Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 64


__ADS_3

Setelah memberi asi, Dewi menidurkan bayinya di box, lalu membuka lemari mencari baju piama. Ia tidak memperdulikan pria yang sedang menunggu di ranjang dengan harapan istrinya itu mau diajak duel pagi.


"Honey..." Bram terpaksa menyusul, mencium tengkuk Dewi dari belakang menahan hasrat sejak Dewi baru ke luar dari kamar mandi.


"Cek! Mandi sana Mas... sebentar lagi adzan subuh." Tolak Dewi. Rasa lelahnya belum hilang, tetapi suaminya ini malah mau menambah lagi.


"Sekali lagi ya." Bisiknya di telinga Dewi.


"Mas..." Tanpa Dewi sangka, suaminya mengangkat tubuhnya ke ranjang. Kendati Dewi meronta-ronta namun hasrat Bram sudah tidak bisa ditahan lagi. Pada akhirnya Dewi menyerah main gulat di pagi hari pun terjadi.


***********


"Selamat pagi Non." Sapa Ami ketika Dewi menuruni tangga bersama Bram yang menggendong Calvin. Di luar sana matahari sudah terang. Wajar, karena sudah jam delapan pagi.


"Selamat pagi Bi." Dewi sekarang memanggil Ami demikian. Ami tidak mau dipanggil ibu karena panggilan itu sama ketika Dewi memanggil bu Endang.


"Biar Calvin sama saya Tuan." Ami mengambil alih bayi dalam gendongan Bram lalu mengajaknya ke luar, atas perintah Dewi agar Calvin dijemur.


"Mau sarapan apa Mas?" Tanya Dewi, di meja makan sudah ada tiga pilihan sarapan yang di sajikan Ami.


"Roti saja," Jawab Bram yang sedang serius dengan handphone karena sedang membahas pekerjaan dengan om Hasan di Jakarta.


Dewi menyiapkan roti tawar yang di olesi madu, begitulah sarapan Bram kala baru kerja keras. Selama 4 bulan tinggal bersama Bram di Amsterdam, Dewi sudah tahu apa makanan yang disukai suaminya walaupun tidak pernah memasak.


"Sarapan dulu," Dewi melirik Bram. Jika suaminya tidak jahil kepadanya, itu artinya suaminya sedang serius.

__ADS_1


"Okay..." Bram meletakan handphone di meja kemudian menggigit roti. Sementara Dewi memilih sarapan buah agar asi nya banyak.


"Honey... besok aku ke Jakarta ya..." Ternyata itu yang membuat Bram sejak tadi sibuk.


"Lama?" Dewi rupanya sudah tidak mau jauh dengan suaminya itu.


"Paling seminggu." Imbuh Bram setelah meneguk air untuk mendorong roti yang terasa nyangkut di tenggorokan.


"Mas... Kamu kan sudah memutuskan untuk tinggal di Surabaya, lalu bagaimana dengan pekerjaan Mas. Aku rasa repot, kalau kamu mondar mandir Surabaya Jakarta," Saran Dewi.


"Jangan pikirkan itu Honey... aku ke Jakarta paling hanya beberapa bulan sekali. Aku yakin kok, Om Hasan bersama anak buahku bisa di andalkan. Oh iya aku belum sempat cerita sama kamu Jonathan sudah membeli tanah di kota Surabaya," Bram menuturkan akan membuat gudang usaha dagang.


"Jadi... Mas mau mendirikan cabang di sini?" Dewi meletakan kulit melon di atas piring.


"Betul, aku akan menjalin hubungan kerja sama dengan Hendri usaha dagang sukses di kota Surabaya."


"Iya, kamu kenal Hendri... sampai kaget gitu, jangan-jangan kalian mantan pacar," Bram posesif.


"Cek! Mana mau Hendri pria tampan, tajir, mlintir gitu mau sama aku. Wanita miskin bekas Casanova pula." Sindir Dewi merengut.


"Kan, kan. Mulai" Bram mengacak rambut Dewi.


"Oh iya, apa Mas kenal dengan Mas Arga suaminya Gayatri?" Tanya Dewi penasaran.


"Kenal sayang... aku dengan Hendri itu yang akan mendistribusikan produk-produk mereka," Jelas Bram.

__ADS_1


"Waah... kapan-kapan aku boleh bertemu dengan Kak Gayatri ya Mas," Dewi antusias. Lalu menceritakan bahwa keluaga Gayatri lah yang membebaskan dirinya dari sekapan Arinta.


"Boleh... besok aku antar ke rumahnya,"


"Okay..." Dewi tersenyum senang akan bertemu dengan Gayatri.


"Terus... melanjutkan obrolan tadi, Mas yakin mau tinggal di sini?" Dewi tidak percaya. Suaminya itu sudah biasa hidup di kota, Dewi ragu jika Bram akan betah.


"Iya... aku sudah memutuskan memilih tinggal di daerah" Bram hendak menjauh dari hingar bingarnya kehidupan kota. Sejak kecil dia sudah tinggal di kota Amsterdam, dan Jakarta. Masa tuanya akan ia habiskan di desa.


"Memangnya Mas akan bentah jika tinggal di sini? Penduduk sini tuh, mudah sekali dihasut Mas," Dewi ingat ketika diusir warga tanpa ada belas kasihan.


"Ya tidak di dekat sini juga Honey..." Bram memang sengaja belum bercerita jika ia sudah membuat rumah, karena Bram ingin memberi kejutan.


"Di mana?" Sambung Dewi.


Tok tok tok.


"Eh, ada tamu Honey..."


"Iya, biar aku yang bukain pintu Mas,"


Ketukan pintu menghentikan obrolan pasutri, mereka pun meninggalkan meja makan membuka pintu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2