Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 54


__ADS_3

Hari berganti, dua bulan sudah setelah kepergian Felicia. Selama itu, Dewi menahan diri untuk tidak pulang ke Indonesia. Karena menurut dokter, bayi dalam kandungan Dewi sangat beresiko keguguran. Entah kenapa, hanya dokter Jamal yang tahu. Padahal saat berangkat ke Amsterdam tidak ada masalah selain hanya kram saja. Ia hidup rukun bersama suaminya, benih-benih cintanya kepada Bram yang Dewi tanam di hati pun tumbuh subur. Namun, selama itu Bram masih harus berpuasa karena menurut dokter kandungan Dewi sangat rentan.


Hingga tiba saatnya waktu yang ditentukan oleh dokter. Dewi bersama suaminya pun akhirnya kembali ke Jakarta.


Mobil mewah berjalan lambat karena terjebak macet, walaupun di jalan tol dari arah bandara menuju kota Jakarta. Di dalam mobil suami tampan sedang mengusap perut sang istri yang sudah membesar.


Wanita itu merasakan perutnya tidak nyaman, pinggang pegal, sebentar-sebentar ingin buang air seni.


"Sudah lebih baik?" Tanya sang suami yang tak lain adalah Bramastya. Tangan yang biasanya memegang bolpen dan buku itu, kini menuang setetes minyak ke telapak tangan untuk penghangat perut istrinya. Ia membalurkan perlahan memutar menjangkau seluruh perut.


"Malah tambah sakit Prirus..." Dewi menggigit bibir bawahnya kini perutnya justeru melilit.


"Sabar sayang..." Bramanstya bingung apa yang akan ia lakukan untuk meringankan sakit istrinya. Wajahnya menoleh jok belakang, tetapi Ami dan Zaidan sedang tidur. Padahal ia ingin bertanya kepada Ami pasti beliu tahu. Tetapi Bram tidak tega membangunkan bibi.


"Sakit Prirus...." Rengek Dewi, kehamilannya kini sudah berjalan tujuh bulan. Lelah dalam perjalanan itulah sebabnya perutnya terasa sakit.


"Pak Tono, nanti kalau sudah ke luar tol, cari rumah sakit ya." Titah Bram, menyembunyikan perasaan takut. Pria itu sebenarnya khawatir dengan keadaan istrinya tetapi tetap tegar di depan Dewi.


"Baik Tuan, mungkin istrinya akan melahirkan," Celetuk supir.


Deg.

__ADS_1


Dewi terkejut melempar tatapan ke depan dimana supir duduk, apa mungkin benar yang di katakan supir itu bahwa dirinya akan melahirkan? Padahal kandungannya baru tujuh bulan. Dewi benar-benar bingung.


"Yang benar saja Pak." Bantah Bram. Ia pun berpikiran sama dengan apa yang dirisaukan Dewi.


Di dalam mobil seketika diam larut dalam pikiran masing-masing. Bram merangkul pundak Dewi menyenderkan di pundak.


"Prirus... sakit..." Rintih Dewi.


Piuuh!


Air hangat terasa membasahi paha Dewi, calon ibu itu mengangkat kepalanya dari pundak Bram, menatap ke bawah. Gamis yang ia kenakan pun basah.


"Prirus... aku pipis di celana." Dewi menoleh Bram, antara sakit dan malu menjadi satu.


"Sepertinya ini bukan pipis sayang..." Bram tambah bingung.


"Itu namanya air ketuban Tuan, berarti benar, Non Dewi akan segera melahirkan." Supir menimpali.


"Bibi... bangun Bi..." Bram terpaksa membangunkan Ami.


"Saya Tuan." Ami seketika bangkit dari jok, melangkahi paha Zaidan yang duduk menghalangi kaki Ami. Karena posisi Ami berada di dekat kaca.

__ADS_1


"Perut Dewi sakit Bi, bagaimana ini? Terus... kata pak Tono air ketuban nya pecah" Tutur Bram entah apa itu air ketuban, Bram tidak tahu, ia hanya menirukan kata-kata supir. Semantara Ami, hanya bisa memandangi Dewi yang sedang meringis berada di samping Bram.


"Astagfirullah... boleh saya memeriksa perut Non Dewi, Tuan." Ami yang sudah pernah melahirkan dua kali, tentu tahu jika Dewi akan melahirkan. Ami ingin segera melihat air ketuban Dewi tetapi merasa risi jika Bram tidak minggir dulu. Pasalnya ada Bram di sebelah Dewi.


Bram mengangguk minta supir agar menepikan mobil nya, lalu menginjakkan kaki ke aspal memandangi Ami, yang berjongkok di depan Dewi menyingkap gamis seperti yang Bram lakukan.


Calon bapak itu prustasi sekali melihat jalanan pun tidak juga lancar. Terbersit dalam benak hendak menghubungi dokter kandungan yang biasa menagani intri om Hasan agar segera meluncur ke lokasi. Tetapi lagi-lagi kemacetan yang menjadi kendala. Di tengah tol begini bingung mau ke rumah sakit masih terlalu jauh.


Sementara di dalam mobil perut Dewi sakitnya semakin menjadi-jadi. "Bu... aku nggak kuat..." lirih Dewi.


"Ayo... sekarang rebahan," Ami membantu Dewi tidur terlentang di jok, lalu mengangkat kedua kaki Dewi.


"Zaidan... tolong siapkan kain," Titah Ami. Ia berusaha untuk tenang padahal kepala bayi sudah terlihat.


"Iya Bi..." Zaidan segera membuka koper Dewi, setelah supir membuka bagasi. Tiga pria itu pun semua sibuk, tentu tidak ada kain di koper, yang ada hanya sarung Bram mengeluarkan dari dashboard.


"Astagfirullah..." Jerit Dewi, Bram segera naik dalam mobil sambil membawa sarung.


"Sayang... sakit sekali..." Bram melewati Ami yang sedang membungkuk menatap organ bawah milik Dewi. Bram berjokok mengusap-usap dahi istrinya.


"Ya Allah.... Aaaaaggghhhh..."

__ADS_1


"Oeeeekkk... Oeeekkk..."


...~Bersambung~...


__ADS_2