
Dean tengah bersiap mengambil sang adik dari petugas kepolisian. Ya, mereka sudah berada di negara mereka sendiri. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam lebih akhirnya pesawat yang ditumpangi Olinda mendarat juga di lapangan terbang.
Namun rupanya Dean urung mengambil Olin di bandara. Ia akan menjemput sang adik saat sudah berada di jalan saja. Itu tentu lebih mudah dilakukan daripada di bandara.
Dean memerintahkan Rex dan anak buahnya untuk kembali menuju mobil. Mereka kemudi bergerak cepat saat melihat Olinda dimasukkan sebuah mobil tahanan. Gadis itu tampak pucat. Sepertinya Olinda tengah syok saat ini. Dean sungguh tidak tega melihat wajah adiknya. Ada sedikit rasa menyesal dalam diri Dean karena melibatkan sang adik dalam urusan seperti ini.
Dean berjanji tidak akan lagi menggunakan adiknya untuk urusan kartel Magna Arbor.
“ Di kilometer 138 kita lakukan eksekusi. Lumpuhkan beberapa mobil yang mengikutinya dulu. Ingat jangan ada yang hidup. Habisi semuanya untuk menghilangkan jejak. Rex apa sudah minta markas mematikan kamera pengawas jalan?”
“ Sudah tuan. Semuanya sesuai dengan instruksi tuan.”
Dean mengangguk, dan semuanya mengatakan siap. Pas di Km 138 satu persatu mobil yang mengitari mobil tahanan ditembaki oleh anak buah Dean. Bahkan anak buah Dean ada yang melempar granat sehingga ledakan tak terelakan.
“ Sepertinya kita dibajak!” ucap sopir mobil tahanan yang membawa Olinda.
Mereka berusaha mengemudikan mobilnya lebih cepat. Namun sial, tampaknya mereka pun tidak akan berhasil meloloskan diri dengan muda.
Blaaaam
Mobil tahanan tersebut oleng saat salah satu ban mobilnya terkena tembakan. Mau tidak mau sang sopir menghentikan laju kendaraan. Tampak wajah ketakutan pada sopir dan rekannya tersebut. Sedangkan Olinda tentu dia tersenyum lega. Ia tahu sang kakak datang menyelamatkan dirinya.
Dean dan Rex langsung turun dari mobil dan menghampiri mobil tahanan tersebut. Tanpa basa-basi Dean langsung menembak kepala sopir daan rekan yang berada di sebelahnya.
Dooor
Dooor
Dooor
Dooor
Bahkan Dean tidak puas hanya dengan satu tembakan saja. Ia menembak beberapa kali padahal kedua orang itu jelas-jelas sudah mati.
__ADS_1
Rex sudah berlari ke belakang bagian mobil terlebih dulu untuk membukakan pintu. Olind langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Rex dan memeluk pria tersebut.
“ Sudah jangan takut, semuanya sudah baik-baik saja sekarang.”
Rex merasakan tubuh Olinda yang begitu gemetar. Pria itu tentu tahu kalau Olinda saat ini sangat ketakutan.
Dean yang baru menghampiri Olin langsung mengusap kepala sang adik. Ia menyalurkan sayangnya dan berkali-kali minta maaf kepada sang adik. Olinda pun berpindah dari pelukan Rex ke pelukan Dean.
“ Maafkan kakak ya, tidak seharusnya kakak membawamu dalam urusan ini.”
Olinda hanya diam namun kepalanya membuat sebuah anggukan. Tak berselang lama tubuh gadis itu merosot tak sadarkan diri. Dean langsung menggendong tubuh sang adik dan memasukkan ke dalam mobil. Ia harus segera membawa Olinda pulang ke kediaman mereka.
“ Haish King, kau benar-benar menyulut api rupanya. Baiklah akan ku buat api itu membara dan kita lihat siapa yang akan terbakar terlebih dulu.”
🍀🍀🍀
Setelah lewat satu hari akhirnya tim medis RS. Mitra Harapan berada di universitas Nusantara. Mereka benar-benar melakukan persiapan satu hari sebelumnya. Bahkan Dika memberi instruksi untuk datang setelah subuh agar mereka semua dalam hal ini adalah para mahasiswa tidak terkejut. Terlebih bagi mereka yang memakai barang haram tersebut.
Awalnya seluruh staf pengajar dan tenaga kependidikan sangat terkejut dengan kabar bahwa universitas mereka pernah disatroni pengedar obat terlarang kelas kakap. Sungguh itu adalah hal yang diluar akal sehat mereka. Namun beberapa bukti Dika keluarkan membuat mereka semakin yakin.
Elisa sungguh terkejut saat mengetahui kampus begitu ramai. Dia semakin terkejut saat melihat Ar di sana. Dengan menggunakan setelan celana panjang warna hitam dan kemeja lengan pendek dengan warna senada, Ar menyandang sebuah tas di punggungnya. Penampilan Ar semakin menawan dengan sebuah sneakers berwarna putih.
“ Kau, apa yang kau lakukan disini?”
“ Aku? Aku tentu menimba ilmu.”
Mulut Elisa menganga lebar, ia merasa Ar tengah bercanda. Bagaimana mungkin Ar adalah mahasiswa di sana.
“ Tck jangan berwajah heran begitu. Aku ini memang mahasiswa disini, nih kamu bisa lihat kartu mahasiswa ku.”
Ar kemudian mengeluarkan kartu mahasiswa dari dompetnya, dan benar saja di sana tertulis bahwa Arduino Aaron Linford adalah mahasiswa pascasarjana di Universitas Nusantara. Elisa menatap wajah Ar yang lebih tinggi darinya itu, dalam hati gadis itu sedikit merasa janggal dengan kelakuan Ar. Bagaimana bisa kebetulan seperti ini, itulah yang dipikirkan El.
” Oh iya apa kau tahu apa yang terjadi sebenarnya di sini.”
__ADS_1
Ar kemudian menjelaskan kepada Elisa apa yang tengah terjadi. Bahkan dengan gamblang Ar menjelaskan mengenai Olinda tanpa ada sesuatu yang ditutupi. Elisa tentu terkejut dengan penjelasan ar mengenai sang sahabat. Bagaimana mungkin Olinda adalah pelaku pengedaran barang haram itu.
Elisa menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk mengelak kebenaran yang Ar berikan.Olin adalah sosok gadis yang imut, baik, dan ramah. Bagaimana bisa dia menjadi pengedar narkoba dengan kapasitas yang begitu besar. Namun ada hal yang menjadi pertanyaan besar bagi El, mengapa Ar tahu mengenai semua itu.
“ Lalu mengapa kau mengetahui semua hal ini?”
Glek, Ar menelan saliva nya dengan begitu susah. Berhadapan dengan Elisa membuatnya kelepasan dan tidak bisa mengontrol ucapannya. Ar pun kebingungan menjawab pertanyaan dari gadis itu.
Hingga sebuah suara membuat Elisa menoleh ke belakang dimana sumber suara itu berada. Namun tampak raut wajah tidak senang di sana. Sepertinya Elisa enggan bertemu orang itu.
Ar pun paham dengan gelagat yang ditunjukkan oleh Elisa. Dengan spontan Ar langsung menarik pinggang Elisa dan mendekatkan pada tubuh tinggi nya.
" Siapa pria itu, mengapa begitu dekat dengan Elisa?" gumam Edzar. Ya, orang yang memanggil Elisa adalah Edzar. Namun tentu Edzar tak ambil pusing. Ia tetap terus berjalan menghampiri Elisa.
" El, apakah kamu sudah melakukan pengambilan sampel darah?"
" Belum, setelah ini kau mau kesana kak."
Mendengar Elisa memanggil pria di depannya itu dengan sebutan kak membuat Ar tidak suka. Dengan spontan Ar mencium kepala Elisa membuat gadis itu membulatkan kedua matanya. Namun Ar bersikap acuh. Dia sungguh tidak suka dengan Edzar yang sok akrab tersebut.
" El, siapa pria ini?"
" Aku kekasih Elisa, perkenalkan namaku Arduino. Kau bisa memanggilku Kakak Ar, Abang Ar, Uda Ar, atau Ar Hyung. Terserah yang penting aku adalah kekasih El. Ayo sayang kita harus antri untuk melakukan pengambilan sampel. Kasihan kakak iparku itu nanti menunggu lama."
El yang tidak mengerti hanya menurut saja kemana Ar melangkah. Lagian dia juga enggan berlama-lama berbicara dengan Edzar.
Sedangkan Edzar dia mengepalkan tangannya dengan sempurna. Tampak ia sungguh marah dengan apa yang dikatakan oleh Pria berwajah bule tersebut.
" Sial, apa benar pria itu adalah kekasih El. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengambil El dari tanganmu bule edan.
TBC
Ekheeem, hehehhe. Maap ye hari ini othor up nya satu. Besok deh ye yang doble up. Kemaren abis khilaf up banyak hahaha. Jadi sekarang nguras otak nih buat nulisnye.
__ADS_1
Barang kali ada yang mau ngirim bunga ape kopi biar othor semangat gitu hihihi.
Happy reading readers.