Magic In Love

Magic In Love
43. Ditemukannya Permata Bawah Laut


__ADS_3

Marthinus dan Shane membongkar sebuah ruangan di ujung bangunan rumah keluarga Zizi di Hokkaido.


Marthinus mengatakan ia merasakan satu energi aneh di sana.


Shane atas izin dari Zizi, akhirnya bersama Marthinus membongkar semua perabotan di sana.


Selama proses itu, Zizi juga datang mengawasi, ia tentu ingin memastikan secepatnya jika memang Aquamarine masih tersimpan di sana.


Dan...


Martinus tiba-tiba diam, di satu sisi ruangan yang telah begitu lama kosong itu, kini Martinus tampak duduk di atas lantai kayu ruangan.


"Saya buka Nona?"


Tanya Marthinus, sang kepala pengawal pribadi Zizi dan Shane.


"Ya, buka saja. Bongkar bila perlu."


Kata Zizi tak sabar sambil mendekat.


Marthinus lantas dengan kekuatannya, memukul lantai dari papan kayu tersebut, yang sekali pukul tampak sudah langsung hancur.


Shane membantu membongkar beberapa papan, yang kemudian terlihat di sana kilau kecil warna biru kehijauan.


"Kita menemukannya."


Kata Shane pada Zizi.


Terlihat Zizi mendekat, Shane dan Marthinus memberikan ruang untuk Zizi melihat sendiri dan bila perlu Zizi yang mengambilnya.


Zizi melihat kilau biru kehijauan yang ada di tanah bawah lantai papan kayu.


Zizi lantas duduk, lalu membungkuk sedikit untuk kemudian meraih batu kecil itu.


Pecahan batu yang telah sedikit terkubur di tanah itu pun begitu Zizi raih, tampak memancarkan cahaya biru kehijauan yang begitu terang.


"Ya ini yang dulu ikut terpental keluar dan aku berikan pada Ali."


Ujar Zizi.


Shane mengangguk, ia ingat memang batu itulah yang dulu Mbak pocong laporkan.


Marthinus menatap Aquamarine stone yang ada di tangan Zizi.


"Batu kerajaan bawah laut."


Kata Marthinus.


Zizi dan Shane seketika melihat ke arah Marthinus.

__ADS_1


"Bagaimana Paman tahu?"


Tanya Zizi yang kemudian berdiri dari posisinya.


Marthinus mengangguk,


"Setiap kerajaan bawah laut memiliki Aquamarine stone dan mutiara merah. Keduanya adalah bagian dari pusaka para penghuni laut. Aku bertemu beberapa dari mereka yang kadang tanpa sengaja tertangkap manusia dalam wujud mereka sebagai binatang laut."


"Bukankah Paman selama ini di dalam hutan?"


Tanya Zizi heran.


"Saat kecil saya pernah tinggal di satu hutan dekat pantai, beberapa kali aku menolong mereka yang kebetulan sedang tidak terlalu beruntung saat mencari makan di permukaan laut."


"Begitu rupanya."


Zizi mantuk-mantuk.


"Ali dan Lori, tadi kata Aunty masih ada di puri tempat Ibunda Lori dikurung bukan?"


Zizi menatap Shane.


"Ya, aku rasa Aunty mengatakannya. Apa aku harus mengantarkannya sekarang?"


Tanya Shane.


Zizi menghela nafas, ia tentu tak bisa membiarkan Shane pergi jika ia sendiri tak bisa pergi.


"Paman saja."


Ujar Zizi.


"Paman, kau bisa kan memberikan Aquamarine stone ini pada Lori, jelas peri itu kini sedang membutuhkannya."


Kata Zizi kemudian.


Marthinus menatap batu permata yang tak utuh dan tampak berkilauan itu.


"Berikan pada Lori, bantu dia menyelesaikan masalahnya. Aku rasa, masalah yang mereka hadapi sangat pelik, aku sudah pernah diberitahu nenek Retnoasih soalnya."


Kata Zizi.


Marthinus pun akhirnya mengangguk,


Tentu saja, sumpahnya untuk setia mengabdi pada keluarga Zia dan Zion telah mengakar dalam diri Marthinus.


Dan jika ini adalah mandat dari Zizi, maka pantanglah Marthinus menolak.


"Baiklah Nona Zizi, akan aku pastikan Aquamarine sampai ke tangan yang berhak atas permata ini, dan semua masalah juga bisa selesai."

__ADS_1


Kata Marthinus membuat janji.


Zizi mengangguk,


"Aku yakin Paman bisa melakukannya dengan baik. Paman adalah yang terbaik selama ini."


Kata Zizi.


Marthinus tersenyum.


Kepala pengawal bertubuh tinggi besar dengan rambut gondrong pirang yang diikat itu tampak membungkuk memberi salam untuk pamit.


Marthinus keluar dari ruangan yang telah berantakan itu.


Sepeninggal Marthinus, tampak Zizi duduk di salah satu kursi di sana.


"Aku lupa mengatakan pada Paman agar ia nanti harus membawa pulang Ali dengan selamat."


Lirih Zizi...


Shane tersenyum, ia mendekati Zizi lalu duduk di dekatnya.


"Tanpa mengatakannya pun Paman pasti sudah tahu apa yang harus ia kerjakan Zizi. Ia tahu betul bagaimana kau menyayangi Ali dan Eva. Apapun yang kau sayangi, sudah jelas Paman Marthinus akan melindunginya habis-habisan."


Ujar Shane.


Tampak Zizi menghela nafas,


"Ya aku tahu."


Kata Zizi pula.


Shane lantas mengajak Zizi kembali ke kamar mereka.


Meski udara musim semi sangatlah hangat, tapi tetap saja Shane merasa Zizi seharusnya berada di dalam kamar yang nyaman agar tetap bisa sehat.


"Besok aku akan siapkan semuanya untuk Minggu depan kita bisa terbang ke Brazil."


Kata Shane.


Tampak Zizi pun mengangguk setuju,


"Tidak usah bilang Papa dan Mama dulu ya Kak Seng, karena pasti nanti mereka tak akan setuju."


Ujar Zizi.


Shane nyengir kuda, tentu saja permintaan Zizi itu adalah sama halnya meminta Shane untuk berbohong juga pada orangtuanya.


Dan Shane tak akan melakukannya.

__ADS_1


Shane akan tetap memberitahukan pada papa mertuanya, meksipun dengan cara sembunyi-sembunyi pastinya.


**---------------**


__ADS_2