
Ali tampak memimpin rombongan berjalan mengikuti jalanan yang seperti di dalam mimpinya itu.
Jalan yang semakin lama semakin kecil itu nyatanya benar membawa mereka ke satu titik di mana mereka bisa melihat di kejauhan ada bukit yang di atasnya ada puri berdiri dan tampak puncaknya berkilauan.
Ali menghentikan langkahnya sebentar, ia menoleh ke belakangnya, di mana Zizi berada.
Zizi yang melihat Ali menghentikan langkahnya kemudian menunjuk ke arah bukit.
"Kakak Zizi lihat kan?"
Tanya Ali.
Zizi mantuk-mantuk,
"Ya Al, Kak Zizi melihatnya."
Jawab Zizi.
Ali tersenyum, lantas mengajak semuanya meneruskan perjalanan.
"Ini akan sangat melelahkan,"
Tiba-tiba Shane bersuara,
Aunty Maria mengangguk setuju, lalu sambil menambahkan kata-kata,
"Ya benar kata Shane, ini akan sangat melelahkan, terutama untuk Zizi dan juga untuk Tuan Muda Ali sendiri. Lihatlah, itu masih sangat jauh, apalagi ditambah harus berjalan menanjak."
Zizi menghela nafas,
Benar memang kata Aunty Maria, ini terasa sangat berat untuk Zizi yang sedang mulai berbadan dua.
"Lalu harus bagaimana?"
Tanya Ali dan Zizi kompak,
"Tentu saja terbang."
Jawab Shane yang tanpa bicara apa-apa lagi langsung meraih tubuh Zizi dan membawanya melesat cepat menuju bukit nan jauh di sana.
Lori yang melihat Shane membawa Zizi pergi mendahului mereka tentu saja tak tinggal diam, ia lantas menarik tangan Ali, dan kemudian dengan tangan yang satunya yang mengeluarkan kerlip-kerlip keemasan, Lori membuat Ali terangkat hingga kemudian bisa terbang bersamanya.
Lori dan Ali kini pun melayang di atas banyak pepohonan di hutan yang ada di kanan kiri jalanan, Aunty Maria juga tentu saja langsung cepat menyusul mereka.
Bukit itu masih cukup jauh, bahkan saat mereka menempuhnya dengan terbang pun mereka masih memerlukan banyak waktu ke sana.
Ali yang kini juga merasakan melayang tampak seperti ngeri namun sekaligus juga takjub.
__ADS_1
Rasanya sungguh berbeda dengan saat terbang mengenakan pesawat, helikopter maupun terbang layang.
Ali menatap ke bawah, melihat hamparan hijau pepohonan yang tumbuh di hutan, dan juga padang rumput yang luas, liuk kelok sungai dengan banyak bebatuan, dan juga ternyata di sana juga tampak ada telaga yang baru bisa mereka lihat setelah berada di atas.
"Suami Kak Zizi cepat sekali gerakannya, mereka bahkan sudah tidak terlihat."
Tiba-tiba suara Lori terdengar, membuat Ali akhirnya mengalihkan pandangannya dari panorama yang ada di bawah sana menjadi ke arah Lori.
"Dia kan vampire, ia memang sangat cepat, bukankah kamu sudah tahu?"
"Aku bukan tidak tahu dia bukan manusia biasa, aku hanya belum tahu gerakannya sangat cepat."
Ujar Lori,
Ali baru akan menyahut untuk menanggapi Lori, manakala tiba-tiba,
"Awaaas...,"
Aunty Maria berteriak sambil terpental ke belakang di mana ada Ali dan Lori yang jelas langsung menghindar.
Zizi dan Shane muncul melayang ke arah Lori dan Ali lalu menarik mereka untuk turun saja.
"Ada apa sebetulnya Kak?"
Tanya Ali ketika akhirnya mereka semua telah turun,
"Ada yang memagari bukit dengan energi yang sangat kuat, kakak belum pernah merasakan ada energi sekuat ini untuk memagari tempat."
"Apakah berbahaya? Apakah itu energi jahat Kak?"
Tanya Ali lagi.
Zizi mengangguk,
"Ya jelas, energi itu energi jahat dan juga sangat kuat."
Ali dan Lori saling berpandangan satu sama lain.
"Lorii... Loriii..."
Suara itu kembali terdengar, suaranya kini semakin jelas, Lori melihat ke ujung jalan,
"Kita tidak bisa masuk dengan terbang langsung menuju ke sana, yang bisa kita lakukan mau tidak mau adalah tetap berjalan kaki hingga sampai di atas bukit dan menemukan puri itu."
**----------------**
"Lorii... Loriii... Ibu lelah sekali, kemarilah nak... Ibu sangat merindukanmu, ijinkan Ibu bertemu denganmu Lori, ijinkan Ibu meski hanya satu kali saja sebelum Ibu tiada."
__ADS_1
Lirih terdengar suara perempuan dari dalam sebuah ruangan kecil yang ada di dalam puri.
"Loriii... Loriiii..."
Suara itu terus memanggil Lori, nadanya begitu sedih, suaranya lirih seperti sudah diliputi keputusasaan yang begitu besar.
Ya, suara itu, suara yang terdengar oleh Ali dan Lori, suara seorang perempuan cantik yang kini berada di sebuah ruangan kecil nan gelap, yang dipagari energi berlapis yang tak terlihat.
Perempuan cantik itu kurus kering terkulai lemah tak berdaya, seolah mati tidak hidup juga tidak.
"Sampai kapan kau akan terus memanggil nama anakmu?"
Tanya seekor cicak yang sedang sibuk wall climbing kepada perempuan cantik yang terkulai lemah tak berdaya di dalam ruangan gelap itu.
"Kau terus memanggilnya selama bertahun-tahun, tapi tak pernah satu kalipun anakmu yang bernama Lori itu muncul di sini. Jangankan menolong untuk mengeluarkanmu dari ruangan mengerikan ini, menengokmu pun tidak."
Kata si cicak sinis dan sedikit meremehkan.
Ya, perangai Cicak memang begitu, ia sangat menyebalkan.
Cicak, memang satu-satunya binatang yang selalu bicara julid tidak jelas.
Bahkan di kisahkan dulu ketika Nabi Ibrohim di bakar dan semua binatang berusaha membantu memadamkan api yang membakar Nabi, hanya Cicak lah yang tak diceritakan tak mau membantu.
"Jika aku jadi kau, lebih baik aku serahkan saja Aquamarine itu pada dia, dengan begitu aku bisa pulang tanpa harus susah payah menyerahkan diri untuk disiksa."
Sang cicak masih terdengar julid binti nyinyiran.
Tapi, perempuan itu tak bergeming.
Ia tetap dalam pengharapannya, bahwa suatu hari ia akan bisa bertemu dengan suami dan anak-anaknya.
Mereka akan bisa kembali berkumpul, merasakan kebahagiaan sebagaimana keluarga lainnya.
"Lorii... Lori... Ini Ibu nak... Ini Ibu naaak.. "
Sedih suara perempuan tersebut, sambil menangis ia terus saja memanggil nama anaknya.
Perempuan itu tahu dan sadar jika ia mungkin sudah sangat lelah, tapi ia tak bisa menyerah begitu saja sekarang.
Tentu saja...
Ya, tentu saja, perempuan cantik itu tak mungkin menyerah, apalagi memberikan Aquamarine.
Tidak, ia tak mungkin membiarkan Aquamarine nantinya disalah gunakan.
Tidak mungkin ia membiarkan mereka yang jahat akan mampu membuat kerusakan lebih parah.
__ADS_1
Tak apa, Ibu tak apa. Ibu yakin kamu akan datang Lori... Ibu yakin. Batin perempuan cantik itu sedih.
**-------------**