, bunuh!”


Salah satu pria berteriak dengan sisa-sisa tenaganya. Ia sungguh merasa lebih abik mati ketimbng berada di situasi seperti ini. Situasi yang sama sekali tidak akan menguntungan bagi mereka pastinya. Dan bisa saja situasi ini adalah situasi ujung nyawa mereka. 


Akan tetapi baik Ar maupun Silvya acuh mendengar teriakan yang lebih tepat seperti rengekan itu. Mereka meringis dan mengerang hebat saat merasakan luka di tubuhnya. Sungguh mereka lebih memilih mati saat ini.


Drake yang melihat saja ngeri. Selama ini tentu ia tahu bagaimana Silvya beraksi. Bagaimana Silvya menghabisi nyawa musuh-musuhnya sampai bagaimana Silvya mentreatment Jeff pengkhianat di tubuh organisasinya. Namun Drake baru melihat ini Silvya membawa orang dengan luka bakar yang benar-benar menakutkan.


“ Queen, itu pasti sangat sakit.”


“ Terus, aku harus bilang, uuuuh kasiaaan gitu. Enak saja, siapa suruh mereka berani-beraninya menyerang adikku.”


Ar tersenyum mengedip-ngedipkan matanya. Ia kemudian memeluk Silvya dengan sayang. Drake hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan kelakuan duo kembar tersebut. Bagaimana bisa mereka bersikap begitu santai saat ini. Bahkan keduanya melanjutkan makan malam yang sudah kelewat malam itu. Tidak ada rasa ngeri atau apapun. Keduanya dengan lahap memakan makanan mereka padahal di depannya tergeletak orang dengan luka-luka yang membuat orang lain akan bergidik ngeri. 


Beberapa bagian tubuh tampak terbakar menganga. Bahkan kulitnya juga ada yang melepuh. Tampak darah keluar dari luka-luka itu. Daging tubuh mereka bahkan ada yang tercecer di sana. Drake saja hampir muntah melihat kondisi orang-orang itu.


“ Aaaah kenyaaang,” ucap Ar saat ia selesai dengan makanannya. 


Pun dengan Silvya. Kini keduanya sudah kembali ke mode mafia kejam haus darah. Ar menatap pada ketiga pria itu. Sudut bibirnya terangkat membuat sebuah senyuman sinis. Begitu juga dengan Silvya, wajah cantik ibu satu anak itu membuat ketiga orang tersebut bergidik ngeri.


Aura kejam bahkan sadis ditampilkan oleh wanita tersebut. 


“ Katakan siapa yang menyuruh kalian?” tanya Silvya memulai interogasi. Padahal baik Silvya maupun Ar sudah mengetahui siapa dibalik penyerangan ini. Ia yakin orang itu saat ini tengah kalang kabut mengetahui anak buahnya mati dan hampir mati.


“ Cuiiih, kami tidak akan berbicara barang sekata pun.”


Ar dan Silvya terbahak sedangkan Drake hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


“ Ayolah bung, percuma kau diam seribu bahasa. Sebentar lagi kau juga pasti akan mati. Lebih baik kau katakan saja kepada dua kembar gila itu. jika tidak aku tidak akan berani menjamin keselamatan keluargamu ini.”


Drake menampilkan gambar keluarga dari masing-masing orang itu di layar monitor. Dimana membuat ketiganya membelalak sempurna.


“ Hohoho, sudah mulai takut rupanya. tenang aku tidak akan mengganggu mereka. Aku hanya akan mengirim tubuh hancur kalian kepada keluarga kalian. Aku yakin mereka akan senang mendapatkannya. Dan aku juga akan mengatakan bahwa kalian adalah anggota organisasi mafia yang selama ini ikut dalam perdagangan manusia, bahkan kalian juga menculik para gadis-gadis muda untuk dijadikan budak seekks.”


Silvya tersenyum lebar. Ancaman itu tentu lebih menakutkan daripada apapun. Reputasi mereka pasti seketika akan hancur. Bahkan bisa jadi mereka tidak akan diakui lagi sebagai keluarga. 


“ K-kau?”


“ Apa, ganteng. Tentu saja aku ganteng. Itu tidak perlu diragukan lagi.”


Silvya memutar bola matanya jengah. Saat seperti ini Ar masih bisa bercanda. Namun begitulah Ar, tampaknya suka bercanda tapi jiwa kejamnya masih meronta-ronta.


Drake sebenarnya saat ini tengah mencari tahu seberapa besar kekuatan orang dibalik penyerangan ini. Tentu saja Ar  sudah memberi tahu siapa orang itu dari tato di belakang telinga setiap anggotanya. 


Tato laba-laba itu merupakan simbol dari sebuah klan mafia. 


“ Ragno Valenoso. Kalian berasal dari sana bukan. Haishh. Kalian sungguh membuatku harus lebih lama lagi di dunia hitam nan gelap ini. Kemarin Magna Arbor, lalu Black Demon sekarang laba-laba. Kalian mau apa sebenarnya. Lagian, bukannya aku tidak pernah bersinggungan dengan kalian ya?”


Sebenarnya ketiga orang ini pun tidak tahu mengapa bos mereka menginginkan nyawa king Black Wolf ini. Seperti yang dikatakan oleh Ar, mereka tidak pernah bersinggungan sama sekali.


“ Lalu apa yang harus kita lakukan kepada ketiga orang ini Ar.”


“ Kirim kembali saja mereka ke tuannya. Aku malas mengurusnya.”


Drake mengangguk mengerti. Ia pun segera mengikuti perintah dari Ar.


Di rumah sakit Roki begitu cemas. Dari tadi dia mondar mandir. Sudah 5 jam lamanya Ar pergi dan belum juga kembali hingga saat ini. Ia berkali-kali melihat arloji di tangan kirinya.


“ Mampuuus gue, kalau dr. Dika visit gimana ini.”

__ADS_1


Sepertinya doa Roki langsung dikabulkan. Dika tiba-tiba melakukan kunjungan ke kamar Ar. Roki pun hanya bisa pasrah kali ini.


“ Roki, dimana Ar?’


Roki berdiri membatu. Ia bingung juga mau menjawab seperti apa.  Ia yakin apapun jawabannya akan tetap salah nantinya.


“ Itu dok, Ar.”


“ Kakak ipar aku di sini.”


Roki menghela nafas penuh  dengan kelegaan. Sedangkan Dika ia langsung memutar tubuhnya untuk melihat ke sumber suara. Dika membuang nafasnya kasar saat melihat Ar bersama istrinya. Dika tengah menebak bahwa keduanya pasti baru saja bermain.


“ Apa kalian baru pulang bermain?”


Baik Ar maupun Silvya hanya nyengir kuda, memperlihatkan gigi-gigi mereka. Sungguh Dika tidak habis pikir dengan Ar dan juga istrinya itu. Belum lama mereka keluar dari ruang operasi dan sekarang mereka sudah melakukan hal yang sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh mereka.


Dika langsung menjatuhkan tubuhnya di atas brankar. Pria yang masih berpakaian dokter itu memijat kedua pelipisnya dengan tangan. Rasa sakit di kepala tiba-tiba muncul karena ulah istri dan kembarannya itu.


Ar dan Silvya merasa bersalah kepada Dika. Keduanya langsung menghampiri Dika dan memeluk dokter hebat yang hadir di keluarga mereka.


“ Maaf dan terimakasih telah membawa kami kembali. I Love you suamiku.”


“ Maaf dan terimakasih telah menyelamatkanku kakak ipar. Aku sungguh berhutang nyawa padamu.”


Tes


Air mata Dika luruh tanpa permisi. Ia pun memeluk keduanya itu dengan erat. Sungguh ia amat takut jika harus kehilangan keduanya. Meskipun pertemuannya dengan Ar belumlah lama namun Dika sungguh menyayangi Ar seperti ia menyayangi Andra dan Jani, adik-adik kandungnya.


“ Lain kali katakan padaku kalian mau kemana. Jangan membuatku spot jantung begini. Setidaknya aku tenang jika tahu kemana kalian akan pergi.”


“ Jadi apakah aku sudah boleh pulang kakak ipar?"

__ADS_1


"Tidak!"


TBC


__ADS_2