Mafia Terjebak Di Pesantren

Mafia Terjebak Di Pesantren
8


__ADS_3

"selanjutnya.."suara azim yang memakai mikrofon membuat terdengar jelas.


tiba-tiba satu wanita datang dengn pakaian mencolok menuju panggung.


"halo, perkenalkan nama saya Alia Syafitri,asal Jakarta,kesini ingin mencalon jadi istri Gus tanfan..."suara yang sengaja di lembut-lembutkan membuat azim ingin muntah di sini.


"Anda boleh turun,taruh di sini data anda.."


wanita itu menurut,lalu menaruh berkas biodata dirinya dan melenggok turun.


"selanjutnya!."


hari semakin sore dan wanita yang ingin mencalon sudah mulai habis,kini memang keadaan lagi ramai,apa lagi santri-santri ada di sana juga begitu dengan ustadz dan ustadzah pesantren ikut menyaksikan juga.


"dimana Aqila?..?"umma berbisik pada suaminya yang berada di sampingnya dengn arah mata yang liar mencari seseorang.


"mungkin dia kabur!.."Azmi dengn santai mengatakan itu,karena mendengar bisikan ummanya membuatnya lebih dahulu berbicara dari pada Abinya.


"kamu ini ya, keadaan sudah seperti ini malah terlihat santai..gimana kalau Aqila enggak muncul emang mau milih di antar wanita-wanita itu.."umma mencubit pinggang putranya ini dengn perasaan kesel.


Azmi hanya meringis pelan lalu diam seperti tak punya masalah,hal itu yg membuat umma semakin kesal,ingin sekali menghajar putranya ini.


"sabar umma!.."


"diam!!."tatapan umma membuat Abi diam,bukan takut cuman enggak mau nyari masalah pada wanitanya itu kalau sudah marah kayak singa kelaparan.


"apa tidak ada lagi?!.."azim bertanya karena tidak ada yang maju lagi tapi dalam hati khawatir karena mbak aqila enggak muncul-muncul.


"mbak Aqila di mana sih.."


karena merasa orang yg di tunggu enggak datang-datang apalagi wanita-wanita itu sudah banyak yang protes karena acara tidak di tutup juga.


tiba-tiba suara seseorang membuat azim bernafas lega.

__ADS_1


"tunggu!!..hah..hah.."dengn nafas yang tak beraturan queen naik ke atas panggung.


"maaf ya semuanya,saya sedikit telat.."queen meminta maaf dengn tersenyum.


"akhirnya Aqila datang!.."umma yg melihat Aqila bernafas lega begitu dengan Abi,beda dengn Azmi biasa-biasa saja tak ada ekspresi dalam wajahnya,datar.


"nama saya Aqila,mau jadi istri Gus.., terimakasih.."lalu menyodorkan kertas di meja dan langsung pergi.


hal itu sontak membuat mereka yang ada di sana melongo,gimana tidak tercengang?..udah terlambat datang,sekali memperkenalkan singkatnya ngauzubillah.


"siapa gadis kecil itu?.."


"kau tak dengar namanya Aqila!.."


"aku tau tapi dari wajahnya dia bukan orang lokal.."


"mungkin keluarganya ada di sini.."


"****** kecil kurang ajar, sungguh tak punya sopan santun..sudah buat orang menunggu kini menyampaikan nya hanya satu dua patah.."


"maaf kan gadis kecil itu ya kiyai nyai,Gus dan para ustadz ustadzah.. sepertinya gadis kecil itu hanya bermain-main saja,tak serius akan hal ini berbeda dengan kita.."wanita itu meminta maaf dengn tatapan lembut yang di buat-buat membuat keluarga ndalem kesel kecuali Azmi yang bisa saja.


"kenapa anda mengatakan itu Nona?.."azim berkata dengan tatapan tajam dia tak suka calon kakak iparnya di bilang seperti itu, walaupun hanya pura-pura tapi azim usahakan harus beneran.


"saya orangnya pandai menilai orang lain,dari tatapannya saja dia orang yang angkuh dan sombong.."dengn berani wanita itu mengatakan itu pada semua orang.


"jaga bicara anda,anda pandai menilai orang lain tpi tidak pandai menilai diri sendiri...lihat diri sendiri terlebih dahulu baru menilai orang lain..."


bukan azim melainkan Azmi mengatakan itu dengn dingin dan tegas, walaupun dia orangnya seperti ini tapi tak tega ada orang lain yg menilai seperti itu, ucapan azmi membuat wanita itu terdiam begitu pun dengan yang lain.


"sampai di sini acara kita,besok akan di umumkan siapa yg akan menjadi istri gus Azmi Alistair tirgantara.., assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.."setelah itu turun dan bubar dari sana begitu pun dengan yang lain.


berbeda dengan satu gadis yang berada di atas pohon yang lumayan jauh dari sana tapi mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"wah, semakin menarik.."queen tersenyum miring,lalu Tanpa sepengetahuan orang lain dia loncat begitu santai dan menghilangkan dari sana.


.


"kak..liat sini deh.."azim memanggil Azmi yang baru masuk ke kamar.


"liat ini kaK..,mana tau kakak ada yang tertarik,kita batalkan saja mbak Aqila yang pura-pura itu,kita cari beneran buat istri kakak.."azim sengaja menunjukkan biodata wanita-wanita tadi,tapi bukannya menggubris azim malah melongos langsung kekamar mandi.


"punya kakak gini amat!.."azim kesel sendiri karena dia diabaikan.


.


hari ini keluarga ndalem makan bersama termaksud Aqila juga.


"jadi gimana?.."


"apanya gimana?."sahut umma yang tak mengerti maksud dari putra bungsu nya.


"jadi gimana,tetap mbak Aqila atau wanita lain.."sesabar mungkin azim menjelaskan.


"klau umma lihat dari biodata mereka pada baik-baik semua,dan latar belakang yg bagus.."ujar umma yang mengambil makanan untuk suaminya.


"biodata bisa palsu umma,dan kita tak perlu tau latar belakangnya seperti apa! klau memang cocok yaudah nikahin aja..."sahut Abi menjelaskan.


"ha bener kata Abi.."celatuk azim.


"Azmi engk mau nikah!.."mata Azmi fokus pada makanan tapi telinga setia mendengarkan.


"ini kesempatan bagus loh kak,buat kakak nikah..lagi pula kakak udah tua loh,apa gak Takut kalau enggak laku..."ucapan azim yang ceplas-ceplos membuat queen yang dari tadi dia hampir saja tertawa lepas tapi melihat tatapan dingin Azmi membuat queen pura-pura takut.


"Azmi!!, jangan buat Aqila takut.."kini gantian pula tatapan umma yang menatap tajam membuat Azmi mengalihkan pandangannya menjadi menunduk tak peduli.


"yaudah nikahkan mbak Aqila aja,bukankah kak Azmi bilang ini bukan main-main?.."azim seperti belum puas mengejek kakamnya yang dingin ini.

__ADS_1


"sudah makan,ingat azim hukuman mu tetap berlaku jadi jangan sampai Abi tambahkan lagi..."tegas Abi membuat azim diam lagi pula ucapannya di abaikan oleh Azmi membuatnya kesel.


"enak juga punya keluarga kayak gini.."Tampa sepengetahuan mereka queen menatap mereka sendu,tidak ada pura-pura melainkan hatinya yang kini lagi berperan.


__ADS_2