Magic In Love

Magic In Love
64. Kisah Lama


__ADS_3

Peri nenek tua yang ternyata dulu adalah abdi setia istana para peri bunga itu kini tampak sibuk mengeluarkan bebagai macam kue dan juga coklat panas sesuai request Zizi.


Zizi, manusia berkepala naga di mata peri nenek tua itu kini duduk di ruangan yang hangat karena perapian di rumah tua itu masih berfungsi dengan baik.


Di dalam perapian itu, tampak api yang menyala seolah bergoyang-goyang ke sana ke mari macam tengah joget diiringi lagu kopi dangdut.


Shane berdiri sambil mengamati lukisan yang digantung di dinding rumah peri nenek.


Lukisan itu hanyalah lukisan padang rumput kosong dan satu kelinci yang berlari ke sana kemari sendirian.


"Kenapa kelinci ini tidak diberi teman ya?"


Gumam Shane,


Gumamannya terdengar oleh telinga Zizi yang kebetulan sedang bolong.


"Siapa yang sendiri Kak Seng?"


Tanya Zizi jadi kepo.


"Ini, lukisan kelinci, kenapa tidak ada temannya, kasihan dia lari-lari seorang diri."


Ujar Shane.


Zizi duduk bersandar mengelus perutnya yang lapar,


"Kenapa harus memikirkan kelinci jomblo, lebih baik pikirkan nasib perutku kalau terlalu lama di dunia peri aku akan kesulitan menemukan nasi."


Kata Zizi.


Shane jadi nyengir mendengar Zizi seolah mendapat masalah besar karena tak bisa berjumpa dengan nasi.


Hingga akhirnya, Peri Nenek tua pun datang membawakan kue yang tampaknya sangat lezat dan juga dua cangkir coklat panas untuk Zizi dan Shane.


"Kau membuatnya, atau hanya adakadabra Nek?"


Tanya Zizi melihat suguhan peri nenek tua yang kini terhampar di depan Zizi.


"Kau pikir peri itu semuanya tinggal tang ting tang ting,"


Peri nenek mengomel,


"Tentu saja aku membuatnya dengan kedua tanganku yang sangat berbakat membuat makanan lezat."


Pongah peri nenek tua.


"Jadi kau Chef istana Nek?"

__ADS_1


Tanya Zizi sembari meraih cangkir coklat panas yang ada di atas meja di depannya.


"Aku seorang koki."


Kata peri nenek.


Zizi meniup coklat panasnya,


"Apa bedanya chef sama koki memangnya."


Gumam Zizi jadi tidak mudeng.


"Sudah tidak usah dipikir, nanti kamu tambah lapar,"


Kata Shane sambil duduk di sebelah isterinya.


"Kalian suami isteri?"


Tanya peri Nenek tua yang sekarang duduk di kursi depan Zizi dan Shane.


Tampak Shane mengangguk mengiyakan, karena Zizi sudah sibuk menyeruput minumannya.


"Jadi kalian mencari Manusia yang bisa melawan sekelompok bayangan hitam itu karena dia saudara kalian?"


Tanya Peri nenek tua lagi.


Ujar Zizi.


"Teflon? Kenapa Pamanku memakaikan teflon?"


Tanya peri nenek.


Haiiish... Zizi mendesis.


"Telfon Nek, telfon, halo... halo..."


Kata Zizi.


"Halo juga."


Jawab peri nenek.


Shane yang melihat keduanya berbincang tak berfaedah akhirnya memilih mengurut kening saja supaya pusingnya berkurang.


"Sebentar, kemarin aku melihat dia bersama seorang laki-laki tua, aku merasa pernah kenal tapi karena jaraknya cukup jauh jadi tak terlalu jelas."


"Ali bersama laki-laki tua? Apa di dunia peri banyak pensiunan?"

__ADS_1


Tanya Zizi.


"Kenapa nyampenya pensiunan Zi?"


Shane menatap isterinya heran,


"Tua kan pensiunan."


Kata Zizi.


Ah iya juga. Batin Shane.


"Lori, apa kau tidak melihat peri itu nek? Peri yang sangat cantik."


Zizi menatap peri nenek.


"Lori? Cucu peri Merry?"


"Kau kenal Merry?"


Zizi merasa ada harapan akan mendapat petunjuk,


"Siapa yang tidak kenal Merry? Dia peri cantik yang culas dan licik, dikutuk jadi tua dan jelek oleh Dewi kematian."


"Kenapa?"


Tanya Zizi.


"Dia ingin menguasai istana dengan menjadi istri baginda raja. Kami para peri abdi bicara pada Pangeran Raymond, putra mahkota dari Ratu peri, dan entah apa yang Pangeran Raymond lakukan hingga akhirnya peri Merry terkena kutukan wajah jelek dan tua Dewi kematian."


Peri Nenek bercerita.


"Hmm kasihan juga ternyata kisah si biskuit."


Ujar Zizi.


Shane menoleh pada isterinya.


"Biskuit? Siapa?"


Tanya Shane bingung.


"Itu, Merry, biskuit."


Sahut Zizi.


Bzzzt... bzzzt... Shane sungguh tidak mudeng.

__ADS_1


**-----------**


__ADS_2