
Sulitnya memaafkan rasanya semua orang paham, termasuk Dewi. Apa lagi jika kesalahan yang di lakukan orang itu fatal seperti yang di lakukan Bramanstya. Wajar jika Dewi merasa delema, jika ia menerima Bram untuk bertanggung jawab. Apakah Bram nanti tidak akan melakukan kesalahan lagi?
"Selamat pagi." Sapa seorang wanita kira-kira 50 tahun datang membawa tas jinjing dan berbahasa Indonesia menyita perhatian Dewi.
"Selamat pagi Bu." Dewi beranjak sembari mengelap air mata mendekati wanita itu. Dewi menyambut uluran tangan wanita berhijab hatinya merasa sejuk memandangnya.
"Kamu pasti Dewi?" Tanya Wanita Itu ramah.
"Benar Bu, Ibu sendiri siapa?" Tanya Dewi memastikan bahwa wanita ini bibi yang di jemput Zaidan. Seperti yang Bram perintahkan di mobil tadi. Dewi cium tangan wanita itu seperti ibunya sendiri.
"Saya Aminah panggil saja Ami, art Tuan Bram dari Jakarta." Tutur bu Ami.
"Saya Dewi Bu, dari Surabaya." Dewi tersenyum, merasa ada semangat setelah kehadiran Ami. Perkenalan selesai Ami mengajak Dewi masuk ke dalam.
"Tapi Bu." Dewi ragu ketika hendak masuk, memilih diam di depan pintu.
"Jangan takut, kan sama saya," Ami mengait lengan Dewi.
Begitu menginjakkan kaki di dalam, Dewi memandangi seputar ruangan apartemen tampak 'wow. Semua serba coklat muda, memang laki-laki banget. Desain apartemen mewah itu semua berwarna coklat. Dari sofa, meja, daun pintu. Tembok dan iternit kombinasi antara coklat dan putih susu sungguh membuat betah.
"Amazing" Ujar Dewi.
Tidak sadar jika Ami meliriknya tampak Dewi sedang terkesima memandangi ruangan. Ami tersenyum senang, Dewi berubah begitu cepat. Padahal saat Ami datang, Dewi terlihat kacau entah apa penyebabnya, Ami tentu tidak tahu.
Dewi menarik napas panjang. Andai saja sang pemilik apartemen bukan pria yang sudah menancapkan paku ke ulu hatinya, alangkah senangnya Dewi tinggal di tempat ini.
"Sini ikut Ibu." Ami membuka pintu mengajak Dewi masuk ke salah satu kamar.
"Ini kamar Non Dewi, sebaiknya istirahat ya, saya buatkan sarapan dulu." Titah Ami.
"Tetapi saya tidur sendiri kan Bu?" Tanya Dewi polos. Ia takut jika kamar ini untuk berdua dengan Bram lebih baik ia tidur di luar saja.
__ADS_1
"Sendiri, memang kamu takut ya, jangan khawatir kamar ini tidak ada hantu nya." Kata Ami salah tanggap. Tidak tahu jika yang dimaksud Dewi adalah hantu jadi-jadian yang tak lain adalah Bramanstya.
"Terimakasih, Bu" Dewi tidak mau banyak bicara, karena ingin segera ke toilet. Setelah Ami keluar Dewi bergegas ke kamar mandi, menuntaskan hajatnya.
"Legaa..." Ujar Dewi setelah keluar dari toilet, ia lucuti pakaian berendam di bathtub, sekali-kali ingin merasakan menjadi orang kaya. Setelah ambil sabun cair di pinggir bathtub, ia menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun yang sangat wangi belum pernah Dewi temui di Indonesia.
Dewi merasa heran mengapa kamar mandi ini lengkap dengan perlengkapan wanita. Dewi berpikir mungkin ada wanita yang sering mandi di sini, tetapi mengapa semua nya masih baru. "Ah bodo amat" Gumamnya sambil main busa di dalam bathtub.
Selama 30 menit, Dewi memanjakan tubuhnya, kemudian beranjak. Handuk pun rupanya sudah tersedia dan masih baru pula. Namun, Dewi tetap mengenakan kembali pakaian yang sejak kemarin melekat di tubuhnya, karena tidak membawa pakaian ganti. Merasa lebih segar Dewi menyisir rambutnya di depan cermin.
"Non Dewi... kita sarapan." Panggil Ami dari luar.
"Iya Bu" Dewi segera keluar aroma masakan membuat perutnya semaikin minta di isi. Tampak di meja makan, Ami sedang menata sarapan.
"Masakanya harum banget Bu." Dewi menghampiri Ami.
"Iya... saya memasak semur Ayam. Ayo nak, duduk." Ami menarik kursi untuk Dewi.
"Semur itu justeru asli masakan negara ini Non, mungkin karena dulu terjadi penja***** di negara kita, makanan ini menjadi terkenal di Indonesia. Menurut Nyonya besar, begitu ceritanya Non" Papar Ami.
"Nyonya besar itu siapa Bu?" Mendengar sebutan nyonya besar, Dewi ngeri membayangkan jika sang nyonya wanita galak.
"Nyoya besar itu, almarhum ibunya Tuan Bram Non." Jawab Ami.
"Oh gitu ya Bu." Dewi manggut-mangut, lalu menatap tampilan Ayam kecap masakan kesukaan Dewi itu menggugah seleranya.
"Semur ini masakan kesukaan kamu kan Non?" Tanya Ami menyendok nasi untuk Dewi. Sebenarnya Dewi ingin menolak dilayani seperti ini. Tetapi kata "Kesukaan kamu" Yang di ucap Ami mengejutkan Dewi.
"Ibu tahu darimana, kalau semur ini kesukaan saya?" Dewi menatap Ami.
"Kata Tuan Bram." Ami senyum-senyum.
__ADS_1
"Tuan Bram?" Dewi terperangah, darimana pria jahat itu tahu makanan kesukaannya. Padahal bertemu dengan Bram hanya beberapa kali, itupun selalu emosi sampai ke ubun-ubun.
"Sudahlah Non, sarapan dulu gih, nanti saya dimarahi Tuan loh, kalau sampai beliu telepon, Non Dewi belum makan." Ami risau.
Mendengar penuturan Ami, Dewi ingat ketika Bram memarahi Zaidan. Tidak ingin Ami kena damprat seperti Zaidan, Dewi segera melahab dada Ayam tersebut. Selesai makan Dewi hendak membereskan meja.
"Jangan Non, biar saya," Ami segera menyandak lap basah dari tangan Dewi.
"Memang kenapa Bu?" Dewi bingung, mengapa di rumah ini menjadi seperti ratu yang selalu di layani, dan tidak boleh mengerjakan ini itu.
"Ini sudah tugas saya Non, kalau Non Dewi yang ngerjain terus saya di suruh ngapain," Kata Ami, sembari menggosok-gosok meja.
"Oh iya Non, saya lupa bilang, baju ganti Non Dewi ada di lemari," Kata Ami mengajak Dewi ke kamar, setelah melihat Dewi belum ganti pakaian.
"Baju Non Dewi di dalam lemari ini, ambil saja ya, saya mau melanjutkan cuci piring"
"Tetapi saya tidak membawa pakaian ganti Bu." Dewi menahan tangan Ami ketika hendak keluar.
"Buka saja lemari itu Non." Titah Ami.
"Iya Bu" Dewi pun mendekati lemari, membuka sedikit demi sedikit, dan akhirnya terbuka lebar. Dewi menutup mulutnya melihat pakaian wanita berbagai merk dan model terpajang dengan rapi di lemari. Bahkan, pakaian dalam pun sudah tersusun rapi.
"Buu..." Dewi kembali keluar. "Yang di lemari itu, pakaian siapa?" Dewi tentu tidak mau memakai pakaian yang bukan miliknya.
"Sudah... pakai saja, baju itu milik Non, Tuan sudah pesan pada saya." Ucap Ami. Setelah mendapat penjelasan dari Ami, Dewi kembali ke kamar memilih baju santai dan pakaian dalam lalu mengenakan. Dewi bingung kenapa bisa selimut dua gunung nya pun ukurannya pas.
Setelah rapi Dewi keluar dari kamar, tetapi tidak ada Ami. Dewi memutuskan rebahan di sofa. Faktor kelelahan belum ada 10 menit kemudian tidur.
Siang hari pria bertubuh tinggi masuk ke dalam lift. Sejak pagi di kantor tidak bisa konsentrasi bekerja. Ingat pujaan hatinya ketika ia tinggalkan dalam keadaan marah.
~Bersambung~
__ADS_1