
Dewi menunduk kala wanita cantik menatapnya tidak suka. Wanita itu sudah pasti dari negara B, dilihat dari wajah, postur tubuh, dan penampilannya.
"Siapa wanita ini Bram?" Tanya wanita itu menunjuk Dewi tetapi matanya menatap nanar ke arah Bramanstya.
"Istri saya!" Jawab Bram ketus.
"Ayo pulang istriku..." Bram membantu Dewi bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi meninggalkan wanita yang sedang kesal. Kali ini Dewi menurut dipegang Bram. Entah siapa wanita itu, tentu Dewi menjaga image Bram. Setelah keluar dari Cafe, Dewi melepas pegangan tangan Bram.
"Kok di lepas honey..." Bram serasa tidak rela.
"Bukan mukrim, tahu!" Sungut Dewi. Kali ini mereka melangkah ke tempat penitipan ambil barang-barang belanjaan.
"Mana ada suami bukan mukrim." Bantah Bram. Namun Dewi tidak menimpali lalu ambil satu paper bag hendak membantu Bram.
"Tidak usah, biar aku saja." Bram menyambar barang belanjaan lalu keluar menuju parkiran, setelah menyuruh Dewi jalan lebih dulu.
"Jangan genit sama Zaidan loh." Tegas Bram ketika mereka sudah hampir tiba di mobil, tampak Zaidan berjalan cepat ke arah mereka hendak membantu Bram.
"Siapa sih yang genit?! Nyapa memang nggak boleh? Lagian...yang ada di hati aku sampai saat ini hanya Firman seorang." Papar Dewi, tidak tahu jika pria di sampingnya cemburu mendengarnya.
"Aku tahu, tapi nyatanya kamu ditolak kan sama orang tua Firman." Bram tidak mau kalah.
"Iya, dan ini gara-gara kamu!" Dengus Dewi. Perdebatan mereka berhenti kala Zaidan ambil alih belanjaan dari tangan Bram seraya membungkuk.
"Eh tunggu." Cegah Dewi ketika Bram hendak masuk ke dalam mobil.
"Darimana kamu tahu kalau orang tua Firman membatalkan pernikahan saya?" Dewi tidak habis pikir, mengapa Bram tahu hampir semua hal tentang kehidupannya.
"Aku punya 1000 mata, dan 1000 telinga honey..." Bram tertawa.
"Pantas! Menyeramkan!" Dewi meledek seraya masuk ke mobil, Bram mengikuti sambil terus tertawa. Kendaraan mewah pun kembali menembus jalan raya Amsterdam menuju apartemen.
"Siapa wanita tadi?" Tanya Dewi tanpa embel-embel.
"Ibu tiri aku." Wajah Bram seketika muram.
"Ibu tiri?" Dewi terkejut mendengarnya, pasalnya wajah wanita yang ia temui di Cafe tadi masih sangat muda.
"Jangan di bahas," Bram rupanya sama sekali tidak mau membicarakan masalah Felicia yang sudah menumpuk luka hatinya.
__ADS_1
Dewi tidak mau bertanya lagi setelah menangkap kemurkaan di wajah Bramastya. Dewi merasakan perutnya terasa kram lalu meringis sambil ia usap. Mungkin karena lelah, sejak di Indonesia dia kurang istirahat.
"Kenapa honey..." Bram cepat tanggap, hendak memegang perut Dewi, tetapi tangan kekar itu Dewi singkirkan.
"Saya kan sudah bilang dari tadi, perut saya kram." Dewi tidak menatap Bram.
"Ya maaf" Jawab Bram merasa bersalah, ia ingat ketika mengajak ke Cafe, Dewi sudah mengatakan bahwa perutnya terasa kencang.
"Zai langsung rumah sakit ya." Perintah Bram khawatir.
"Iya Tuan." Zaidan satset langsung melaju cepat ke rumah sakit.
"Sebenarnya nggak usah ke rumah sakit juga kali... paling istirahat sebentar juga normal lagi." Tolak Dewi. Ketika Dewi dirawat di Indonesia, menurut dokter Adam tidak masalah dengan janinya.
"Nggak bisa begitu, kamu harus diperiksa." Pungkas Bram. Mobil mewah pun melambat ketika tiba di depan rumah sakit besar.
"Aaahhh... turunin..." Seru Dewi, ketika tiba-tiba tubuhnya melayang dalam gendongan Bramanstya menuju lift. Dewi memukul-mukul pelan dada Bramanstya, tidak menyangka jika ia akan di gendong seperti ini, hingga tiba di depan lift kemudian Bram menurunkan Dewi.
"Iihh... ngeselin tahu!" Sungut Dewi, ketika melihat di sekitar banyak mata menatapnya, Dewi rasanya ingin menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Aku takut kalau terjadi apa-apa dengan anak kita honey..." Bram tidak main-main.
"Awas! Jangan di gendongan lagi, loh!" Ancam Dewi setelah tiba di lantai dimana Dewi akan diperiksa di ruang ibu dan anak. Bram hanya tersenyum lalu minta Dewi untuk menunggu.
Untuk urusan Dewi dan calon anaknya, ia tidak akan memerintahkan anak buahnya. Bramanstya mengurusnya sendiri seperti pendaftaran dan lain sebagainya.
"Hai Bro, siapa yang kamu bawa?" Tanya dokter Jamal berasal dari Indonesia, menatap wanita yang berada di sebelah Bram seksama. Jamal adalah teman SMA Bram. Ia sengaja minta dokter dari Indonesia agar Dewi mengerti pembicaraan mereka.
"Hai Bro, kenalkan ini istri saya," Bram menepuk pundak Dewi di sampingnya terkekeh. Lagi-lagi Dewi jaga image Bram, mengangguk santun kepada Jamal membiarkan Bram mengambil kesempatan menggengam telapak tangan Dewi. Awas loh nanti! Jika tidak di depan dokter tentu sudah Dewi tepis.
"Silahkan Dek." Titah dokter agar Dewi merebahkan diri dibantu suster. Dokter Jamal melakukan serangkaian pemeriksaan. Hingga tiba saatnya usg, suster membuka baju Dewi bagian perut, Bram mendekat hendak melihat suster mengoleskan jel di bawah pusar. Mata hitam dan bulat milik Dewi melotot seperti hantu di siang bolong, seketi Bram merasa ngeri lantas mundur.
"Istri dan calon anak kamu tidak apa-apa Bro, hanya kelelahan saja, kalau bisa jangan terlalu capek." Terang dokter Jamal.
"Alhamdulillah... " Bram dan Dewi berucap bersamaan.
"Kamu menikah kok nggak mengundang aku Bram," Protes jamal saat menulis resep.
"Tenang bro... belum pesta kok, kalau sudah pesta nanti kami undang teman-teman semua, yang penting kan kami sudah kawin." Bram terbahak-bahak.
__ADS_1
"Aow" Seru Bram, kala kuku Dewi yang sudah seminggu tidak dipotong mencakar tangan Bram. Dewi kesal percandanya tidak dipikir dulu.
"Kenapa Bro." Jamal terkejut sebab tangan Bram dan Dewi terhalang meja.
"Itu, ada kala jengking." Kilah Bram.
Dokter pun terkejut lalu menunduk mencari ke kolong meja. "Tidak ada kala jengking bro" Dokter Jamal bingung lalu minta suster mencari cleaning service agar membersihkan ruangan.
Sementara Bram dan Dewi pamit pulang.
"Jangan cemberut dong." Kata Bram, ketika sudah di dalam mobil.
"Percandanya nggak lucu!" Sungut Dewi. Lalu miring bersandar di jok membelakangi Bram. Ia menatap bangunan tua di sepanjang jalan.
Tidak lama kemudian suasana sepi, Bram bangkit dari duduknya melongok wajah Dewi ternyata pulas. Hingga tiba di apartemen Dewi belum juga bangun Bram mengangkat tubuh Dewi perlahan-lahan lalu menidurkan di ranjang.
Cup.
Bram mencuri kening Dewi tersenyum lalu keluar. Dewi mnggaruk keninganya yang terasa gatal kena kumis tipisnya Bram.
"Kok sepertinya aku ada yang mencium," Gumam Dewi ketika terjaga ternyata sudah di ranjang.
"Astagfirullah... Jangan-jangan... pria itu menciumku, awas saja nanti aku bejek-bejek jadi remahan kerupuk!" Dewi ngomel-ngomel sendrian. Kemudian mandi dan shalat ashar walaupun kurang 15 menit lagi waktu maghrib tiba, tetap ia laksanakan.
"Hai sudah bangun... ini handphone kamu sudah aku nyalakan," Tanpa permisi Bram masuk ke dalam kamar.
"Iihh... kalau masuk itu ketuk pintu dulu apa?!" Tandas Dewi. Ia kesal kenapa sampai lupa mengunci pintu, bagusnya ia masih mengenakan mukena milik Ami.
"Ya sudah maaf... jangan marah-marah terus, akan mempengaruhi perkembangan dedek di perut." Nasehat Bram. Lalu menyerahkan handphone.
"Terimakasih" Dewi menerima hp sama seperti miliknya pemberian Bram.
"Loh, ini kan handphone mahal? Saya bilang kan yang murah saja." Omel Dewi. Karena handphone nya di Indonesia masih baru.
"Sudahlah... hp kamu biar di pakai Ibu sama bapak. Kamu masih ingat nomer handphone adik kamu kan, sekarang kamu telepon ibu terus nanti kita shalat magrib berjamah," Bram pun keluar kamar.
Nyeeesss....
Hati Dewi terasa sejuk. "Apa aku nggak salah dengar? Pria rusak itu mengajak shalat berjamah" Dewi komat kamit.
__ADS_1
...~Bersambung~...