Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 44


__ADS_3

Malam semakin larut seorang wanita tahu panjangnya malam, lantaran tidak bisa tidur. Ia lalu duduk memeluk bantal. Entah perasaan apa yang ada dalam hatinya selama seminggu tidak ada pria rusak di sampingnya ternyata merasa sepi.


"Kenapa sih... aku jadi ingat Prirus terus." Ujarnya. Apa yang ia fokuskan di luar adalah cerminan apa yang ia rasakan di dalam hatinya. Kendati, tragedi besar dalam hidupnya karena kehilangan masa depanya, mungkin perhatian pria yang ia benci itu kini rupanya berbanding terbalik. Nyatanya mampu melenturkan kerasnya hatinya.


Itulah Dewi dia selalu mengabaikan Bram kala ada di sampingnya. Ia kini baru menghargai arti kehilangan. Di sinilah Dewi belajar menjaga apa yang ia miliki ternyata rindu itu berat.


"Rindu? Hihihi... tidak mungkin aku merindukan pria rusak itu." Bantah Dewi kepada dirinya sendiri.


Tenggorokannya terasa kering lantas beranjak ke luar kamar. Ambil gelas mengisinya dengan air putih lalu duduk di sofa. Dewi mengusap mata seklebat bayangan suaminya itu muncul dari pintu.


"Prirus..." Ucapnya lalu beranjak menghampiri Bram yang sedang mengulum senyum kepadanya.


"Lah, kok pintunya masih terkunci?" Dewi merasa aneh ketika hendak menutup pintu, tetapi masih tertutup rapat padahal perasaannya Bram belum menutup kembali.


"Non Dewi belum tidur?" Tanya Ami, mengejutkan Dewi yang sedang mengedarkan pandanganya, mencari sosok Bram entah kemana perginnya padahal baru sedetik kemudian.


"Nggak bisa tidur Bu, barusan Bram sudah pulang." Dewi meyakini apa yang ia lihat.


"Oh... Tuan sudah pulang, sekarang ke mana Non?" Ami percaya apa yang dikatakan Dewi, sebab sudah sepekan tuanya di Indonesia, wajar jika dini hari sudah kembali.


"Itu dia Bu, barusan masuk, terus tiba-tiba nggak ada." Dewi merasa kecewa.

__ADS_1


"Maksudnya Non?" Ami tidak mengerti apa yang dikatakan Dewi. Mana mungkin Bram tiba-tiba menghilang padahal bukan lelembut.


"Nggak tahu Bu, tadi kan aku duduk di sofa situ, terus Bram pulang, begitu aku dekati masa tiba-tiba sudah nggak ada."


"Mungkin langsung ke kamar Non." Kata Ami.


"Mungkin Bu. Sebentar ya." Dewi meninggalkan Ami menuju kamarnya mencari keberadaan suaminya, tetapi kosong, lalu ke kamar mandi pun sama.


Dewi bergegas ke kamar Bram, melewati Ami begitu saja yang masih duduk di ruang tamu.


Tok tok tok


Tangannya diangkat dengan dua jari mengetuk daun pintu namun tidak ada jawaban. Dewi lantas memberanikan diri membuka kamar Bramanstya. Matanya mengerling mencari sosok Bram tetapi keadaan kamarnya pun sepi. Setelah yakin tidak ada, Dewi kembali ke luar.


"Kok nggak ada ya Bu," Dewi benar-benar merasa bingung dan aneh.


"Non... Tuan kayaknya memang belum pulang deh. Non Dewi terlalu rindu dengan Tuan kali... jadinya berhalalusi nasi." Tutur Ami tersenyum menatap Dewi.


"Rindu? Hihihi... Ibu ada-ada saja." Jika tadi Dewi membantah batinnya sendri kini ia membantah Ami.


"Loh... kok Non Dewi malah tertawa." Ami yakin jika Dewi hanya menghayal mungkin karena terlalu memikirkan Bram.

__ADS_1


"Non... sebaiknya Non tidur gih." Saran Ami.


"Iya Bu" Dewi mengangguk lalu ke kamar memaksakan diri untuk tidur, walaupun hanya dua jam, ternyata sudah tiba waktu subuh.


Setelah shalat, Dewi memilih tidur kembali selama kurang lebih satu jam, Dewi terbangun. Setelah mandi lalu ke luar kamar.


"Mau kemana Non?" Tanya Zaidan yang sedang santai di depan televisi, saat melihat Dewi hendak keluar, kemudian beranjak.


"Nggak kemana-mana Zai, hanya ke teras saja kok," Jawab Dewi, merasa heran. Tiap kali Dewi hendak ke luar dari ruang tamu, Zaidan tidak membiarkan dirinya membuka pintu apartemen. Dewi lalu duduk di teras apartemen, melihat canal dari kejauhan yang pernah Dewi kunjungi.


Zaidan pun mengikuti Dewi, selama tidak ada Bram, Zaidan hanya makan tidur di apartemen saja.


"Kamu sering jalan-jalan Zai?" Tanya Dewi.


"Nggak sering juga Non, tapi sering diajak Tuan." Jawab Zaidan. Mereka ngobrol santai, begitulah hari-hari Dewi selalu ngobrol dengan supir suaminya itu cukup menghibur.


**********


Praannkk... Praannkk...


Di tempat yang berbeda seoarang wanita telah melempar-lempar pajangan kristal. Hingga hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"Brengsek kau Bram..." Umpatnya.


...Bersambung....


__ADS_2