
Ziyan takut kesalahan, akhirnya langsung menghubungi Zion di Jakarta, sementara Ali dan Lori, serta Paman Marthinus dan Aunty Maria membuat rapat terbatas.
Mereka harus cepat menjemput Zizi pulang, karena jelas ini akan terjadi kegaduhan, atau malah Zizi juga di dunia peri membuat kegaduhan.
"Biar aku dan Lori kembali ke dunia peri untuk jemput Kak Zizi."
Kata Ali.
"Tapi tuan muda Ali, anda sudah sangat lelah, anda harus istirahat, kalau tidak, itu akan sangat berbahaya."
Kata Paman Marthinus yang langsung tak setuju dengan ide Ali.
Lori dan Aunty Maria yang menatap Ali pun tampak mengangguk setuju dengan apa yang disampaikan Paman Marthinus.
Ali tampak pucat, ia kehilangan banyak energi dan ia sudah tak Istirahat berhari-hari.
"Tapi, Kak Zizi sampai ke sana pasti karena aku."
Lirih Ali.
"Tidak apa Tuan muda, biar saya saja dan Maria. Tuan muda istirahatlah."
"Aku akan temani kalian, toh aku juga harus pulang."
Kata Lori.
Tapi, kali ini Aunty Maria tidak setuju,
"Tidak Lori, kau juga harus tinggal di sini sampai kami kembali."
"Lho?"
Lori jadi keder.
"Kau temani Tuan muda Ali lebih dulu, pastikan tak ada yang akan mengganggunya selama kami pergi."
Kata Maria.
"Apa ada yang bisa menggangumu?"
Tanya Lori pada Ali.
Ali tampak diam.
"Energinya melemah, apapun, harus ada yang menjaganya. Mengerti Lori?"
Aunty Maria menatap Lori, yang kini balik menatap Aunty Maria juga, dan akhirnya mengangguk.
Aunty Maria dan Paman Marthinus pun kemudian saling berpandangan, yang juga saling menganggukkan kepala seolah sepakat melakukan sesuatu.
"Kami akan langsung berangkat sekarang,"
Kata Paman Marthinus.
Mereka lantas melesat cepat tanpa bisa dilihat kedua mata biasa lagi.
Sementara itu, Ziyan tampak sedang bicara begitu serius dengan keluarga Zizi di Jakarta, Ali pun menghampiri Ayahnya, Lori mengikuti Ali.
__ADS_1
"Ya... Aku akan kabarkan lagi perkembangannya, jika sampai dua puluh empat jam belum pulang, aku akan telfon lagi."
Kata Ziyan.
Ali berdiri di samping sang Ayah, lalu meminta ijin bicara dengan Pamannya yang ditelfon Ayah.
"Biar Ali yang bicara Yah."
Kata Ali.
Ziyan menatap Ali sejenak, merasa ada benarnya jika Ali saja yang sebaiknya bicara pada Zion, Ayah Zizi, akhirnya Ziyan memberikan ponselnya pada Ali.
Tampak Ali lantas mengambil alih pembicaraan.
Lori melihat Ali bicara dengan alat aneh jadi penasaran.
Ali bicara dengan siapa? Kenapa dari alat itu ada suara manusia?
Batin Lori heran.
"Paman, jangan khawatir, Kak Zizi sedang dijemput Paman Marthinus dan Aunty Maria. Dunia peri sudah tak ada yang membahayakan, semua sudah selesai, Kak Zizi pergi ke sana pasti karena mengira aku kenapa-kenapa, maafkan Ali, Paman."
Kata Ali.
Lori mantuk-mantuk,
"Ya, sekarang ini, istana malah pasti sedang pesta."
Ujar Lori.
"Bagaimana kau tahu?"
Lori tersenyum,
"Kami para peri, setiap kali ada masalah menimpa wilayah kami lalu masalah itu bisa diselesaikan, pasti akan diadakan pesta di seluruh negeri."
Tutur Lori.
"Oh begitu."
Ali mengangguk mengerti.
"Bisa jadi Kak Zizi malah sedang berpesta saat ini, karena dunia peri baru saja menyelesaikan masalahnya Paman."
Tambah Ali.
"Ya, Ali. Berikan kami kabar jika Zizi sudah pulang, dan setelah pulang, suruh dia kembali ke Indonesia secepatnya."
Suara Paman di seberang sana.
"Ya, Paman, nanti Ali sampaikan saat Kak Zizi sudah kembali."
Ali menghela nafas, saat akhrinya sang Paman meminta bicara lagi dengan Ayah Ali.
Ziyan menerima ponselnya lagi, lalu berjalan menuju bangunan utama rumah Hokkaido.
Ali perlahan merasakan tubuhnya melemah, tampaknya benar, bahwa masuk ke dimensi lain, lalu kembali ke ruang dan waktu di alam manusia akhirnya kini baru mulai terasa di tubuh Ali.
__ADS_1
Ali merasa sangat lelah dan juga lapar serta haus pula.
Lori membantu Ali menuju kamarnya, dan cepat membantu Ali mengambilkan air serta makanan yang ada di kulkas dan meja kamar Ali.
Biskuit, keripik dan apapun.
"Nasi, aku ingin nasi."
Kata Ali.
"Nasi? Apa itu?"
Tanya Lori.
"Pergilah ke dapur Lori, temui para pelayan, bilang saja Ali ingin makan, bawakan nasi dan lauk ke kamar Ali."
Ujar Ali pada Lori.
Tampak Lori pun mengangguk mengerti.
'Ya, baiklah. Tunggu, aku akan bilang pada para pelayan."
Kata Lori yang bersiap melayang, tapi Ali panggil lagi.
"Apa lagi?"
Tanya Lori,
"Jalan kaki saja, jangan seperti itu, orang akan mengira kamu hantu."
Kata Ali.
"Hantu? Aku secantik ini? Hantu?"
Lori seolah tersinggung.
Ali jadi garuk-garuk kepala.
Ah ternyata perempuan mau itu manusia ataupun peri sama saja, tersinggungan.
"Manusia akan selalu melihat apapun yang tidak sama dengannya itu menakutkan dan akan selalu berkata itu hantu."
Kata Ali.
Lori akhirnya menurut turun ke lantai, dan berjalan macam manusia.
Ali jadi tersenyum melihat Lori yang begitu mirip manusia sebetulnya.
"Jangan menembus pintu, nanti juga dikira hantu."
Kata Ali lagi.
Lori menghela nafas,
"Ya... Ya... Baiklah."
Sahut Lori pada Ali yang tersenyum manis sekali.
__ADS_1
**-------------**