
Flashback,
"Suara apa itu?"
Raymond terbangun dari tidurnya, saat isterinya bertanya dengan suara berbisik di telinga.
Tampak Raymond menajamkan telinganya, terdengar suara berisik yang tak biasa.
Hatinya tergetar, perasaannya langsung tak enak. Ada yang tak beres, dan ia sadar betul akan hal itu.
"Sayang, pergilah ke kamar anak-anak, dan cepatlah bersembunyi."
Ujar Raymond.
"Kenapa? Ada apa?"
Tanya sang isteri.
Raymond mencium isterinya.
"Semua akan baik-baik saja, pergilah."
Kata Raymond pula, sambil ia turun dari atas tempat tidur berbentuk bunga yang besar.
Isterinya ikut turun, saat kemudian terdengar dinding-dinding kediaman mereka seolah akan dihancurkan dari luar.
"Raymond, keluarlah!!"
Terdengar suara nyaring di luar sana.
Lori kecil di kamarnya, juga terbangun dari tidur.
Lelah ia seharian sebelumnya membantu sang Ibu mengurus banyak tanaman di dalam hutan agar mereka tetap tumbuh subur, kini akhirnya Lori memutuskan untuk sepenuhnya bangun dan turun dari tempat tidurnya yang nyaman.
Lori baru akan keluar dari kamar, saat dari jendela terlihat sepasang mata besar melotot menatap dirinya.
Lori yang terkejut menjerit keras, suaranya terdengar hingga kamar kedua orangtuanya,
"Sayang, Lori..."
Kata Raymond pada sang isteri dan langsung terbang keluar kamar untuk menuju kamar Lori.
"Aku yang ke kamar Lori, kamu selamatkan Belle."
Kata Raymond mengganti perintahnya.
Prang!!!
Suara kaca yang dipecahkan terdengar dari kamar Lori,
__ADS_1
Raymond jelas semakin panik, ia cepat ke arah kamar Lori, membuka pintunya dan mendapati Lori dibekap Dark Joe yang akan segera keluar dari kamar.
"Hey!! Monster sialan! Lepaskan anakku!!"
Raymond marah luar biasa, ia melesat mengejar Dark Joe yang membawa Lori.
Dark Joe itu terus terbang menjauhi rumah Raymond, membuat Raymond terpaksa meninggalkan isterinya dan Belle sendiri di sana.
Ah tentu saja, Raymond tak bisa begitu saja melepaskan Lori yang dibawa Dark Joe, ia harus menyelamatkan anaknya juga.
Raymond mengeluarkan busur cahaya dari tangannya, sebuah anak panah diluncurkannya, dibidikkan ke arah Dark Joe yang membawa Lori.
"To... hmmm... to ... hmmmp..."
Lori berusaha meronta melepaskan diri sambil berteriak meminta tolong.
Tapi karena mulutnya dibekap, maka suaranya tak terdengar jelas.
Satu anak panah cahaya melesat cepat ke arah Dark Joe yang membawa Lori. Anak panah itu berhasil mengenai punggung Dark Joe dan karena sakit yang luar biasa di tubuhnya membuat monster itupun melepaskan Lori.
Lori terhempas begitu saja ke tanah, untungnya di sana ada perkampungan para kurcaci yang begitu melihat Lori akan jatuh langsung berbondong-bondong membantu menangkapnya.
Melihat Lori terlepas, Raymond begitu lega.
Namun kelegaannya tak berlangsung lama, sekelompok penyihir tua terbang melesat ke arah dirinya.
Raymond yang begitu murka mereka telah berusaha mencelakakan keluarganya langsung melesat cepat membawa mereka ke tengah hutan yang jauh dari perkampungan kurcaci.
"Apa mau kalian hah??!!"
Raymond lantang berteriak marah pada sekelompok penyihir itu.
Para penyihir itu tertawa,
"Tentu saja kami akan menjadikanmu tumbal untuk Dewi kematian, hahaha..."
Para penyihir tua itu tertawa.
Raymond mengepalkan tangannya, berani-beraninya mereka bicara seenaknya.
Apa mereka bilang? Menjadikanku tumbal untuk Dewi kematian?
"Dewi kematian pasti sangat senang jika tumbal kami kepadanya adalah seorang Pangeran Raymond, hahahaha..."
Mereka kembali tertawa.
Raymond tak mau membuang waktu, langsung saja ia menyiapkan busur dan anak panah cahaya.
Mengarahkan pada mereka.
__ADS_1
Dalam sekejap, anak panah cahaya itupun melesat lepas dari busur, begitu melesat anak panah itu berubah menjadi banyak.
Anak-anak panah itu berhamburan ke arah para penyihir tua.
Para penyihir tua dengan cepat menghindar dengan terbang naik sapu terbang mereka.
Sapu terbang dengan mesin jet itu melesat jauh,
"Kalian tak akan semudah itu lepas dariku!"
Raymond membabi buta menyerang mereka.
Namun tanpa ia sadari seorang penyihir tua lainnya justeru menyerang Raymond dari belakang.
Penyihir itu mengayunkan tongkat sihirnya, mengutuk Raymond tua dan lemah, agar mudah kemudian bagi mereka menangkap lalu melemparkannya ke dalam danau kematian sebagai tumbal untuk sang Dewi.
Sebagaimana yang dikatakan Peri Merry, jika Raymond akan sangat cocok dijadikan tumbal dan itu akan membuat Dewi kematian akan mau terus membantu mereka serta memberikan kekuatan danau kematian untuk para penyihir tua.
Serangan dari belakang oleh salah satu penyihir tua, membuat Raymond benar-benar terkejut.
Ia tak menyangka jika serangan itu mengenai dirinya.
"Licik!!"
Raymond marah luar biasa.
Tapi penyihir tua itu malah tertawa terpingkal-pingkal.
Sampai kemudian,
Pletak!!
Sebuah batu mengenai kepala si penyihir yang berhasil melempar kutukannya pada Raymond.
Si penyihir mengusap kepalanya dan memandang ke bawah, di mana kini Lori menyeringai dan cepat terbang ke arah penyihir tua.
Lori kecil yang seolah tak peduli dengan ukuran tubuhnya yang kecil dan usianya yang masih sangat muda tanpa takut menantang si penyihir tua jahat itu.
"Sekarang, lawanmu adalah aku Nenek tua peyot ompong!!"
Kata Lori tanpa rasa takut sama sekali.
"Loriii... Jangan nak, terlalu berbahaya..."
Kata Raymond mengingatkan Lori.
Namun, suara Raymond yang masih terdengar keras seolah memancing para penyihir tua lainnya berdatangan lagi.
Mereka menyerbu Raymond yang terlihat berusaha bangkit dari posisinya.
__ADS_1
Hingga...
**--------------**