Magic In Love

Magic In Love
56. Berkumpul Lagi


__ADS_3

"Dewi kematian telah menyatu dengan Lori,"


Raymond, yang memiliki perjanjian dengan sang dewi kematian, yang dulunya juga adalah salah satu peri dari bagian istana yang otomatis adalah keluarga Raymond sendiri.


Ibunya Lori dan Oracle menoleh ke arah Raymond yang kini tampak berjalan mendekati danau kematian, di mana Lori mengambang di atasnya diselimuti cahaya yang begitu terang.


Pecahan-pecahan Aquamarine stone pun ikut mengitari tubuh Lori, di mana pelahan keempat pecahan itupun mulai melebur untuk kembali utuh.


"Kau... kau... Apakah kau, Raymond? Pa... pangeran Raymond?"


Oracle yang begitu melihat Raymond tampak tak asing karena mirip Noel suaminya seketika menghampiri Raymond.


Mendengar Oracle menyebut namanya, Raymond tentu saja langsung melihat ke arah Oracle dengan heran.


Kenapa dia mengenaliku? Batin Raymond.


"Noel... Kau ingat Noel?"


Oracle menyebutkan nama suaminya, yang tentu saja itu membuat Raymond langsung beraksi,


"Noel, kenapa dia? Siapa kau?"


Tanya Raymond pada Oracle sambil melayang ke arah Oracle agar lebih dekat dan siap menarik Oracle saat Ibunya Lori menahan tangan Raymond.


"Jangan sakiti dia, apa kau gila? Kau bahkan tak tahu dia jahat atau tidak."


Kata Ibunya Lori pada sang suami.


Raymond menatap isterinya, lalu...


"Aku Oracle, isteri Noel, aku lah yang menggantikannya mengurus istana kalian selama ini,"


Kata Oracle.


"Tunggu, bagaimana bisa kau..."


Raymond menatap Oracle lagi, yang tampaknya ia bicara jujur dan sedang bukan mengada-ada.


"Memangnya ke mana Noel? Ke mana pangeran Noel? Apa yang terjadi padanya?"


Tanya Ibunya Lori.


"Pengeran Noel berada di kerajaan bawah laut, ia dipenjara di sana,"

__ADS_1


Oracle menangis,


Ibunya Lori dan sang suami saling berpandangan, keduanya tampak langsung panik,


"Kenapa? Kenapa ia sampai berurusan dengan Raja Neptunus?"


Tanya Raymond dan Ibunya Lori nyaris bersamaan.


"Shilba Dolores, saat ia dan pasukannya menyerang istana, anak kami satu-satunya terkena kutukannya, Pangeran Noel berusaha menyelamatkannya dengan pergi ke kerajaan bawah laut. Kami dengar, di sana ada mutiara merah yang bisa mengobati apapun yang diderita para peri, bahkan manusia."


"Noel mencurinya?"


Tanya Raymond,


Oracle menggeleng,


"Ia belum melakukan apapun, ia menyelinap dan langsung ketahuan, ia ditangkap dan dikurung hingga sekarang. Aku mencari kalian, aku membutuhkan kalian untuk menolong anakku dan Noel, mencari kalian untuk membebaskan Istana dari Shilba Dolores, banyak peri penjaga yang berusaha mencari kalian namun tak ada satupun yang menemukan. Hingga satu kali ada peri yang memberitahukan tempat terakhir kalian tinggal, aku pergi ke sana dan hanya menemukan satu pecahan batu Aquamarine stone."


"Kau memilikinya?"


Ibunya Lori terkejut,


"Ya aku memilikinya, itu sebabnya aku ditarik ke mari, batu itu menarikku ke sini, aku tak tahu bahwa tiga pecahan lainnya telah ditemukan."


Kata Oracle.


Sinar terang Aquamarine stone pun telah memudar, batu permata itu telah aman dalam genggaman Lori.


Menjadi batu utuh yang sangat indah.


Ibunya Lori dan Raymond bergegas menghampiri Ali yang kini menggotong Lori,


"Ali, terimakasih."


Kata Raymond pada pemuda manusia berwajah sangat tampan itu.


Ali mengangguk santun,


Lori pelahan membuka matanya, mata bulat itu ketika terbuka yang pertama dilihat adalah wajah tampan Ali.


"Ali."


Lirih Lori menyebut nama Ali.

__ADS_1


Tampak Ali mengangguk lalu tersenyum tipis.


Lori lantas minta turun dari gendongan Ali, Ibunya Lori memegangi putrinya agar tak sampai jatuh.


"Ibu... Kau kah ini Bu? Kau bebas? Kau selamat?"


Lori bahagia sekali melihat Ibunya, ia langsung melompat memeluk sang Ibu dengan erat.


Yah, tentu saja, apa yang lebih membahagiakan untuk anak gadis selain bisa dekat dengan Ibunya.


Ibunya Lori membalas pelukan anaknya dengan sama eratnya, dielusnya kepala sang anak dengan lembut dan penuh kerinduan.


"Aku sangat merindukanmu Lori, tahukah kau kalau Ibu terus memanggil namamu?"


Tanya Ibunya Lori.


Lori tampak mengangguk.


"Aku tahu Bu, Ali yang mendengar panggilan Ibu, ia yang memberitahu ku."


kata Lori.


Ibunya Lori sejenak melepaskan pelukannya, lalu mengalihkan pandangan matanya pada sosok pemuda yang tampan rupawan yang selalu bersama Lori,


"Kau, yang bernama Ali itu?"


Tanya Ibunya Lori, tampak Ali menganggukkan kepalanya.


"Dia membantu Lori Bu, bahkan dia dulu yang juga datang membantu para peri mengalahkan Shilba Dolores."


Ujar Lori.


"Oh, benarkah?"


Ibunya Lori takjub.


Ali cepat menggeleng.


"Tidak, bukan aku Bik, bukan aku yang mengalahkan Shilba Dolores, tapi kakakku, Nona Zizi."


Kata Ali.


"Zizi?"

__ADS_1


Ibunya Lori seolah tak asing dengan nama itu pula, sebagaimana Raymond yang juga sama saat pertama mendengar nama Zizi disebutkan Ali.


**------------**


__ADS_2