Magic In Love

Magic In Love
28. Kami Datang


__ADS_3

Angin kencang bergulung-gulung menjadi badai, bersamaan dengan langit yang gelap pekat seperti malam.


Zizi tampak mengacungkan pedangnya ke angkasa, di mana kemudian hujan tercurah dengan begitu deras diliputi petir yang menyambar-nyambar di atas bangunan puri di depan mereka.


"Apa itu? Apa itu? Kenapa alam tiba-tiba mengamuk?"


Para penghuni puri panik berlarian keluar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Peri cantik yang sekian puluh tahun terkurung di sana, dengan tubuhnya yang tak berdaya juga terlihat mendekati jendela untuk melihat ada apa di luar sana.


Gemuruh di langit begitu mengerikan berbarengan dengan kilat petir yang silih berganti seolah tanpa jeda.


"Lama sekali tak melihat alam semenakutkan ini, ada apa sebetulnya?"


Gumam si peri cantik tersebut,


Peri yang terlihat tak berdaya itu berdiri di balik jendela seraya meletakkan telapak tangannya di sana,


Ada energi besar yang tak biasa dan asing yang bisa ia rasakan, dan baru saja ia ingin tahu apa, ia tiba-tiba saja melihat cahaya keperakan yang seperti memagari puri itu tiba-tiba lenyap seolah dilahap sinar kemerahan layaknya api.


Peri itu matanya terbelalak tak percaya, entah apapun dan siapapun yang memiliki energi itu, jelas itu bukan sesuatu yang biasa.


Jegeerrr!


Jegeerrr!!!


Suara sambaran petir terus terdengar, bersamaan dengan munculnya cahaya biru kehijauan yang berpendar di tengah derasnya hujan yang menghalangi penglihatan.


Dan...

__ADS_1


Aroma mint itu...


Aroma mint itu, sungguh sang peri sangat mengenali aroma itu.


Peri itupun langsung berusaha membuka jendela tempatnya terkurung, mengetuk jendela dengan sekuat tenaga agar jendela itu pecah dan hancur.


"Lori... Loriiiii..."


Peri cantik itu berusaha memanggil-manggil Lori yang ia yakin bahwa dialah yang kini datang untuk menjemputnya.


Ya Lori, tentu saja itu dia, aroma mint dan cahaya biru kehijauan, hanya Lori yang memilikinya karena itu adalah anaknya.


Peri cantik yang tak lain adalah Ibu Lori itu lantas menengadahkan telapak tangannya, di mana dari sana terlihat kilau biru kehijauan yang sama yang dimiliki Lori.


"Lori, lihatlah ke atas nak, Ibu ada di sini, Ibu ada di sini."


Sementara itu di luar sana, Zizi tampak terhuyung, kondisinya yang sudah mulai hamil membuatnya cepat lemah.


Tampak Shane cepat meraih tubuh Zizi agar tak sampai jatuh.


"Alii... Aliii..."


Zizi memanggil Ali yang cepat mendekati Zizi.


"Kau teruskan perjalananmu dengan Lori mencari Ibunya, Kak Zizi hanya bisa membukakan pagar ini untuk kalian.


Kata Zizi.


Ali menatap Zizi dengan tatapan cemas,

__ADS_1


"Pergilah Ali, pergilah bersama Lori mencari Ibunya, Kak Zizi tidak apa-apa, ada Kak Seng yang bersama Kak Zizi."


Ujar Zizi lagi.


Zizi kemudian menatap Aunty Maria,


"Aunty, bisakah kau menggantikanku menemani Ali?"


Tanya Zizi.


Aunty Maria mengangguk cepat tanpa ragu sama sekali,


"Hati-hati dengan kekuatanmu Al."


Terdengar Zizi berpesan, Ali pun mengangguk.


Pedang pusaka milik Zizi telah kembali merasuk ke dalam dirinya, pelahan alam pun kembali tenang.


Ali, Lori dan Aunty Maria kemudian bergegas menuju bangunan puri tua yang Ali yakin di sanalah suara perempuan yang memanggil-manggil Lori berada.


Memanggil Lori sembari mengatakan jika ia adalah Ibunya.


Hingga...


Aunty Maria yang menyadari lebih dulu pendar cahaya biru seperti milik Lori di jendela puri paling atas.


"Di sana!"


Aunty Maria menunjuk jendela paling atas, dan...

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2