
Shane tampak sedang mematung di dekat kayu penyangga di dalam gudang, saat kemudian Zizi dan Ali serta yang lain datang, tampak Shane seolah memberi isyarat pada mereka agar segera mendekat.
"Ada apa?"
Tanya Zizi.
"Aku mendengar sesuatu di dalam kayu ini."
Kata Shane.
Semua pun akhirnya mendekat, dan dari semuanya Lori yang tiba-tiba tampak sangat antusias karena...
"Loriiii... Loriii..."
Suara itu terdengar sangat lirih seperti terbawa sepoi angin yang berbisik pelan, namun tetap bisa Lori tangkap suara itu menyebut namanya,
"Loriii... Loriii..."
Suara itu suara perempuan, suara yang seharusnya tak asing untuk telinga Lori, meskipun Lori tak mampu mengingat siapa dan di mana ia pernah mendengar.
Lori melepaskan tangan Ali yang menggandengnya, sesaat Ali menoleh ke arah Lori yang kini berjalan mendekati kayu itu,
"Aku mendengarmu... Aku mendengarmu... Siapa kau?"
Lori bersuara,
Zizi menatap Shane, Ali dan Aunty Maria agar siaga jika tiba-tiba ada yang membahayakan muncul dan menyerang Lori.
Semua mengangguk,
Lori meletakkan telapak tangannya pada kayu penyangga itu, dan ketika telapak tangan Lori baru akan menempel, tiba-tiba dari telapak tangan Lori dan juga dari tiang itu berpendar cahaya biru yang kehijauan yang sangat terang.
Semua terperangah, ketika kemudian cahaya itu membentuk seperti lorong panjang, lalu tiba-tiba saja menjadi pusaran yang menarik mereka semua masuk ke sana.
"Aaaaaa..."
Aunty Maria berteriak paling keras dibandingkan yang lain,
Padahal sebagai hantu, seharusnya ia yang paling biasa saja, tapi entah kenapa reaksinya malah jadi lebih heboh dibandingkan mahluk lainnya.
Bukg!
Bukg!
Plok!
Pluk!
Semua berjatuhan di posisi berbeda-beda, Ali dan Shane jatuh ke atas tanah, Zizi jatuh nyangkut di atas pohon, Lori jatuh di atas semak-semak, sementara Aunty Maria yang paling heboh tampak santai melayang-layang.
"Haiiish, lihat hantu itu, dia berteriak paling kencang, tapi dia tidak merasakan sakitnya jatuh."
Kesal Zizi sambil keluar dari semak-semak,
Shane yang melihat sang isteri jatuh ke semak-semak tampak khawatir langsung menghampiri Zizi.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit? Perutnya bagaimana?"
Tanya Shane.
Zizi mengelus perutnya,
"Aku ingin makan sushi."
Kata Zizi.
Shane tersenyum,
"Baiklah, nanti kita pesta sushi."
Ujar Shane.
Ali sendiri tampak berdiri dan akhirnya ikut menghampiri Zizi dan Shane.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa Kak?"
Tanya Ali khawatir Zizi kenapa-kenapa, Zizi tertawa kecil,
"Ayolah, aku tidak apa-apa, jangan berlebihan."
Kata Zizi yang lantas celingak-celinguk mencari Lori.
"Kemana peri itu?"
Tanya Zizi
Ali menunjuk ke atas Zizi, di mana sekarang terlihat Lori yang kini melayang turun dari pohon,
"Ah ku pikir kau hilang."
Kata Zizi lega melihat Lori kini turun menghampiri nya, tampak Lori tersenyum manis,
"Loriii... Loriiii..."
Suara itupun kembali terdengar, semua celingak-celinguk mencari sumber arah asal suara.
Namun, di saat semua celingak-celinguk, Ali justeru seperti merasa tidak asing dengan jalanan yang kini mereka sedang berdiri dan bingung harus ambil jalan yang mana,
Hingga kemudian,
"Di sana, jika kita berjalan terus ke sana, kita akan melihat bukit dan diatasnya ada sebuah puri."
Semua menatap Ali,
"Kau pernah ke sini?"
Tanya Zizi.
Ali mengangguk,
"Aku memimpikannya, dan jalanan ini, hutan ini, semuanya persis sama dengan mimpiku kak."
"Apa kau juga di mimpi mendengar sesuatu?"
Ali mengangguk,
"Kamu mendengar sesuatu juga kah Lori?"
Ali balik bertanya,
"Iya Al, aku mendengar suara perempuan, suara itu seperti memanggil namaku."
Kata Lori,
Ali pun menatap Lori, lalu...
"Dia mengatakan sesuatu lagi?"
Tanya Ali.
Lori seolah mencoba menfokuskan pendengarannya agar bisa mendengar lebih jelas lagi, tapi...
Lori menggeleng,
"Aku hanya dengar dia memanggil namaku,"
Kata Lori,
"Di mimpimu dia juga memanggilku?"
Tanya Lori lagi,
Ali mengangguk, ia kini menatap Zizi, Shane dan Aunty Maria juga,
"Bukan hanya memanggil nama Lori, aku juga mendengar perempuan itu mengatakan sesuatu lagi."
"Sesuatu apa?"
__ADS_1
Lori mendekati Ali dan meraih lengan Ali dengan jemarinya yang lentik,
Ali melirik jemari tangan Lori di lengannya, jemari yang cantik,
Ali sejenak jadi terlihat gugup, meskipun ia berusaha sekuat tenaga agar tetap tampak cool di depan semuanya.
Zizi tampak nyengir, jelas ia tahu betul Ali sedang kebat-kebit.
Ya tentu saja Zizi paham bagaimana Ali, karena sejak kecil mereka sangat dekat, dibanding dengan Eva kakak kandungnya, Ali memang jaug lebih lengket dengan Zizi, itu sebabnya Zizi sangat memahami dan mengerti tentang Ali.
"Apa Ali? Katakanlah Al, aku ingin tahu."
Ali mengangguk,
"Aku mendengar dia memanggil namamu dan menyebut jika dia adalah Ibumu."
Kata Ali akhirnya melanjutkan kalimatnya yang lama terjeda.
"I... I... Ibu?"
Lori tergagap, bagaimana bisa tiba-tiba ada suara perempuan yang menyebut dirinya adalah Ibu Lori?
Sedangkan selama ini Merry selalu bercerita tentang tragedi yang dialami kedua orangtuanya.
Ya tragedi yang disebabkan para penyihir tua jahat, yang akhirnya membuat Lori dan Belle menjadi yatim piatu.
Untung saja ada Merry yang menyelamatkan mereka dari dalam hutan saat akan dimakan ular besar, untung ada Merry yang kemudian mengajak mereka pulang bahkan merawat mereka hingga mereka besar.
Maka dari itu, bagaimana bisa tiba-tiba saja Ali berkata jika perempuan itu juga menyebutkan dirinya sebagai Ibunya Lori.
Lori menatap Ali dengan kedua mata jelinya yang indah,
"Sungguhkah kau mendengar demikian Ali? Sungguhkah?"
Tanya Lori memastikan.
Ali mengangguk tanpa ragu sama sekali, karena memang itu yang ia dengar,
"Untuk memastikan bahwa memang itu benar, bagaimana jika kita teruskan saja langkah kita sesuai jalur yang ada di dalam mimpiku?"
Kata Ali pada Lori dan semuanya,
"Ya, bagaimana Nona Zizi?"
Tanya Lori seraya menatap Zizi yang terdiam di tempatnya,
"Ya, tapi tetap akan lebih baik memang jika Kak Zizi yang memutuskan Kak."
Kata Ali pula,
Zizi mempertimbangkan arah jalan untuk memutuskan ke mana mereka akan menuju,
Sampai akhirnya,
"Ya kita ikuti petunjuk dalam mimpimu saja Al, Kak Zizi rasa itu benar petunjuk."
Ujar Zizi akhirnya.
Ali lalu melihat ke arah jalan yang di mana jika dalam mimpinya nanti mereka akan bisa melihat bukit yang di atasnya ada berdiri sebuah puri.
Dari arah puri itulah, suara perempuan yang memanggil nama Lori berasal, suara yang seperti terbawa sepoi angin yang lembut dan sendu, yang di mana angin itu juga seolah membawa aroma mint yang segar.
Aroma mint yang hampir sama dengan aroma mint milik Lori.
"Kamu yakin kan Al, bahwa jalan ini persis sama dengan mimpimu?"
Tanya Zizi memastikan.
Ali mengangguk,
"Ya Kak, aku yakin sekali."
Sahut Ali.
__ADS_1
Sebagaimana khas nya orang cerdas, selalu bisa membuat keputusan dan berkata tanpa ragu sama sekali.
**---------------**