Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 27


__ADS_3

*Masih kilas balik*


Mobil yang di kendarai bodyguard berjalan lancar melewati jalan pedesaan. Walaupun jalanan kecil namun lancar karena tidak ada mobil lain yang melintas. Namun pada akhirnya melambat ketika sudah tiba di kota Surabaya. Klakson bersahutan terdengar berisik, masing-masing mencari celah jalan agar cepat tiba sampai tujuan.


Bu Endang memutar bola matanya menatap bangunan yang tampak asing baginya. Dengan meminjam buku Jati, bu Endang mengipas tubuhnya karena udara mulai gerah, ketika keluar dari mobil. Mata hari cukup terik ditambah minimnya pepohonan itulah penyebabnya.


"Mari kita naik." Bodyguard menekan tombol lift ketika tiba di apartemen.


Mereka semua masuk lift. Bu Endang tampak bingung dan takut lalu merangkul lengan suaminya ketika merasa lantai yang di pijak bergerak.


"Ngga apa-apa Bu, kita kan ramai-ramai." Pak Adi menenangkan istrinya. Belum selesai bicara, pintu lift pun sudah terbuka lalu anak dan suaminya memegangi tangan bu Endang.


Keluarga pak Adi mengikuti bodyguard masuk ke dalam apartemen. Semua mata tertuju kepada pria blasteran tampan, gagah, tinggi, dan berwibawa, tampak sedang telepon entah kepada siapa. Begitu melihat orang suruhannya dan 4 orang lainya pria itu segera memutuskan sambungan telepon.


"Ibu dan Bapak ini, kedua orang tua Dewi Tuan." Kata bodyguard. Pria itu melemparkan kepalanya ke samping memberi kode agar anak buahnya menyingkir.


Mendengar nama Dewi disebut keluarga pak Adi paham bahwa yang dimaksud bos adalah pria ini.


"Tuan yang menolong anak saya? Lalu kemana Dewi?" Bu Endang tidak sabar.


"Dia masih pingsan di kamar Pak, Bu. Tetapi tidak apa-apa. Putri Bapak sama Ibu sudah diperiksa dan alhamdulillah sehat." Tutur Bram, sembari berjalan ke kamar bersama keempat tamunya.


"Dewi..." Bu Endang menangis sesegukan di dada putrinya tetapi Dewi belum juga bangun. Sementara pak Adi dan kedua putranya mengusap-usap kaki Dewi.


"Sebaiknya... kita keluar Pak, Bu. Ada yang ingin saya bicarakan." Kata Bram, beberapa menit kemudian.


Pak Adi mengangguk lalu mengikuti Bram ke ruang tamu lalu menyilahkan duduk.


"Terimakasih Tuan, kerena sudah menolong anak saya." Wajah pak Adi sedikit berbinar-binar. Kala ada orang baik yang menolong Dewi. Pak Adi tidak tahu bahwa Bram diam-diam sedang menyusun kata-kata bagaimana caranya memulai mengatakan yang sesungguhnya, jika penyebab terjadinya huru hara ini adalah dirinya.


"Pak sebelumnya saya mohon maaf." Bram menjeda ucapanya tenggorokan tercekat.

__ADS_1


"Maaf untuk apa Tuan, kami sekeluarga senang, karena Tuan sudah menolong Dewi." Potong pak Adi.


"Bukan itu Pak, sebenarnya... sebenarnya..." Bram tetap berat untuk berucap. Lidahnya kini terasa kelu.


"Sebenarnya ada apa?" Bu Endang tidak sabar, ia rupanya mencuri gelagat yang kurang baik.


"Sebenarnya pria yang membeli Dewi ketika di Jakarta itu sa- saya." Gugup Bram.


Plak! Plak!


Tangan pak Adi menghadiahkan dua tamparan ke pipi kiri dan kanan Bram. "Kurangajar! Kamu!" Pak Adi mengangkat kursi hendak memukul Bram.


"Bapaaakkk... jangan Paaakk... hu huuuu..." Bu Endang merangkul tubuh suaminya, sambil menangis. Sementara Jati dan Galih memegang kedua tangan pak Adi Wibowo.


"Biar Bapak bunuh pria yang sudah menghancurkan putri kita ini Bu!" Kilat marah tampak nyata di wajah pak Adi.


Sementara Bram, yang biasanya ditakuti semua orang itu. Kali ini bak binatang kaki 1000 langsung melingkar kala disenggol.


"Saya kapok Pak, saya tidak akan mengulangi. Saya berani bersumpah." Bram menurunkan tangan dari lutut, lalu mencium kaki pak Adi.


"Tuan... bangun, Tuan." Bu Endang menarik pundak Bram dibantu Jati dan Galih. Hingga Bram duduk di lantai masih menunduk menatap kaki pak Adi tampak jempol dan telapak kakinya belah-belah karena kebanyakan berjalan berjualan sayur. Ini sudah tamparan keras dari tamparan tangan pak Adi yang baru saja mendarat di pipinya.


Ini gambaran orang tua Dewi yang ingin anaknya menjadi sukses. Namun, Bram sadar telah menghancurkan harapan pak Adi. Air mata Bram tidak bisa ia tahan dan akhirnya jatuh membasahi pahanya.


"Jati... Galih... laporkan pria jahat ini kepada polisi! Supaya membusuk di penjara." Pak Adi tidak main-main. Sementara Jati dan Galih hanya bisa terpaku. Jati tentu tidak mungkin melakukan ini demi Mbak Dewi, ia memilih pria ini bertanggungjawab dan menyayangi kakaknya. Walaupun sebenarnya Jati pun kecewa akan perbuatan Bram.


"Pak, sebaiknya kita bicarkan baik-baik. Jika Bapak memenjarakan Bram, atau membunuhnya sekalipun, justru lagi-lagi Dewi yang akan susah Pak. Anak kita akan menanggung malu sendiri, dan beban membesarkan cucu kita sendiri." Bu Endang berkata panjang lebar.


Pak Adi pun akhirnya menarik napas panjang. Ia mengerti lalu duduk di kursi meninggalkan Bram yang sedang menyusut air matanya.


"Tuan... jika kami memaafkan Anda, lalu apa yang akan Anda lakukan demi menyembuhkan luka hati putri saya?" Bu Endang bertanya sopan tetapi mengena.

__ADS_1


Bram pun beranjak lalu duduk di hadapan pak Adi dan bu Endang. "Ijinkan saya menikahi Dewi Bu, maaf jika saya lancang tidak memberi tahu Bapak sama Ibu dulu. Saya sudah menyuruh anak buah saya memanggil penghulu." Tutur Bram.


"Penghulu? Jadi... Tuan akan menikah saat ini juga?" Pak Adi terkejut, menoleh bu Endang. Bu Endang berkedip agar suaminya merestui. Tidak ada lagi waktu menolak bagi keluarga pak Adi mengingat perut Dewi akan semakin membesar.


"Iya Pak, tetapi menikah siri dulu, jam tiga sore nanti saya harus kembali ke Amsterdam, jadi tidak ada waktu lagi."


"Jadi... setelah menikah, kamu akan meninggalkan putri saya?!" Tandas pak Adi. Pak Adi kesal sama saja Dewi akan tetap kena sangsi sosial. Mana ada orang akan percaya walaupun Dewi sudah menikah sebab hanya menikah siri.


"Izinkan saya mengajak Dewi ke Amsterdam saat ini juga Pak." Tegas Bram.


"Apa?" Saat ini gantian bu Endang yang terkejut. Terasa berat bagi Endang melepas kepergian Dewi dengan pria yang belum mereka kenal, terlebih lagi, Dewi pasti tidak semudah itu untuk menerima Bram.


"Bapak... Ibu... tolong izinkan saya pergi bersama Dewi, saya ingin Dewi mengenal saya lebih dekat, dan suatu saat nanti Dewi bisa memaafkan saya. Doakan kami agar bisa hidup rukun sampai maut memisahkan." Izin Bram sungguh-sungguh. Lalu Bram memberi surat perjanjian agar pak Adi tanda tangan, jika Bram menyakiti Dewi ia siap masuk penjara.


"Nama kamu siapa?" Tanya Bram kepada Jati.


"Saya Jati Kak, lalu ini Galih adik saya," Jawab Jati. Bram memberi kartu nama. Jika membutuhkan sesuatu agar mendatangi kantor milik Bram ke Jakarta.


Tidak lama kemudian penghulu datang Bram menikahi Dewi, tanpa Dewi tahu.


************


Deerrtttt Derrrttt...


Ketika sedang merenung handphone bu Endang bergetar. Bu Endang segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum...


"Ibuuuuuu... hu huuuu..."


"Dewiiii... kenapa kamu menangis aayang..."

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2