Magic In Love

Magic In Love
75. Akhirnya Kembali


__ADS_3

Dunia manusia kini telah malam, Ali tampak duduk dengan gelisah di depan bangunan tempat tinggalnya yang terpisah dari bangunan utama rumah.


Di pandanginya terus menerus pohon bunga sakura di mana di sana ada pintu menuju dunia peri bunga.


Entah nanti Kak Zizi akan muncul dari mana, tapi Ali memutuskan menunggunya di sana karena jika nanti hari hampir pagi dan Kak Zizi belum juga kembali, ia ingin menyusul sendiri saja.


Ia sungguh tak enak pada Paman dan Bibinya di Jakarta, yang pastinya jika terjadi sesuatu pada Kak Zizi dan calon bayinya, pasti mereka akan sangat sedih dan kecewa.


Ah yah...


Padahal harusnya lusa Kak Zizi bisa pulang ke Jakarta untuk istirahat mengingat ia sudah mulai hamil.


Jika masih saja ia disibukkan mengurus banyak hal yang berhubungan dengan makhluk-makhluk lain, tentu itu takutnya akan berdampak buruk pada kesehatan calon bayinya.


Apalagi Kak Shane, suaminya juga sudah pasti harus segera kembali ke perusahaan.


Ali menatap pohon bunga sakura penuh pengharapan, ia sungguh-sungguh seperti menghitung setiap detik yang berlalu dengan tidak sabar.


"Aku merasakan aroma pintu gerbang peri terbuka."


Tiba-tiba terdengar suara Lori dari dalam ruangan tempak tinggal Ali.


Gadis peri nan cantik itu berjalan layaknya manusia menuju Ali yang tetap bertahan duduk di luar meskipun ia tampak menyempatkan diri menoleh ke arah Lori.


"Di mana?"


Tanya Ali pada Lori setelah gadis peri itu berada di dekatnya.


"Di dalam... aku merasakan energi yang sangat kuat. Kau lupa Al? Aku juga masuk ke alam manusia di dalam tempat ini."


Kata Lori.


Ali terdiam, ia ingat Lori memang tiba-tiba muncul di dalam ruangan tempatnya tinggal.


Berbeda saat ia pulang dari dunia peri yang selalu muncul di sekitar gudang.


"Rumah ini sepertinya seluruhnya terhubung dengan dunia peri bunga, apakah begitu?"


Ali menatap Lori,


Tampak Lori tersenyum, dan senyuman itu terlalu manis hingga Ali memutuskan mengalihkan tatapannya ke arah pohon bunga sakura kembali.


Ini tidak benar, jantungku bisa lepas lama-lama jika begini terus. Batin Ali karena merasakan degup jantungnya berdetak tak normal setiap kali berdekatan dengan Lori, apalagi jika bertatap mata dengannya.

__ADS_1


"Aku rasa hanya yang terpusat dengan pohon bunga sakura itu."


Ujar Lori sambil menunjuk pohon bunga sakura yang ada di depan mereka.


"Tempat ini dan gudang rumah, jika di tarik garis lurus ada satu garis dengan pohon bunga sakura kan Al? Gudang yang tadi kita keluar, tempatnya tak jauh di belakang tempat ini bukan?"


Tanya Lori,


Ali terlihat menganggukkan kepalanya, ia berusaha memikirkan kata-kata Lori yang memang dirasanya benar.


"Dulu, apakah rumah ini dibangun keluargamu? Ataukah dibeli dari seseorang?"


Tanya Lori lagi,


Ali menggeleng pelan.


"Entahlah, aku tidak pernah menanyakannya, dan aku juga tak pernah tahu sejarah rumah ini. Aku hanya tahu jika dulu di sini Kakek dan Nenek pernah tinggal di saat mereka baru menikah, sampai akhirnya mereka berpisah lalu rumah ini dikosongkan lama. Paman Zion lah yang akhirnya mewarisi rumah ini."


Tutur Ali.


"Siapa Paman Zion?"


Tanya Lori,


"Paman Zion itu Papanya Kak Zizi."


Lori mantuk-mantuk,


Ali menatap pohon bunga Sakura yang kini tertiup angin yang berhembus pelahan, terlihat beberapa bunga gugur dan terbawa angin lalu jatuh di sekitar bangunan yang ditinggali Ali.


"Rumah ini, apa mungkin dulu dibangun bangsa peri juga?"


Lirih Lori seolah bertanya-tanya, membuat Ali juga jadi berpikiran sama.


Ya...


Apa mungkin demikian?


Apa mungkin rumah ini dulunya adalah rumah peri?


Atau malah salah satu dari keluarganya dulu juga seperti Ali, terhubung dengan bangsa peri?


Dan...

__ADS_1


Di saat Ali dan Lori tengah sibuk memikirkan tentang rumah itu, tiba-tiba di dalam bangunan yang di tempati Ali, terdengar suara gedubrak yang cukup keras,


Ali dan Lori yang kaget sejenak berpandangan sebelum akhirnya sama-sama melompat masuk ke dalam bangunan tempat tinggal Ali.


"Ah sial, kenapa kamu taruh meja sembarangan sih Al."


Zizi mengomel karena kakinya tersandung dan jadi jatuh di ruang TV, sedangkan Shane berada di sudut ruangan, Paman Marthinus di kamar, dan Aunty Maria malah di kamar mandi.


Ali yang terlalu senang melihat Zizi tak menghiraukan omelan Zizi, ia melompat ke arah kakak sepupunya dengan senang dan lega, lalu memeluknya dengan erat.


"Aku senang melihatmu Kak, thanks God..."


Ali benar-benar tampak bahagia, karena Zizi sungguh-sungguh pulang di kala jam mendekati tengah malam.


Zizi yang dipeluk Ali macam tak jadi mati tampak menatap Lori seperti orang bingung.


"Semua khawatir padamu Nona, Ali bahkan seperti mau pingsan sejak tadi menunggumu."


Kata Lori.


Zizi pun jadi tertawa mendengarnya,


"Apa yang kau khawatirkan Al? Memangnya di dunia peri ada apa? Tidak ada yang terlalu bahaya di sana, musuh Kak Zizi tidak ada di sana,"


"Ya aku tahu, tapi aku tetap khawatir kamu tak bisa pulang Kak."


Ujar Ali seraya melepas pelukannya.


"Zizi bukan tidak bisa pulang, tapi tidak mau pulang, karena ada beberapa jenis kue coklat masih banyak yang belum ia cobai."


Kata Aunty Maria yang melayang ke arah mereka.


"Ah harusnya tadi bungkus dua kotak."


Ujar Zizi, tanpa menghiraukan Ali yang terbengong-bengong,


Tentu saja Ali heran setengah mati, di saat ia benar-benar khawatir dengan kondisi Zizi, ternyata yang dikhawatirkan malah pesta kue coklat.


Lori cekikikan melihat ekspresi Ali,


"Apa kubilang, Nona Zizi pasti sedang pesta."


Kata Lori mendekati Ali,

__ADS_1


Zizi nyengir ke arah Ali yang menghela nafasnya.


**-----------**


__ADS_2