Mafia Terjebak Di Pesantren

Mafia Terjebak Di Pesantren
48


__ADS_3

Queen masih berdiri di samping mobil sedangkan Azmi mengeluarkan sesuatu yang akan di bawa dalam perjalanan, melihat mobil yang tidak bisa di gunakan lagi lebih tepatnya ban mobil yang bocor membuat Azmi berinsiatif untuk berjalan kaki,tidak mungkin kan dia harus menunggu hutan ini untuk mendapatkan bantuan?, sedangkan orang sangat jarang lewat karena jalan ini memang khusus untuk orang-orang Abah Umar,itu pun keluar satu Minggu sekali untuk membeli rempah makan sedangkan lainnya mereka akan menggunakan dengn sederhana, seperti ingin memakan ikan maka mereka akan memancing,dan kebanyakan mereka akan memakan sayur yang di tanam,klau bisa di bilang di sana memang sangat sederhana,tapi damai dan tentram,di pesantren Abah Umar tidak Hanya belajar ilmu agama,di saja juga mengajarkan kita menjadi mandiri dan memanfaatkan alam, sungguh sangat langka bila ada pesantren seperti itu.


"apa tuan yakin kita akan berjalan kaki!.."dengn menatap jalanan yang akan mereka lalui,sudah di pastikan ini masih jauh.


"HM!.."


hanya menjawab dengn deheman atas pertanyaan itu,dia masih sibuk milih barang yang akan iya bawa, sedangkan Queen sama sekali tak berminat membantu baginya satu ransel punya dirinya sudah cukup.


setelah membereskan barang yang akan di bawa, sebenarnya tak banyak yang azmi bawa hanya sebuah koper kecil berisi minuman dan makanan, sebenarnya itu untuk azim tapi kalau seperti ini dia harus rela makanan azim dia bawa sebagai bekal perjalan.


sedangkan koper lainnya,masih di dalam mobil karena tak mungkin ia akan membawa itu semua dalam perjalan yang kiranya masih jauh, mungkin setelah sampai dia akan meminta orang Abah Umar untuk menjemput nya.


selama perjalan tak ada pembicaraan dia antara mereka berdua,mereka berjalan beriringan dengan membawa barang masing-masing,cuaca yang trik tapi untung pepohonan yang tinggi dapat membuat mereka berteduh selama perjalanan.


"saya harus memanggil anda siapa sekarang!.."Azmi berinisiatif membuka pembicaraan, walaupun terkesan dingin tapi lumayanlah dari apa suasana sunyi semakin sunyi.


"Aqila saja!.."


"apakah itu nama asli mu?.."Azmi masih sangat penasaran dengn istrinya ini yang sejuta misteri, semenjak dia mengetahui istrinya hanyalah berpura-pura polos,dia tak lagi seperti dulu,tapi dia masih bertanggung jawab atas wanita di sampingnya.


Queen hanya menjawab dengn deheman,dengn pandangan masih lurus.


"apa menurutmu tentang diriku?.."Queen menoleh untuk meminta jawaban.


"aneh!.."

__ADS_1


Queen menyerngitkan keningnya mendengar itu,aneh?,apanya yang aneh?.


"dirimu seperti memiliki kepribadian ganda!.."Queen hanya terdiam,tapi dia menghela nafas pelan,memang benar dia memiliki kepribadian ganda, mungkin bagi orang lain dia sudah di sebut tidak waras.


"menurut mu,mana yang kau senangi dengn tingkah ku?..aku yang dulu atau sekarang?.."


"aku tak akan memilih keduanya!.."jawaban sedikit menyakitkan bagi Queen yang merasa aneh di dadanya.


"aku hanya ingin melihat aslinya Tampa berpura-pura di depan ku dan keluarga ku!.."Azmi menatap Queen yang lagi dan lagi terdiam.


"knp harus berpura-pura hilang ingatan?.. apakah kau benar orang luar yang memiliki kasus atau lainya?.."pertanyaan ini juga membuat Azmi penasaran.


"hidup ku tak seindah dirimu!.."jawab Queen pelan,matanya memancarkan kesedihan tapi setelah mengingat Gimana kehidupan dia selama bersama mereka membuat tatapan kebencian yang teramat besar,Azmi saja di buat merinding karena tekanan udara tiba-tiba dingin dan menusuk.


mereka berhenti sejenak karena sungguh perjalan yang tidak lah datar saja,mereka menanjak dengn perlahan membuat cukup melelahkan, dan Tampa mereka sadari mereka sudah mulai akrab kembali,lebih tepatnya Azmi yang sudah bisa menyesuaikan sifat Queen yang ini, walaupun Azmi merindukan sosok manja dan tatapan polosnya.


"mau gendong?.."tawar Azmi merasa perjalan tidak jauh lagi tapi dia kesian dengn Queen saat ini.


"sebenarnya aku tidak lemah,tapi engk papalah,ada gunanya juga punya suami kyk gini.."gumamnya masih terdengar dengn Azmi yang masih merasa sosok ini aneh.


Azmi menggendong queen di belakang,membuat kepala queen berada di pundak Azmi,mereka sangat dekat kalau seperti ini,Azmi hanya terdiam karena jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, membuatnya takut Queen akan mendengarnya.


"jantung mu seperti nya melampaui batas normal?.."bisik Queen sengaja tepat di telinga Azmi,dia sangat geli melihat wajah Azmi yang langsung berubah merah.


"kau terlalu berat!!.."langsung menurunkan Queen begitu saja, membuat Queen cemberut.

__ADS_1


tingkah itu?..Aqila si manja itu?.


Azmi mencoba mengalih pandangan dan terus berjalan,karena dia Malu saat ini apalagi Queen benar-benar bersikap seperti Aqilanya.


"dia benar-benar memiliki kepribadian ganda!.."


"mas!.."


sontak Azmi berhenti,dia membalikkan tubuhnya dengn menatap Queen yang ingin menangis,hal itu membuat Azmi kembali kebelakang.


"knp Aqila?.."nada khawatir dengn membolak-balik tubuh Queen.


"gendong!.. hiks,mas engk sayang sama Aqila?.."dengn memanyunkan bibirnya.


Azmi terdiam sejenak,dia tau wanita ini kembali bertingkah seperti Aqila,tapi Azmi kasian juga pasti dia kelelahan,Azmi frustasi sendiri,di sisi lain dia tau wanita ini tidak lah lemah melainkan hanya berpura-pura tapi dia masih seorng suami yang masih bertanggung jawab pada istrinya.


ribet banget!


Azmi menggendong kembali Queen,Azmi mencoba menekan egonya,dia tak ingin menjadi Suami tak bertanggung jawab meninggalkan istrinya di tengah hutan seperti ini.


dalam hati Azmi juga ingin memperbaiki hubungannya klau Queen setuju',tapi setelah dia tau siapa istrinya ini yang sebenarnya,cerai!..satu kata yang tak pernah Azmi ingat karena dia benci perpisahan bagi dirinya menikah adalah suatu takdir yang akan ia pertahankan hingga ajal menjemput,tapi dia tak akan bisa mempertahankan bila memang dari sana nya sudah tertulis dia tak berjodoh.


Queen tersenyum licik, akhirnya dia bisa memperbodoh suami tersayangnya ini,ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak sekarang.


dasar licik.

__ADS_1


__ADS_2