
Nenek peri terbang ke arah sebuah gerobak yang tergeletak di depan rumah tuanya.
Gerobak yang sepertinya usianya juga sebelas dua belas tuanya dengan si nenek peri.
"Eh Nek, mau ke mana?"
Tanya Zizi.
Namun nenek peri tidak menjawab, ia menunjuk gerobak itu dengan jarinya, dan seketika berubah menjadi kendaraan.
Tapi...
Zizi menghampiri si nenek peri.
"Apa ini?"
Tanya Zizi melihat kendaraan seperti kereta kencana namun tak seindah kereta kencana milik Cinderella.
"Yakin ini bisa dipake Nek?"
Tanya Zizi melihat kereta kencana yang kayunya keropos dan begitu si nenek peri membuka pintunya, tampak pintunya copot.
"Eh eh eh..."
Kata si nenek peri, Shane pun langsung tanggap membantu memegangi.
"Maap, barang kalo tidak digunakan memang gampang dirayapi."
Kata Nenek peri.
Zizi tertawa.
"Sudah nek, terbang saja, naik itu bisa-bisa kau jatuh dan tulangmu patah-patah."
Kata Zizi sadis.
__ADS_1
"Sayang.... No sadis sadis pada nenek tua."
Ujar Shane mengingatkan, tapi Zizi mana peduli, dia terlahir dengan mulut tak ada rem nya sejak kecil.
"Lagian aneh aja, baru tahu ada peri sihirnya juga sesuai umur."
Zizi geleng-geleng kepala.
"Ayo kita cepat ke istana, siapa tahu Ali ada di sana, bukankah warna itu seperti warna cahaya Aquamarine milik Lori?"
Shane pada Zizi.
Tampak Zizi mengangguk.
"Ya benar, itu warna Aquamarine."
Lirih Zizi seraya menatap langit.
"Anak itu, awas saja kalau tidak ada, aku bisa mati kalau dia kenapa-kenapa."
Ujar Zizi.
"Nek, kau akan ikut bersama kami ke istana bukan?"
Tanya Shane.
Nenek peri yang tengah sibuk menyihir kereta kencananya menjadi bentuk lain, tapi tetap hasilnya jelek terlihat mengangguk,
"Pergilah dulu, aku akan menyusul."
Kata nenek peri.
Zizi nyengir melihat kereta kencana yang kini berbentuk seperti labu, tapi labunya sudah keriput karena tua.
"Nek, ganti saja jadi private jet, lagian jaman sekarang kereta kencana terbang bisa ketabrak drone. Hahaha..."
__ADS_1
Zizi tertawa jahat.
Shane yang daripada melihat isterinya makin menyakiti hati nenek peri, akhirnya menarik tangan Zizi saja menjauhi rumah nenek peri, untuk menuju pendar cahaya biru kehijauan milik Aquamarine yang kata nenek peri arah itu adalah arah menuju istana.
Ah ya, mereka dulu pernah ke sana saat menghadapi Shilba Dolores.
Saat istana dikuasai peri jahat itu, mereka datang ke sana untuk menyingkirkan sekaligus memutus kutukan yang menyelimuti wilayah para peri bunga.
Istana Oracle, begitu dulu dikenal oleh mereka, yang usut punya usut, Oracle ternyata hanyalah menantu keluarga istana, isteri Noel yang terpaksa menggantikan Raymond kakaknya yang pergi dari istana dan enggan duduk menjadi Raja.
"Kita ke istana dan bawa Ali pulang. Jika sampai besok dia tak pulang, pasti Paman Ziyan akan meminta polisi Jepang mencari Ali di sepenjuru negara. Ini akan terlalu heboh."
Kata Zizi.
"Tentu saja, dan kamu pasti akan dimarahi Papa dan Mama, bukan?"
Shane tersenyum,
Zizi mantuk-mantuk.
"Ya, bahkan saat aku tiba-tiba akan punya anak, aku masih sering dimarahi Mama. Aku anak yang malang, kayak baso."
Ujar Zizi,
"Baso?"
Shane tak mengerti.
Zizi menggelengkan kepalanya.
"Ya vampire tak bisa makan baso, makanya tidak tahu ada baso malang."
Ujar Zizi.
Shane pun melesat menarik isterinya sambil sibuk berpikir, apa sebetulnya yang sedang isterinya bicarakan. Kadang kala, kata-kata Zizi benar-benar sulit dimengerti.
__ADS_1
**--------------**