
"wow!..indah sekali.."
Queen bersorak senang,dia baru kali ini melihat pemandian yang sangat indah, memang pernah melihat sungai indah tapi itu hanyalah buatan manusia tapi ini adalah sungai asli dan bersih,air yang jernih dengn bebatuan yang besar maupun kecil,ada yang rendah atau dalam airnya,ini sangat asri dan terjamin tidak akan ada yang mengintip,karena mereka seperti memasuki sebuah ruangan Tampa atap yang menjulang agar tidak ada yang melihat dari luar,air yang deras dan lebar bnyk sekali santri² yang tertawa dan bercerita sambil mencuci pakaiannya di atas batu.
bagaimana Queen tidak takjub coba,di sini sangat indah dan menyenangkan,klau gini dia betah mandi berlama-lama di sini.
"di sini memang indah Aqila,di sini juga favorit Imah dan santri lainnya!.."jelas Imah dengn tersenyum menatap Queen yang melihat sekeliling.
"ayok mandi!!.."ajaknya pada Queen.
mereka pun meletak baju bersih mereka di sebuah sampiran yang terbuat dari kayu yang memajang,dan bnyk baju-baju santri² lain yang Tengger di sana,setelah itu membawa sabun di sebuah batu yang cukup besar yang agak jauh dari keramaian.
"gimana?.."
Queen menoleh ke Imah dengn senyum lepas,"sangat menyenangkan,klau tau gini dari kemarin kesini!.."mendengar itu imah jadi tertawa lepas,tapi dengn cepat menutup mulut,sebagai seorang Ning pasti mementingkan sebuah sopan santun dan etika dalam apapun dan di manapun.
"untuk kali ini Imah jangan mikirin klau seorang Ning!..anggap aja hari ini lepas dari yang namanya etika,kita di sini tidak akan ada yang tau!..,"ucapan Queen yang kayak setan saja,tapi itu hanya ingin agar Imah tidak tertekan saja, pasti bagi seorang Ning sudah di ajarkan etika dan sopan santun yang ketat sejak kecil,apa salahnya klau kali ini dia tak memikirkan itu.
Imah yang tadinya terdiam kini mengangguk cepat,dia juga butuh kebebasan dalam melakukan hal,asalkan tidak kelewatan itu tidak akan masalah.
"HM Imah bisa berenang?.."Queen yang merasa tidak mau hanya duduk di tepi batu saja pun berinisiatif bertanya.
__ADS_1
"bisa!.. walaupun tidak terlalu!.."mengucapkan itu sedikit ragu.
"bagus!..ayok kita berenang di sana!.. terlihat sedikit dalam,yang juga tak ramai!.."ucap Queen sedikit mengencangkan suaranya,karena air yang deras membuat suara ombak yang kuat.
"apa tidak berbahaya?.."ucapnya sedikit takut,dia tak pernah berenang lagi setelah waktu itu dia hampir tenggelam,jadi dia hanya di tempat yang rendah bersama santri² lainya di sebelah kiri yang rendah.
"tenang selagi Aqila ada,Imah akan aman!.."mengucapkan itu dengn semangat, membuat Imah tak tega menolak.
"hitung mundur kita mulai!.."ujar Queen sudah berada di dalam air bersama dengn Imah yang batas airnya masih sepinggang.
"tiga!..dua!!..dua setengah!..masih setengah!..setengah tambah dikit!.."Imah memutarkan bola matanya dengn jengah,ada ada aja kelakukan istri Gus idolanya ini.
"satu!..mulai!. "Imah jadi kaget mendengar nya, langsung saja ikut berenang kerah Queen yang berenang dengn tertawa, seneng kali liat muka Imah kyk gitu.
"mana ada ya!..Imah tuh yang lambat!..ayok cepat,klau Imah menang suatu hari nanti bakal Aqila kasih hadiah deh!.."suara yang cukup tinggi dengn menoleh kebelakang.
"bener ya!.."mendengar hadiah membuat Imah jadi semangat membuat nya mempercepat kakinya yang menendang air.
"semangat sekali mendengar hadiah!.."Queen Sampek keheranan melihat,dia pun yang tak ingin kalah juga mempercepat gerakannya.
Tampa sadar mereka semakin jauh dari keramaian,memang pemandian di sini sangat luas jadi leluasa untuk berenang.
__ADS_1
"aqi..hah..la.."Imah sudah lemas sekarang,dia ingin menepi tapi kakinya tiba-tiba keram, membuat susah bergerak,nafasnya juga tercekat sekarang.
Queen melihat Imah yang kesusahan bernafas akibat timbul muncul di air,dengn cepat membalikan badannya dengn cepat menggapai tubuh Imah ketepi bantuan.
"Imah gak papa!.."dengn nada khawatir,jelaslah Queen khawatir ini anak kiyai woy,bisa abis dia kena amuk satu pensatren ini gara-gara idenya.
"engk papa!.."nafas Imah sudah mulai teratur,dia hanya sedikit lemas saja, sedangkan kakinya sudah mulai enakan saat di urut Queen.
"terimakasih udah mau nolongin!.."
"huftt Aqila yang harusnya minta maaf gara-gara Aqila,Imah jadi gini!..maaf ya!.."dengn menatap Imah yang malah tersenyum padanya.
"engk papa!..eh udah mulai gelap!.."
sontak keduanya melihat langit,dan benar saja ini sudah mulai gelap dan mereka juga tidak sadar kalau pemandian ini sudah tampak sunyi dari kejauhan.
"aduh,gimana ini Aqila bisa kena hukum kita!..ayok cepat bersihkan tubuh kita dan pulang!.."nada Imah khawatir, jelas lah khawatir dia anak bungsu dari seorang kiyai yang tegas di sini,tak peduli dia anaknya atau saudara,tapi di sini ada aturan sendiri yang di buat abahnya itu.
"tenang Imah,nanti Aqila yang cari alasan!.."Queen yang masih tenang,berjalan di tepi sungai itu menuju tempat baju mereka berada tadi,cukup jauh memang tapi ya mau gimana lagi.
setelah selesai mereka bergegas pulang dari sana,di perjalanan sudah mulai gelap sudah terdengar suara adzan dari musola pesantren ini,alami sekali,hanya mengandalkan suara asli alias Tampa ad mik atau alat pembesar volume,Queen juga baru tau ternyata di sini tidak ada listrik membuat mereka seperti ada di abad terdahulu yang mana masih menggunakan obor atau lampu minyak.
__ADS_1
benar-benar sangat sederhana sekali!