Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 43. Menemui


__ADS_3

Di bagian negara lain. Tepatnya di negara pizza, seorang pria sedang begitu marah karena anak buahnya semuanya gagal dalam menjalankan misi. Ia bahkan melempar seluruh benda yang berada di meja makan membuat para maid ketakutan.


" Bastardo, solo i malati sono incapaci di gestire (bajinggaan, hanya orang sakit saja tidak becus menangani.)"


Pria itu terus melempar semua benda pecah belah yang ada di atas meja. Ia meluapkan kemarahan dan kekesalannya dengan membanting itu semua.


" Signore Malvis, anda sebaiknya tenang dulu. Kita tidak boleh gegabah. Ini baru permulaan. Saya yakin Signore Malvis akan dapat menghancurkan  orang itu."


Malvis Bonaventura, pria berusia 25 tahun itu melonggarkan tangannya yang mengepal. Ia mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Rasa dendam yang terlanjur menyelimuti dirinya membuat pria itu kendali.


" Kau benar Vitus, aku harus tenang. Aku benar-benar harus tenang. Aku harus menyusun rencana yang matang untuk membuat uamo bastardo (pria bajingaan) bersujud didepanku memohon ampun."


Vitus, tangan kanan sekaligus asisten Malvis tersenyum melihat signore nya lebih tenang. Pria berusia 40 tahun itu tentu tahu pengaraian sang tuan.


" Vitus, siapkan keberangkatan kita ke negara itu. Aku ingin mengunjungi orang yang sudah berani mengusik keluargaku."


Vitus mengangguk paham. Ia pun segera melaksanakan apa yang diminta oleh tuannya itu.


*


*


*


Beberapa hari berlalu. Akhirnya Ar bisa bernafas lega saat ia diperbolehkan pulang oleh Dika. Masih ada satu hal lagi yang harus dia lakukan yakni menemui Anderson dan Rodriguez di tempat Jason. Tapi ia merasa ada hal yang lebih penting saat ini.


Ar bergegas menuju ke kampus. Bukannya tidak sabar untuk masuk kuliah akan tetapi ia ingin segera menemui Elisa. Sejak terakhir Elisa datang waktu di rumah sakit, Ar melarang gadis itu untuk datang lagi. Bukannya apa-apa, melihat Elisa datang membuat Ar semakin tidak sabar untuk pulang.


Ar sungguh merindukan gadis kecilnya itu. Senyum Ar mengembang sempurna saat melihat El tengah duduk di bangku taman bersama Mia. Ia pun berjalan lebih cepat untuk menghampiri El. Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat seorang pria yang ia kenal berjalan mendekat ke arah El.

__ADS_1


" Dean Benicio, mau apa dia?"


Ya, orang itu adalah Dean. Baik Mia maupun Roki memang tidak memberi tahu Ar akan kedatangan Dean ke tanah air. Semua itu semata-mata agar Ar bisa fokus akan pemulihannya.


Ar pun berjalan lebih cepat, tapi lagi-lagi langkah pria yang baru saja keluar dari rumah sakit itu terhenti. Ia melihat seorang pria lagi yang mendatangi El.


" Astogeee, apa-apaan ini . Baru ge gue tinggal beberapa hari tuh para kumbang dah mau ngambil kembang milik gue. Huuuh awas aja lu ye.'


Ar sungguh kesal melihat Edzar juga berada di sana. Ar menambah kecepatan langkah kaki nya. Ia sungguh tidak ingin gadisnya itu didekati para pria tidak jelas itu.


Sedangkan El sendiri merasa sedikit risih. Beberapa hari ini baik Edzar ataupun Dean sering kali menghampirinya, baik di kampus maupun di toko bunga. El bahkan terkadang harus menyelinap keluar kampus dari pintu yang berbeda agar mereka tidak bertemu.


Bukan tanpa alasan El melakukan itu. Baru saja kemarin muncul rumor yang mengatakan bahwa El adalah wanita penggoda. Bahkan Amber terang-terangan mengancam El saat masih di dalam kelas. 


" Jadi cewek jangan sok kecantikan deh lo. Jangan godain cowok gue. Lagian elo bukannya dah punya 2 bule. Emang nggak puas apa sama tuh bule. Punya nya bule kan gede-gede." 


Tampaknya El lupa jika kakak iparnya adalah putra dari pemilik universitas ini (baca Radi, suami Hasna '_' ). El benar-benar enggan berhadapan dengan Edzar dan juga Dean.  Bahkan saat ini semua mata menatap El karena dia dekati oleh dua orang pria tampan.


" Mau apa kau kemari?" tanya Edzar galak kepada Dean.


" Woi bocah, ini tempat umum. Tidak ada yang melarang ku ke sini. Lagian Elisa saja tidak keberatan aku menemuinya," jawab Dean tak kalah galaknya.


Elisa hanya membuang nafasnya kasar. Ia benar-benar enggan menghadapi kedua pria yang tidak jelas mau apa sebenarnya. Namun tampaknya kedua orang itu harus menelan pil kekecewaan saat melihat seorang pria yang memeluk El dari belakang bahkan langsung mencium pipi gadis itu.


" Hei sayang, kenapa kau nakal sekali. Bari ku tinggal beberapa hari kau sudah banyak yang menggoda. Haissh, sepertinya kau harus membawamu kemanapun ku pergi."


El sungguh terkejut, ia tahu betul suara siapa itu. Pun dengan Mia, tapi setidaknya Mia lega, bos nya datang tepat waktu. Walaupun sepertinya ia akan kena sidang berat setelah ini, lihat saja tatapan Ar kepadanya sudah seperti mau menguliti tubuhnya hidup-hidup.


" Bang, kamu sudah se~"

__ADS_1


Cup


Elisa tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena bibirnya sudah terlebih dulu di tutup oleh bibir Ar. Edzar dan Dean tentu terkejut. Terlebih Dean, ia benar-benar merasa kalah telak dengan saingan mafianya itu.


Sudah tidak bisa menembus pasar negara ini? Soal wanita pun aku kalah start. Huuh.


Dean seketika melenggang pergi. Saat ini ia benar-benar tidak ada mood untuk berbicara. 


Sedangkan Ar, ia langsung meraih pinggang el dan membawanya pergi dari sana. Mia yang paham pun seketika langsung pergi entah kemana.


" Bang, lepas. Malu dilihat orang."


" Tck, biarin napa sih."


El mendengus kesal mendengar penuturan Ar. Sedikit banyak El sudah tahu perangaian Ar. Jika dia bilang A maka harus A dan akan sulit diubah ke B. 


" Tapi bang, entar makin-makin aku digosipin."


Wajah Elisa berubah murung. Ar yang tidak tahu apa yang terjadi karena Mia belum membuat laporan pun langsung melepaskan tangannya dari pinggang El. Ar lalu membalikkan tubuh El hingga menghadap ke arahnya. 


" Maaf, aku beneran nggak tahu. Coba ceritain ada apa?"


El kemudian menceritakan semua yang terjadi kemarin. Baru kali pertama ini dia mengungkapkan perasaannya pada orang lain. Dengan Jasmine saja El tidak pernah mau bercerita. Dulu dekat dengan Olin juga El tidak bisa bercerita selepas ini.


Entah mengapa dengan Ar dia bisa meluapkan apa yang dia rasakan. Bahkan ia merasa lega setelah bercerita kepada Ar.


Jika El lega, Ar malah sebaliknya. Ia sungguh marah dengan perlakuan orang-orang tersebut. Tapi dia tidak boleh gegabah. Ini bukanlah daerah kekuasaannya yang dia bisa berbuat semaunya. 


TBC

__ADS_1


__ADS_2