
Ciaaaaat...
Zizi melompat masuk ke dunia peri lewat gerbang di sekitar pohon Sakura dekat ruangan yang ditempati Ali.
"Sayang, pelan-pelan, nanti perutnya jatuh, eh maksudnya nanti kamu jatuh dan perutnya kenapa-kenapa."
Kata Shane yang menyusul melompat masuk ke dunia peri.
Jreng!
Zizi dan Shane masuk ke dalam dunia peri, dan...
Et... et... et...
Zizi goyang-goyang hampir jatuh karena mereka salah memilih sudut untuk masuk, yang walhasil sekarang keduanya berada di atas atap rumah tua.
Shane cepat meraih tubuh isterinya yang mulai doyong ke belakang, setelah itu di angkatnya Zizi untuk kemudian dibawa terbang,
Sat set...
Shane melompat ke atas pohon.
"Siapa di atas?!!!"
Seorang nenek tua keluar dari rumah yang sebelas dua belas tuanya dengannya.
"Lah di dunia peri ternyata ada juga yang tua-tua begitu, kirain cuma Merry."
Kata Zizi pada Shane.
"Ya kan alam semesta saja menua, apalagi Peri."
Ujar Shane.
Zizi pun mantuk-mantuk,
Mereka lantas celingak-celinguk untuk memastikan ke mana seharusnya kaki melangkah untuk mencari Ali.
"Kayaknya Ali di rumah Lori, atau di mana ya?"
Gumam Zizi.
"Tenang sayang, aku akan coba mengendus aroma Paman Marthinus lebih dulu, aroma dia paling kuat soalnya."
Kata Shane.
"Ah iya, keapekan yang mengandung kekuatan super. Dia kalau jadi superhero pasti dinamakan Apekman,"
Kata Zizi seraya menatap jauh ke depan.
Apekman, bagaimana bisa superhero penuh aib.
"Angin berhembus dari arah utara menuju selatan, aroma yang tercium adalah aroma coklat dan bunga."
Shane sedang mencoba memikirkan ke mana arah paling tepat mereka harus pergi, saat tiba-tiba,
__ADS_1
Tung!!
"Aduh."
Zizi berbalik ke belakang karena kepalanya kena lemparan panci.
Nenek tua yang tadi keluar dari rumah tua tampak terbang menatap aneh pasangan Zizi dan Shane.
"Haiiish.. minta dihajar ini orang."
Kata Zizi yang bersiap menghajar si nenek, tapi tentu saja Shane menahan tangan Zizi.
"Jangan dulu Zi, sabar, bagaimanapun dia nenek-nenek."
"Tapi dia lempar kepalaku pake panci."
Zizi tidak terima.
Nenek tua yang terbang itu kini melayang di depan Zizi dan Shane,
"Kalian mahluk apa?"
Tanyanya.
"Mahluk Tuhanlah."
Sahut Zizi.
"Itu tidak usah dibahas, setan saja mahluk Tuhan, bahkan amuba juga mahluk Tuhan. Maksudnya kamu ini dari jenis apa?"
"Ya kelihatannya apa Nek? Apa aku terlihat seperti kaktus?"
Zizi jadi kesal, sudah jelas dia manusia masih tanya dia mahluk apa, kan kurang asem.
Nenek melihat dengan seksama, lalu...
"Kamu..."
Nenek menunjuk Shane.
"Kamu seperti manusia tapi terlalu pucat,"
Kata nenek yang sungguh menyakiti hati Shane, oh oh sungguh terlalu si nenek.
"Kamu..."
Nenek sekarang melihat ke arah Zizi.
"Kamu sekilas seperti manusia, tapi kenapa kepalamu seperti Naga?"
Hah?
Zizi ternganga.
Aduh buset ini halu macam apa, sangat tidak proporsional, kepala Naga tubuh manusia.
__ADS_1
"Nek, yang bener dong, itu Nenek matanya katarak."
Kesal Zizi.
Tapi si nenek malah terkekeh-kekeh,
"Ada juga Naga cerewet, ehehehe... ehehehee..."
Nenek tertawa dengan semangat.
Haiish... Zizi mendesis.
"Tapi aku yakin kalian pasti dari dunia lain,"
"Justeru dunia mu ini dunia lain, coba saja tanya Citra Prima."
Kata Zizi ngedumel.
"Ehehehehe... Naga cerewet."
Nenek tua itu terus tertawa karena melihat Zizi yang di matanya adalah manusia berkepala Naga.
"Maaf Nek, kami dari dunia manusia, mau cari saudara kami yang sudah berhari-hari tidak pulang dan sepertinya dia masih ada di dunia peri."
Kata Shane.
"Ooh manusia, aku melihatnya kemarin di hutan coklat, pergilah ke sana, aku melihat dua orang melawan kelompok bayangan hitam dan burung gagak milik para penyihir tua."
"Nenek bukan penyihir Nek?"
Tanya Zizi.
Plak!
Si nenek menabok kepala Naga.
"Aku ini peri tua yang sedang ingin menenangkan diri, dulu aku abdi setia istana, tapi sejak Raja dan Ratu meninggal, aku memilih di sini saja, berteman sepi."
Kata si Nenek.
"Oh begitu Nek,"
Zizi mantuk-mantuk, lalu tiba-tiba Zizi haus, lalu Zizi pun merangkul Nenek,
"Nek, apa kau tidak tertarik mengundangku masuk ke rumahmu? Aku mau jika disuguhi air madu, atau boleh lagi coklat panas."
Kata Zizi tak tahu malu.
Nenek pun terkekeh,
"Naga yang aneh, minum coklat panas, baiklah, ayo aku akan buatkan, kebetulan sudah lama aku tak ada teman bicara."
Kata Nenek tua akhirnya.
**----------**
__ADS_1