Magic In Love

Magic In Love
33. Benang Merah


__ADS_3

Zizi berjalan sempoyongan ke arah tempat tidur macam pohon bambu kena beliung, Shane menjaganya dari belakang agar sang isteri tak sampai jatuh.


Zizi baru naik ke atas tempatnya tidurnya, manakala tiba-tiba ia berbalik menghadap Shane dengan gerakan sangat cepat macan gangsing lelah.


"A... apa Zi?"


Tanya Shane kaget,


"Batu."


Kata Zizi dengan wajah serius.


"Batu? Batu kali? Batu bata? Batu baterai?"


Tanya Shane lagi bingung tiba-tiba isterinya menyebut soal batu.


Zizi menggelengkan kepalanya,


"Batu Aquamarine yang dicari Lori,"


Kata Zizi.


"Kak Seng ingat Mbak pocong?"


Tanya Zizi.


Shane mengangguk,


"Tentu Zizi, aku sangat ingat salah satu tim kita itu."


Zizi mengangguk,


"Saat dia keluar dari dunia peri, bukankah dia melihat batu Aquamarine yang ikut keluar? Lalu kalian memberikannya padaku?"


Zizi menatap suamianya, dan...


"Ah yah, benar."


Ujar Shane yang akhirnya mengingat,


"Ali pasti menyimpannya di rumah ini, hanya saja ia lupa."


Kata Zizi yang akhirnya akan turun lagi dari tempat tidurnya, namun cepat-cepat Shane menahannya.


"Biar aku saja yang cari, aku akan minta tolong Paman Marthinus."


Ujar Shane.


"Kau ingat bentuknya kan Kak Seng?"


Tanya Zizi.


Shane mengangguk,


"Ya, aku masih ingat, tenanglah, aku akan cari, ini tak akan lama, jangan khawatir."


Ujar Shane.


Zizi mengangguk.


"Ada yang ingin kamu makan? Atau minum? Atau apapun, sebelum aku tidak ada di kamar."


Tanya Shane menatap Zizi.


Tampak Zizi menggeleng,


"Aku tidak ingin makan, tapi aku ingin ke suatu tempat."


Kata Zizi.


"Ke mana? Katakan saja, nanti aku akan antarkan."


Shane mengelus kepala Zizi dengan lembut,


"Amazon."


Ujar Zizi.


"A... amazon?"


Shane mengerutkan kening.


Zizi tampak menganggukkan kepala.


"Ya Amazon, hutan, sungai, aku ingin ke sana."

__ADS_1


Ujar Zizi.


"Tapi di sana ada banyak anaconda, piranha, jaguar dan binatang menakutkan lain sayang."


"Justeru itu Kak Seng, aku ingin ke sana."


"Apa ini bagian dari ngidam manusia saat hamil?"


Tanya Shane bingung,


"Ya, ini keinginan yang muncul bukan dari diriku, tapi ini pasti dari si anak sulung, dia sepertinya ingin dekat dengan alam."


"Haiiish... dekat dengan alam kita bisa keliling seluruh hutan di Jepang sambil terbang, tidak usah ke Amazon yang jauh dan berbahaya."


"Aku juga ingin mandi di satu tempat."


Kata Zizi lagi.


Shane langsung deg-degan. Ah mandi di mana lagi ini? Kawah Anak Krakatau? Sungai banjir? Atau di mana? Batin Shane ketar-ketir.


"Niagara."


Kata Zizi, yang langsung membuat Shane membelalakkan matanya,


"Mandi? Niagara?"


Tanya Shane sulit percaya.


Zizi mengangguk,


"Aku ingin mandi di sana, selepas masalah Lori selesai, antarkan aku ke sana Kak."


"Tapi itu terlalu berbahaya,"


"Tapi aku ingin, dan tidak ada hal yang bisa membahayakan aku, tenanglah."


Kata Zizi.


Shane senut-senut kepalanya.


"Oke Kak Seng? Bukankah kau sudah janji akan jadi suami yang sigap siaga dan waspada?"


Zizi mengerjapkan matanya, membuat Shane tak bisa apa-apa.


"Ya... ya... baiklah, akan aku antar."


Zizi mengacungkan ibu jarinya.


"Aku akan cari Aquamarine di rumah ini lebih dulu, Paman Marthinus sangat baik dalam mengenali energi asing, aku akan minta tolong padanya."


Kata Shane yang kemudian bersiap pergi, Zizi mengangguk.


"Ya, carilah, aku yakin Ali menyimpannya di sini, carilah dari tempat di mana Ali tinggal lebih dulu, mungkin batu itu ada di sana."


Kata Zizi.


Shane mengangguk mengerti, laki-laki tampan yang sebetulnya percampuran vampire itu baru akan meninggalkan tempatnya berdiri di sisi tempat tidur di mana Zizi duduk, saat kemudian tiba-tiba...


"Hah, untunglah kalian di kamar."


Aunty Maria masuk ke dalam kamar menembus dinding.


Shane merasa lega hantu itu tidak asal masuk ketika ia sedang bersama Zizi melakukan ritual.


"Ada apa Aunty? Mana Ali?"


Tanya Zizi yang semula akan berbaring akhirnya tidak jadi.


"Ali masih ada di Puri bersama Lori, menjaga ruangan paling atas Puri itu, karena di sana ada Ibunya Lori terkurung."


"Tidak bisa dibebaskan?"


Tanya Zizi heran.


Aunty Maria menggeleng,


"Tidak bisa Zi, tempat itu juga di segel dengan mantra-mantra yang cukup kuat, aku juga tidak bisa menembus dindingnya."


Kata Aunty Maria.


"Lalu?"


Shane ikut bertanya,


"Aku harus mencari peri laki-laki yang aku ceritakan padamu Zi, dia peri yang terjebak di dunia manusia, dia pasti Ayah Lori."

__ADS_1


"Hah?"


"Apa?"


Zizi dan Shane berbarengan. Aunty Maria mengangguk.


"Ibunya Lori memintaku mencarinya, hanya dia yang bisa mematahkan mantra itu."


Ujar Aunty Maria.


"Kenapa mereka tercerai berai dan terjebak di tempat yang berbeda?"


Gumam Zizi heran.


**--------------**


"Agh!"


Belle dijatuhkan ke atas lantai istana di hadapan Oracle.


Tampak Oracle menatap Belle yang kini tersungkur di depannya.


Anak laki-laki itu adalah salah satu laki-laki peri yang hanya tinggal segelintir saja, karena kutukan Shilba Dolores yang semula memang selalu menjadikan bayi peri laki-laki akan mati begitu lahir tujuh hari.


Oracle menghampiri Belle yang terikat kini tampak susah payah berusaha bangkit,


Oracle mengacungkan tongkatnya ke arah Belle, yang kemudian mengeluarkan cahaya keemasan dan membuat ikatan Belle terlepas.


"Kenapa dia terikat?"


Tanya Oracle.


"Dia diikat oleh Merry, bukan oleh kami."


Jawab dua peri penjaga yang membawa Belle ke istana.


"Merry mengikatnya?"


Oracle memandang kedua peri penjaga seolah heran dan ingin mendapatkan penjelasan lebih.


"Dia akan membunuhku."


Belle angkat suara, ia kini telah berdiri, tampak Belle membungkuk memberi salam pada Oracle.


Melihat sikap Belle pada Oracle, dua peri penjaga yang semula tetap siaga akhirnya tidak lagi memasang wajah garang,


"Kenapa Nenekmu ingin membunuhmu Belle?"


Tanya Oracle semakin menghampiri anak laki-laki itu,


"Dari awal, dia memang ingin membunuhku untuk tumbal dewi kematian di danau itu."


"Danau kematian?"


Oracle semakin heran, kenapa harus Dewi kematian dilibatkan? Batin Oracle.


"Kami rasa, Merry menghendaki sesuatu, seperti yang selama ini kita pernah dengar, Merry adalah peri yang mempelajari sihir hitam."


Kata salah satu peri penjaga.


Oracle menatap Belle,


"Kau tahu itu?"


Tanya Oracle.


"Aku baru tahu saat hari ini akhirnya aku akan dibunuh, dia menyingkirkan orangtuaku bekerjasama dengan para penyihir tua,"


Oracle menatap Belle,.


"Peri Raymond, apa yang terjadi padanya, ia Ayahku dan Lori, apa kau mengenalnya?"


Tanya Belle kemudian pada Oracle.


Oracle begitu mendengar nama Raymond terkesiap.


"Ka... Kau... Kau anak peri Raymond?"


Tanya Oracle.


Belle mengangguk,


"Merry menyebutkan nama Ayahku tadi, nama yang selama ini ia tak pernah mau sebutkan seberapapun kami memaksa."


Oracle kini mulai mengerti benang merah semuanya.

__ADS_1


Ah Merry, Raymond, Noel. Pantas saja. Batin Oracle.


**-------------**


__ADS_2