
"Bramanstya, kenapa pria itu bisa berada di sini? Apakah ini ada hubungannya dengan warga yang diminta untuk berkumpul?" Surti komat kamit tidak habis pikir, ia tahu jika pria yang baru duduk bersama rt dan rw adalah Casanova yang membeli Dewi dari mami Arinta.
Surti heran mengapa Bram bisa bersama pak Adi dan bu Endang. "Atau, jangan-jangan... Dewi adalah... oh tidak..." Surti berbicara sendiri, membayangkan jika Dewi justeru menjadi istri Bramanstya. Surti ngedumel, bagusnya ia berada paling belakang tentu tidak ada orang yang mendengar gumaman dirinya.
Surti terus menerka-nerka wanita itu tidak rela jika Bram menjadi suami sahabatnya itu. Selama menjadi Casanova Bram pria yang pilih-pilih wanita. Semua wanita yang satu profesi denganya ingin tidur bersama pria tampan, tajir, pengusaha muda dan kaya itu.
Bahkan Surti sendiri pun menginginkan hal yang sama. Namun sayangnya, Surti mengakuinya bahwa dirinya bukan wanita yang masuk dalam pilihan Bram. Mana mau Bram denganya, wajah Surti hanya pas-pasan, bahkan dia hanya kebagian yang plontos-plontos sudah berumur pula, dan duitnya pun hanya sedikit.
Walaupun tidak Surti pungkiri, ada salah satu pria paruh baya yang sudah sering menjadi pelanggan baik hati membebaskan dirinya dari tahanan. Pria itu menjadikan Surti wanita simpanan bahkan di kontrakan rumah.
Namun, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pasalnya istri pria paruh baya itu mengetahui perbuatan suaminya. Surti yang menjadi sasaran, jika tidak mau meninggalkan suaminya, wanita itu mengancam Surti akan menyeretnya kembali ke penjara.
Surti hanya bisa gigit jari, tidak ada pilihan lain baginya selain pulang kampung. Tempatnya untuk mencari rupiah pun sudah ditutup. Ia pun akhirnya pulang ke asal, bertekat akan merebut Firmansyah pria yang ia cintai dari Dewi.
Surti merasa gusar, sejak SD, SMP, hingga SMA, selalu kalah dengan Dewi. Kecantikan dan kecerdasan Dewi, selalu unggul dari Surti. Banyak pria di sekolah yang suka kepada Dewi, bahkan di desanya pun sama. Surti mencintai Firmansyah kakak kelasnya, tetapi lagi-lagi Surti harus menelan pil pahit, sebab Firmansyah justeru mencintai Dewi.
Itulah dendam yang terpendam di hati Surti semenjak kecil, hingga niat buruknya pun muncul. Yaitu menjual Dewi kepada Ge*mo. Wanita itu ingin menghancurkan hidup Dewi. Namun, kali ini Surti pun gagal. Pasalnya Dewi justeru menjadi orang nomor satu dalam hidup Bramanstya.
"Awas kamu Dewi!" Surti menatap Bramanstya di depan yang sedang memulai menyampaikan sesuatu hal. Orang mungkin tidak akan menyangka bahwa pria yang selalu menunjukkan kewibawanya itu adalah seorang Casanova.
"Assalamualaikum..." Ucap pak rt yang sedang duduk bersebelahan dengan rw, hendak mengatakan sesuatu hal seperti yang dikatakan Bramanstya agar mewakili Bram klasifikasi kepada warga.
"Waalaikumsallam..." Jawab semua warga, antusias mendengarkan. Warga satu desa pun hadir kecuali keluarga Firmansyah yang tidak ada.
"Bapak-Bapak, dan Ibu-ibu semua, mungkin Anda bertanya-tanya siapa pria yang berada di samping saya ini," Rt menoleh Bram sambil memegang mikrofon. Bram tersenyum seraya menganggukkan kepala kepada warga.
__ADS_1
"Pria ini bernama Bramastya yang berasal dari Jakarta, yang tak lain suami Dewi!" Terang rt.
"Suami? Pak RT bohong!" Seru warga.
"Saya tidak berbohong, yang Anda tuduhkan selama ini mengenahi Dewi tidaklah benar. Dewi hamil karena memang sudah menikah secara diam-diam itu juga karena permintaan Nak Bram sendiri. Begitu kan Nak Bram?" Sebisa mungkin rt merangkai kata. Berbohong sedikit demi kebaikan tidak mengapa. Toh, Bram sudah bertanggungjawab dan memperbaiki semuanya.
Surti mendengar ucapan rt wajahnya merah padam. "Jadi dugaan aku benar, jika Dewi sudah dinikahi Bram? Kurangajar!" Umpatnya.
"Jadi... intinya begini, Dewi dijual seseorang, akan dijadikan wanita penghibur. Syukurlah Dewi di tolong Tuan Bramanstya, kemudian dinikahi." Tutur pak rt menatap Surti dari kejauhan. Merasa diperhatikan Surti deg degan takut jika rt bercerita kepada warga tentang siapa dirinya gagal sudah untuk mendapatkan Firmansyah.
"Lalu siapa orang yang tega menjual Dewi Pak, kurangajar sekali, Dia?!" Warga pun mulai marah.
"Saya rasa tidak etis jika saya utarakan di tempat ini," Tutur rt, beliau tidak mengatakan jika Surti yang sudah menjual Dewi. Pak rt sudah bersepakat dengan Bram untuk tidak menyebut nama Surti di balai desa. Rt bermaksud mendatangi kediaman Surti agar minta maaf kepada keluarga Dewi dan berbicara baik-baik.
"Usul Pak rt, agar semua jelas sebaiknya Bapak katakan saja, siapa orang yang menjual Dewi! Kita hukum orang itu." Tegas salah satu warga.
"Biar Tuan Bram yang akan bicara," Pak rt memberikan mikrofon kepada Bram agar menambahkan. Bram mengedarkan pandanganya ke seluruh warga yang sedang menunggu apa yang akan diucapkan pria tampan itu.
Sementara Surti menyembunyikan wajahnya di belakang ibunya yang kebetulan berada di tempat itu juga.
"Mohon maaf saudara-saudara, kami tidak bisa menjelaskan di tempat ini," Hanya satu baris kata dari mulut Bram rupanya mampu menenangkan warga. Warga pun akhirnya mengerti lalu membubarkan diri.
Sementara Bram mengutus ajudan agar mengantarkan mertua ke apartemen. Namun sebelumnya mengantarkan dirinya ke lokasi tanah kosong yang akan dibeli oleh Bram.
"Pak, malam nanti kami boleh menginap di rumah Bapak?" Tanya Bram, mengejutkan pak Adi dan Istri.
__ADS_1
"Tapi kan rumah kami jelek Nak." Bu Endang merasa tidak yakin jika menantunya betah tidur di rumahnya.
"Jangan khawatir Bu." Jawab Bram yakin, ia akan mengecek tanah jika terlalu malam, tentu malas pulang ke apartemen.
"Ya sudah, Nak Bram tidur di kamar Dewi saja" Bu Endang mengalah, tadi pagi sudah menunjukkan dimana kamar Dewi.
"Kami jadi tidak enak Nak Bram, masa kami tinggal di apartemen mewah, terus Nak Bram tinggal di gubuk" Pak Adi menambahkan.
"Tidak apa-apa Pak, saya duluan." Jawab Bram. Pak Adi tidak tahu jika Bram justeru ingin tinggal di tempat seperti itu.
Bram pun berjalan kaki, dari jalan raya menuju lokasi hanya lima menit saja.
"Kapan saya bisa bertemu dengan pemilik tanah ini?" Tanya Bram kepada ajudannya.
"Nanti malam Tuan, jika siang hari pemilik tanah ini bekerja." Jawab ajudan.
Bram manggut-mangut rupanya sudah cocok dengan lokasi tanah yang akan ia beli.
Setelah melihat-lihat lokasi, Bram memutuskan ke rumah pak Adi. Mobil mewah itu pun meninggalkan lokasi kembali ke perkampungan. Kendaraan roda empat yang hanya muat empat orang itu tiba di rumah Dewi.
Mobil kecil itu pun parkir di halaman tanpa pagar rumah Dewi.
Brak!
Bram menutup pintu mobil kakinya berjalan ke teras mini. Namun, mata biru itu menyipit kala seorang pemuda sedang berdiri melipat tangan di dada menatap wajah Bram tidak bersahabat.
__ADS_1
"Siapa Anda?!"
...~Bersambung~...