
Zizi tampak mondar-mandir tak jelas macam setrika di tempat orang usaha Londri.
"Sudahlah Zizi, duduk dan tenanglah, jangan mondar-mandir terus, nanti lantainya gembur."
Kata Shane.
Tapi Zizi tak peduli, ia tetap mondar-mandir dengan semangat, kepalanya akan muter-muter makin pusing jika dia tidak mondar-mandir.
Ah...
Kenapa Ali tak juga pulang?
Paman Marthinus dan Aunty Maria juga sama saja, tak ada kabar berita sama sekali.
Mana tidak bisa ditelfon, tidak bisa dikirimi pesan, tidak bisa dilacak posisinya. Zizi pusing tujuh belas keliling sirkuit Sentul.
"Apa harus aku saja yang jemput Ali?"
Tanya Shane.
Zizi melirik suaminya.
"Kak Seng mau ninggalin aku? Dalam kondisi aku lagi hamil mau ditinggalin?"
Tanya Zizi sensi.
Pembawaan Zizi begitu hamil memang jadi agak kolokan, mendoan, dan juga bubur sum suman.
"Kan aku pergi untuk kembali Zizi, bukan pergi dan mengembalikan kamu pada kedua orangtuamu."
Ujar Shane macam lagu jadul saat kalian pada masih muda, ya kaaaaan... Ayo ngaku ngaku pendengarnya Bhetaria Sonata.
"Zizi disamain uang kembalian?"
Zizi seperti biasa kambuh bolotnya.
__ADS_1
Shane mengurut keningnya.
Ya sudahlah, nyatanya menikahi Zizi adalah pilihannya sendiri, yang tak boleh disesali. Hihi...
Zizi masih mondar-mandir, dan makin lama mondar-mandir nya makin cepat sampai Shane puyeng.
Sudah satu jam lebih sejak Paman Ziyan menelfon, dan Zizi masih saja begitu, ia tampak begitu cemas jika nantinya Pamannya tahu Ali masuk dunia peri lagi dan sampai sekarang belum menunjukkan batang hidungnya.
Zizi sendiri tadi sudah membohongi Pamannya jika hp Ali sulit dihubungi karena Ali sedang sibuk dengan kegiatannya mempersiapkan diri masuk Universitas terbaik di Jepang.
Tapi, jika sampai dua hari lagi Ali tidak juga bisa dihubungi, sudah bisa dipastikan Paman Ziyan akan menghubungi semua orang di rumah Hokkaido dan juga orang-orang Kakeknya.
Bahkan bisa jadi, Paman Ziyan akan langsung datang sendiri untuk memastikan Ali memang baik-baik saja dan hanya sedang sibuk sendiri.
Haiish... Zizi mendesis.
Ini karena sejak akan menikah, Nyi Retnoasih leluhurnya memutuskan pergi meninggalkan Zizi.
Coba jika dia masih ada mendampingi Zizi, pasti Nyi Retnoasih akan membantu Ali.
Tiba-tiba Zizi berhenti dari acara mondar-mandir tak jelasnya.
"Kenapa Zizi?"
Tanya Shane yang lantas berdiri lalu berjalan mendekati Zizi.
"Daripada Kak Seng yang jemput Ali sendirian, lebih baik kita pergi berdua saja."
Ujar Zizi.
Shane menatap perut Zizi, lalu...
"Kamu yakin akan masuk dunia peri sementara kamu baru saja masuk bulan pertama kehamilan Zi? Aku khawatir jika di sana nantinya akan ada banyak yang membahayakan dirimu dan juga calon anak kita."
Kata Shane.
__ADS_1
Zizi menggeleng,
"Tidak akan Kak Seng, daripada aku harus menunggu Ali di sini tanpa melakukan apapun, malah nanti akan lebih bahaya."
Ujar Zizi.
"Kenapa bahaya?"
Tampak Shane malah bingung,
"Ya, aku cemas terus menunggu Ali pulang, sementara tidak jelas dia akan pulang kapan, lalu tiba-tiba Paman Ziyan datang, apa aku nanti aku tidak langsung serangan jantung?"
Kata Zizi, lalu mengoceh lagi,
"Kalau serangan jantung trus jantungnya jadi pisang bagaimana?"
Shane garuk-garuk kepala,
Kenapa jadinya pisang? Batin Shane.
"Wis kak, kita susulin saja, kita tidak bisa terus menerus berpangku tangga."
Kata Zizi.
"Tangan Zizi, berpangku tangan."
Shane meralat kata-kata Zizi dengan sabar.
"Ah iya itu kan tadi, memangnya Kak Seng dengernya apa? Tangga? Hmm... Kak Seng... Kak Seng, masih tidak hafal-hadal nih bahasa Indonesia, padahal udah belajar makan jengkol."
Kata Zizi.
(Zi... suami setengah vampir makan jengkol)
Ampun biyungeeee...
__ADS_1
**-------------**