Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 40. Fix Pawangnya


__ADS_3

El sudah meneteskan air matanya saat melihat Ar berada di brankar dengan tangan diinfus dan mata terpejam. Ia sungguh tidak tahu jika Ar memiliki penyakit yang berbahaya. 


Ya, Riko dan Mia sudha menelaskan bagaimana keadaan Ar yang sebenarnya. Mereka juga mengatakan bahwa Ar sudah lebih baik sekarang pasca operasi. 


Ar yang baru bangun mencoba mengerjapkan matanya. Ia tersenyum, dipikirnya mimpi saat melihat Elisa duduk di sampingnya. Setelah sadar Silvya bisa langsung kembali ke rumah, tentu masih dengan pengawasan Dika. Sedangkan Ar masih tinggal karena harus memantau reaksi tubuh Ar terhadap ginjal yang ditransplantasikan.


" Kau cantik sekali El. Haish, andaikan kau benar di sini. Tapi masa iya di sini sih. Kan kamu nggak tahu aku di rumah sakit. Lagian siapa yang ngasih tahu kamu. Haish, lihat kamu dalam mimpi aja senengnya minta ampun."


Elisa yang tadinya menangis kini terkekeh geli mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Ar. Tak hanya El, Riko, Mia dan Benjiro pun terkekeh geli. Mereka benar-benar tak habis pikir, bos nya benar-benar absurd sekarang ini.


" Apa mungkin efek operasi ya gue jadi halu gini. Bukannya operasinya udah beberapa hari yang lalu. Yakali halu nya baru sekarang."


Roki sungguh tidak kuat lagi menahan tawa. Ia pun terbahak seketika melihat wajah Ar yang sungguh menggelikan. Sedangkan El ia menggenggam tangan Ar. Ia mengusap lembut tangan pria bule tersebut.


" Laaah kok tangannya kayak beneran sih. Gue mimpi bukan sih."


" Bang, ini aku El."


" Eeeh suaranya jelas banget lagi. Wah halu ku parah. Kayaknya harus minta Depant-01 punya nya Jason nih biar otak agak bener."


Semua benar-benar tidak habis pikir dengan ulah Ar tersebut. Tampaknya Ar benar-benar beranggapan bahwa dia berhalusinasi.


" Sudah cukup ngelawaknya Ar. Itu cewek lo emang ada disini."


" Ar seketika menegakkan tubuhnya. Ia menatap El dengan seksama saat mendengar ucapan sang kakak ipar. Ar langsung menarik tangan El dan memeluk gadis itu. Namun dengan sigap Dika menarik tubuh Ar untuk kembali berbaring.


" Belum halal, nggak boleh peluk-peluk."


" Elaah kakak ipar. Nyicil boleh kali. Kayak nggak pernah aja."


" Wohooo sorry to say ya. Ane kagak pernah melakukan hal itu kepada Sisi sebelum kita sah sebagai suami istri kalau nggak percaya baca aja karya author disebelah yang judulnya Doctor Dika's Wife is Queen Mafia."

__ADS_1


El tentu tersipu. Wajahnya gadis itu memerah layaknya udang rebus. Di sela obrolan absurdnya dengan sang kakak ipar. Mata Ar memicing tajam ke arah Roki dan Mia.


Glek


Roki dan Mia tentu tau apa kesalahan mereka. Keduanya seketika langsung menunduk. Mereka tentu siap menerima hukuman dari si bos. El yang tahu arti tatapan Ar langsung menepuk tangan pria yang terbaring di brankar itu dengan lembut.


" Jangan salahkan kak Mia dan Kak Roki. Aku yang memaksa mereka memberitahukan dimana keberadaanmu."


Senyum, hanya itu yang Ar lakukan saat Elisa membela Roki dan Mia. Keduanya tampak tersenyum sama, merasa nyawa mereka terselamatkan.


“ Emang bener, ini fiks pawangnya. atuh buktinya adem-adem aja,” batin Roki.


Ar kembali meminta Dika agar bisa pulang. Tapi sekali lagi Dika belum mengizinkan. Ar masih harus diobservasi mengenai reaksi tubuhnya terhadap organ baru tersebut, kira-kira terjadi penolakan atau tidak. Setidaknya seminggu lagi untuk Ar berada  di rumah sakit.


Padahal Ar benar-benar sudah mati kebosanan. seketika ia teringat pada Anderson. Pria yang seharusnya dibiarkan berdarah-darah itu terpaksa harus diobati karena sudah dibawa ke rumah sakit. 


“ Anderson bagaimana Rok?”


Ar menanyakan hal tersebut kepada Roki. Tentu saja hal tersebut dilakukan saat Mia sudah membawa Er pulang dari rumah sakit.


Ar terdiam, dia benar-benar sedang memikirkan cara bagaimana membuat pria itu menyesal karena telah berbuat seperti itu. Hingga sebuah ide menghampiri otak Ar.


“ Apakah pria itu gemar bermain?”


Roki memicingkan matanya saat mendengarkan pertanyaan Ar. konteks bermaindi sini mungkinah ‘itu’, jika iya Roki sendiri kurang paham.


“ Haish, kau tak paham pasti. Seingtku pria itu benar-benar maniak sekss. Aku tentu punya cara untuk menyenangkannya. Tolong siapkan Rok, aku akan keluar sejenak dari ruangan ini.”


Mata Roki membulat sempurna. Keluar dari ruangan ini berarti Ar akan menyelinap keluar dari rumah sakit. Jika ketahuan oleh dr. Dika bisa dirajam Roki.


“ Yang benar saja bos. Jangan gila deh bos. nanti aku yang kena masalah.”

__ADS_1


“ Haishhh, jangan bawel deh. Sejak kapan ente akut sama kakak ipar ku. Udah siapin, aku mau ganti baju  dulu.”


Nekat. Hanya itu satu kata yang bisa menggambarkan apa yang Ar lakukan. Bahkan Ar sudah menarik jarum infus di tangannya. Ia kemudian masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian. Roki hanya bisa menatap tidak percaya ke arah sang bos.


“ Emang gak bisa tunggu seminggu lagi seperti kata dokter Dika.”


“ Kasihan dia kalau nunggu seminggu lagi, nanti anunya nganggur terlalu lama kan nggak lucu. Biar dia merasakan kenikmatan yang hakiki.”


Roki membuang nafas nya kasar. Ia kemudian mengeluarkan tabletnya dan mulai memanipulas cctv. Roki tidak terlalu ahli dalam bidang itu tapi dia sedikit banyak paham jika hanya membuat cctv berhenti untuk sesaat.


“ Clear bos.”


" Thankyou. Kau disinilah, tidur gih disana.”


Ar berjalan cepat keluar dari rumah sakit. Dengan mengenakan celana panjang hitam, kaos lengan panjang senada dan hoodie hitam juga Ar segera menuju ke tempat parkir. Ia harus ke tempat JAson sekarang juga. Ar tidak akan membiarkan Anderson berlama-lama santai di sana.


Roki yang berada di ruang rawat Ar sungguh merasa cemas. Ia berulang kali melihat ke arah pintu khawatir dr. Dika datang untuk memeriksa keadaan Ar. bagaimanapun juga ar saat ini masih ada dalam pengawasan dokter.


“ Buseet deh, gue punya bos satu tapi berasa punya bos 3. Mana semua nyeremin kalau lagi mode angry. Terlebih dokter Dika, kalau lagi marah malah ngelebihi Ar. Jangan lupakan Queen, berasa mau ditelen hidup-hidup gue.”


Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebenarnya Dika tadi sudah visit ke ruangan Ar jadi akan aman-aman saja karena pasti dr. Fika akan kembali esok hari. hal tersebut tentu sudah jadi pertimbangan Ar mengapa dia memilih meninggalkan rumah sakit pada malam hari.


Tapi rupanya kepergian Ar ke rumah sakit Jason tidak semulus kelihatannya. Mobil Ar ternyata diikuti oleh beberapa mobil lain. Ar hanya tersenyum miring. Ia tentu sudah menduga hal tersebut.


“ Kepung!”


TBC


Note:


Ekhem, permisi... Kulonuwun, numpang nitip pesen ya heheh.

__ADS_1


Maaf kalau nanti muncul pertanyaan readers, elaaah Tor kok musuhnya kagak abis-abis sih. Ehmm gini ya ,othor mau sedikit jelasin. Di sini konsepnya Ar kan emang mau pensiun, nah dia harus mberesin semua mafia-mafia yang mencari masalah di negeri ini. Dia ingin tuh saat dia pensiun nggak ada masalah-masalah besar dalam arti mafia yang mengacau. Begitu, semoga bisa diterima ya kalau musuh Ar bermunculan.


Terimakasih readers. Matursuwun.


__ADS_2