
Siap menjalani hidup rumah tangga, sudah barang tentu akan menghadapi masalah di tengah perjalanan, entah masalah tersebut besar maupun kecil. Namun, harus secepatnya diselesaikan, seperti yang dilakukan oleh Bram dengan Dewi. Di meja makan mereka sudah suap-suapan selayaknya pengantin baru saja.
"Non, tamunya sudah menunggu di ruang tamu," Kata Ami, baru saja dari depan.
"Siapa tamunya Bi?" Tanya Dewi setelah menyeruput air setelah menyuap makan untuk yang terakhir kali.
"Saya lupa tanya namanya Non, tapi katanya teman Nona," Ucap bi Ami.
"Ayo Mas," Dewi pun meniggalkan meja makan bersama Bram. Dari kejauhan, Dewi menatap ke ruang tamu ingin segera tahu siapa tamunya. Terlihat dari samping, Dewi seperti mengenal wanita itu.
"Kak Ratri," Dewi berbinar-binar, kala wanita itu menoleh ke belakang dengan senyum khas nya. Ya... dia adalah Gayatri bersama Arga, pria yang dulu menyelamatkan Dewi ketika disekap oleh Arinta di tempat mesum.
"Dewi..." Ratri pun memeluk tubuh Dewi, cium pipi kiri dan kanan. Dua wanita yang dulu pernah tinggal satu rumah itu, berbagi cerita. Sementara Bram berbincang-bincang dengan Arga.
"Loh, katanya minggu depan bro?" Tanya Bram, tadi pagi ketika Arga ke kantor mengatakan akan datang minggu depan, tetapi ternyata hari ini juga.
"Tidak boleh ya? Aku balik lagi deh," Kelakar Arga.
"Hahaha... tentu boleh," Bram tertawa disambut Arga. Suasana hangat dua pasang suami istri itu mereka ngobrol diselingi canda tawa.
"Ratri sudah beberapa bulan yang lalu mengajak kemari Wi, kangen sama kamu katanya," Kata Arga.
__ADS_1
"Sama Ar, istriku ini juga begitu," Bram seketika merangkul pinggang Dewi. Hal itu menyita perhatian Ratri. Ratri tersenyum memandangi Dewi. Ia tidak menyangka bahwa Dewi wanita yang direnggut masa depanya itu akan dinikahi seorang Bram pria sukses di dunia bisnis. Tentu Ratri tidak tahu jika yang menjadi suami Dewi adalah orang yang merenggut kesucian Dewi.
Hingga beberapa saat setelah minum teh yang disuguhkan Ami, Bram mengajak Arga ke ruang kerja membahas pekerjaan yang belum tuntas.
Sementara Dewi bersama Ratri masih ngobrol di ruang tamu.
"Katanya kamu sudah lahiran Wi? Mana bayi kamu?" Ratri tentu ingin melihat anak Dewi.
"Masih bobo kak. Oh iya Ngomong-ngomong kak Ratri sudah diberi momongan?" Dewi pun penasaran, sebab Ratri datang tidak membawa anaknya ikut serta.
"Inilah Wi, hingga kini aku belum diberi kesempatan untuk menimang bayi," Ratri terlihat sedih.
"Yang sabar kak Ratri... Kakak kan menikah baru setahun, ada kok yang sampai lima tahun." Dewi menyemangati.
"Maksudnya Wi?" Kening Ratri mengerut.
Sudah kepalang tanggung, Dewi pun menceritakan bahwa Calvin adalah anak hasil per ko**an.
"Masa sih Wi... tapi syukurlah, suami kamu orang baik, mau menikahi kamu walaupun sudah..." Ratri tidak melanjutkan ucapanya. Ratri pikir, Bram hanya kasihan kepada Dewi karena hamil di luar nikah, lalu terpaksa menikah.
Tidak ada yang ditutupi lagi karena Ratri sudah seperti kakak sendiri, Dewi menceritakan bahwa Bram lah ayah biogis Calvin. Ratri terkejut bukan main, tentu tidak menyangka bahwa Bramanstya, rekan kerja papa Daniswara itu ternyata seorang Casanova.
__ADS_1
"Oeeekk... oeeekk..."
"Calvin bangun Non... sudah saya ganti popok, tetapi masih menangis," Ami menggendong Calvin menyerahkan kepada Dewi.
"Terimakasih Bi, pasti haus," Dewi pun memberi asi Calvin.
"Duh gemeeesss..." Ratri memainkan jari jemari mungil milik Calvin. Selesai diberi asi, Ratri menggendong Calvin, setelah ashar baru kemudian pulang.
*************
Pagi menjelang siang, disalah satu pantai yang terletak di Banten. Sepasang suami istri masih betah bermain air. Selayaknya pasangan kekasih mereka ciprat-cipratan air, dalam keadaan basah mereka tertawa lebar.
"Sudah panas Mas..." Dia adalah Dewi, memandangi kulitnya yang sudah berubah warna gelap karena terik matahari. Namun, suaminya tidak mau ke darat.
"Okay..." Hanya mengenakan celana pendek tanpa kaos, tampak dada Bram yang berbulu menjadi perhatian banyak orang. Sadar akan hal itu, Dewi segera mengambil handuk untuk menutup dada suaminya.
"Belum mandi honey... nanti handuk nya kotor," Bram merasa heran.
"Lihat apa Mas... dilihatin gadis-gadis tuh," Ujar Dewi, sambil mengikat handuk di pinggang Bram agar tidak lepas.
Bram mengedarkan pandanganya ke pinggir pantai terkejut. Tetapi bukan karena banyak wanita yang memandanginya. Melainkan, kepada satu orang wanita yang tidak asing sedang menatapnya pula.
__ADS_1
.
.