Magic In Love

Magic In Love
76. Bye Lori


__ADS_3

"Apa aku boleh tetap tinggal di sini? Aku ingin bersama Ali."


Lori menatap Zizi dengan mata berkaca-kaca, Zizi yang kini tampak duduk bersila di atas karpet ruangan tempat tinggal Ali tampak menggeleng tanpa basa basi.


Sudah jelas, Zizi bukanlah orang yang pandai basa-basi, ia akan selalu bicara dan bersikap apa adanya, tak peduli semenyakitkan apapun itu bagi yang menerima perlakuannya.


Lori menatap Ali, yang terlihat diam karena bingung.


Sejatinya ia juga merasa bahwa iapun menyukai Lori, tapi untuk memberikan ijin Lori menetap, rasanya Ali pun tahu itu tidak benar.


Lori adalah putri istana peri sekarang, ia harus berada di istananya, ia pasti ada banyak tugas untuk membantu orangtuanya mengurus wilayah peri bunga.


"Pulanglah, Ibu dan Ayahmu serta Belle khawatir."


Kata Zizi.


"Tapi..."


Lori terduduk lemas,


"Kehidupan manusia terlalu rumit, kau akan berbahaya jika ada di sini. Kau melayang dan menembus dinding, tapi kau tetap terlihat, kau akan sangat menarik perhatian juga karena terlalu cantik. Akan banyak manusia jahat memburumu nanti, sedangkan aku sedang tak bisa berbuat banyak untuk melindungi, jadi lebih baik kau pulang."


"Tapi ada Ali."


Kata Lori ingin tetap bersikeras,


"Ali saja harus aku lindungi, ah sial kau mau bikin aku tambah banyak beban?"


Ujar Zizi membuat Shane harus mengusap punggung sang isteri agar lebih tenang.


"Jangan emosi, nanti bayi kita rambutnya berapi-api."


Kata Shane.


"Ah iya, aku terlalu lelah dan juga kenyang."


Ujar Zizi akhirnya sambil berdiri.


"Besok aku akan pulang ke Indonesia, kau juga pulanglah Lor."


Kata Zizi pula menatap Lori yang sesenggukan.


"Kau bisa berkunjung sesekali, tapi tak perlu tinggal di sini, kau harus memikirkan kekuatanmu yang masih harus diasuh."


Tambah Zizi.


"Asah Zi."


Shane meralat,


"Oh bukan asuh?"


Tanya Zizi.


"Asuh itu bayi,"

__ADS_1


Kata Shane yang tampaknya harus terus bersabar hingga beribu tahun yang akan datang.


Hingga tukang kalender berganti dua puluh generasi.


"Nah, benar, kekuatanmu harus banyak diasah dulu, kau tidak tahu bahwa ada musuh besar yang kapan saja akan muncul, kami adalah manusia-manusia yang berbeda dengan manusia lain, jika kau ingin tinggal di sini, kau paling tidak harus bisa membuat labu jadi kereta."


Ujar Zizi.


"Aku bisa, labu jadi kereta seperti cinderela bulan?"


Tanya Lori merasa syarat itu sangat mudah.


Zizi menggeleng.


"Mana berguna kereta seperti itu di jaman sekarang."


Ujar Zizi.


Lalu Zizi meminta Shane mengeluarkan hp nya, Zizi memutarkan video kereta super cepat milik Jepang.


"Haaaah??"


Lori matanya langsung juling.


"Bagaimana bisa labu jadi kendaraan seperti itu?"


Lori bahkan otaknya tidak bisa berpikir.


Zizi menghela nafas,


Ujar Zizi seraya mengelus perutnya.


"Ada apa? Sakit?"


Tanya Shane terlalu protektif,


Zizi menggeleng,


"Bukan, aku lapar lagi Kak Seng, ayo kita minta makan pada para pelayan."


Zizi menarik tangan Shane.


"Ingat, pulang Lor, jangan sampai orangtuamu harus menyebrang dunia peri ke dunia manusia lagi, nanti mereka harus susah meninggalkan kerajaan."


Kata Zizi mengacungkan telunjuknya sambil menjauh.


Shane merangkul Zizi agar mereka bisa keluar tanpa harus meributi Lori dan Ali lagi.


"Biar mereka memutuskan sendiri, jangan terlalu mengintimidasi."


Kata Shane saat keduanya telah menjauh.


Aunty Maria juga melayang mengikuti Zizi keluar sambil bicara pada Lori,


"Zizi benar, kau harus pulang Lori."

__ADS_1


Kata Aunty Maria.


Lori menatap Ali dengan sedih,


"Aku diusir."


Lirih Lori,


Ali menghela nafas,


"Kurasa Kak Zizi dan Aunty Maria memang benar, kita belum saatnya bersama begini, kita masih terlalu muda, aku masih harus sekolah, dan kamu juga masih harus banyak belajar untuk menguasai banyak kekuatan lain."


Kata Ali dengan suara lembut.


"Tapi, kau akan jatuh cinta dengan manusia jika aku pergi."


Kata Lori.


Ali mengerutkan kening, lalu...


"Aku terlalu sibuk belajar, aku juga harus menyiapkan diri mengurus perusahaan Ayah dan Ibu, belum lagi perusahaan kakek di Indonesia yang sekarang dihandle Paman Zion saja dan Kak Shane juga akan segera bekerjasama dengan beberapa perusahaan di Eropa lagi. Aku akan sangat sibuk karena aku satu-satunya generasi laki-laki dari cucu kakek."


Lori yang tak mengerti apa itu perusahaan hanya terdiam, yang bisa ia tangkap hanya Ali harus belajar dan sibuk.


"Kita mungkin akan bertemu lagi suatu hari Lori, tak usah cemas dan khawatir."


Kata Ali.


Lori menangis, ia berdiri dari duduknya, Ali menyusul berdiri, dan kemudian mereka berpelukan.


Lori terus menangis, ia sungguh-sungguh ingin tetap tinggal, tapi ia tak ingin menjadi beban, dan ia tahu bahwa tujuan Nona Zizi dan hantu ajudannya itu pasti tidaklah jahat padanya.


Mereka mahluk-mahluk yang baik, Lori tahu itu.


Lori pun kemudian pelahan mulai menghilang dalam pelukan Ali,


"Aku pasti akan kembali Al, tunggu aku, jangan pernah jatuh cinta pada gadis manapun. Aku mohon."


Kata Lori seraya menghilang sama sekali.


Ali yang lantas memeluk udara kosong tampak terduduk lemah, sakit dan sedih hatinya, tapi nyatanya memang ia tak bisa berbuat apa-apa.


Ini adalah hal terbaik untuk mereka semua.


Kak Zizi sudah bilang, bahwa akan ada musuh besar yang kapan saja akan muncul.


Dan Ali, bisa jadi akan terlibat dalam pertarungan itu.


Ia harus mempersiapkan semuanya, termasuk juga bersiap menjadi penerus seluruh perusahaan keluarga.


"Baiklah Lori, aku akan menunggumu, pasti."


Kata Ali seolah pada udara.


T A M A T

__ADS_1


((jumpa di THE PANDAWA yaaaa))


__ADS_2