Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 76


__ADS_3

Bram terkejut ketika melihat wanita berpakaian renang berwarna merah sedang menatapnya. Wanita se*si itu mengulas senyum kepadanya. Cepat-cepat Bram merangkul pundak Dewi mengajaknya ke tempat pemandian. Bram khawatir jika sampai wanita itu menyapanya, takut Dewi salah paham.


"Kok lewat sini sih Mas, baju ganti kita kan di mobil sebelah sana," Dewi heran sebab Bram berputar melalui jalan yang lebih jauh.


"Aku malas honey... kamu tadi kan tahu, mata orang-orang pada lihatin aku," Alasan Bram tepat juga. Walaupun sebenarnya Bram tidak perduli dengan orang-orang yang melihatnya. Ia hanya ingin menghindari wanita yang dulu pernah menjadi teman ranjangnya.


"Bukan malah senang ya, dilihatin gadis-gadis cantik." Dewi mencibir.


"Di dunia ini tidak ada yang lebih catik selain kamu," Bram terkekeh melirik Dewi yang berjalan di sebelahnya.


"Halah... berapa wanita yang sudah kamu rayu begitu" Dewi melengos.


"Hup" Bram menutup mulut Dewi dengan kedua telapak tangan. "Sudah honey... jangan bahas yang tidak-tidak, bukankah kita kemari ingin bersenang-senang." Bram tidak mau membahas masalah masalalu.


Tiba di mobil, Dewi ambil pakaian ganti untuk dirinya dan juga Bram, kemudian membersihkan diri. Selesai mandi mereka mencari tempat makan.


"Disini saja Mas," Kata Dewi ketika melintas di depan lesehan ikan bakar dan seafood.


"Okay..." Bram mengait jemari Dewi, begitulah yang pria itu lakukan sejak pagi. Berlebihan memang, tetapi Bram tidak mau melewatkan momen indah itu selagi ada kesempatan.

__ADS_1


Dewi memesan cumi bakar untuk suaminya, dan ikan Lele bakar untuk dirinya. Dewi sudah tahu makanan kesukaan Bram jadi tidak perlu bertanya lagi. Kelapa muda yang sudah dipangkas bagian atas untuk Bram, dan jeruk hangat untuk Dewi pun sudah diantar terlebih dahulu.


"Calvin nangis tidak ya Mas?" Tanya Dewi tiba-tiba ingat Calvin, ketika merasa bagian dada mulai kencang, lantaran air asi penuh. Wajah Dewi berubah sendu, walaupun ingin bersenang-senang yang namanya ibu tentu tidak bisa tanpa memikirkan sang anak.


"Honey... kamu tidak akan berdosa meninggalkan Calvin jika hanya sehari. Kamu selama ini sudah mencurahkan kasih sayang kamu untuk Calvin, kok," Hibur Bram.


Banyak para ibu-ibu meninggalkan anaknya bekerja. Pergi saat anaknya belum bangun, dan pulang ketika si anak sudah tidur. Seperti yang dilakukan penulis cerita ini, begitulah hari-hari nya. Sekarang baru sadar ketika anaknya sudah besar, merasakan kehilangan momen kebersamaan dengan anaknya ketika kecil. 😭


"Ayo, makan dulu," Ujar Bram, ketika pesanan sudah datang. "Ini pesanan kamu, tapi kok bentuknya seperti anuku ya" Bram terkekeh, melihat tampilan lele bakar kepalanya tidak dibuang, seketika otaknya ngeres. Lalu ia manfaatkan untuk menghibur Dewi.


"Iiihhh..." Dewi tersipu malu. Namun candaan Bram, mampu membuat Dewi tersenyum. Mereka pun akhirnya makan di selingi obrolan kecil.


"Iya..." Dewi lalu memesan teh hangat untuk suaminya, ketika usai dari toilet sudah jadi. Pikir Dewi.


"Hai..." Sapa seorang wanita berpakaian minim mengejutkan Dewi.


"Hai..." Dewi tersenyum ramah, mendongak menatap wanita cantik berpakaian mahal sedang berdiri di belakangnya.


"Kamu siapanya Bram?" Tanya wanita itu, ingin tahu.

__ADS_1


"Saya istrinya. Anda sendiri siapa?" Dewi menyembunyikan rasa terkejutnya, sebab ada wanita yang mengenal suaminya.


"Istri?" Wanita itu terkejut, lalu mengalihkan pandanganya kepada pelayan. Ia tepuk tangan memberi isyarat agar memberikan kursi untuknya karena tidak biasa duduk lesehan.


"Oh... istri Bram? Sejak kapan kamu menikah dengannya?" Wanita bertubuh langsing dan tinggi itu sedikit mencecar pertanyaan.


Dewi mencium gelagat tidak baik yang ditunjukkan wanita menor itu kepadanya. Sepertinya tidak mengenal sopan santun, nyatanya dia duduk melipat kaki di kursi, padahal Dewi duduk di lantai. Bukan bermaksud ingin dihormati. Namun, setidaknya wanita itu mempuanyai etika.


"Kok kamu diam," Wanita itu merasa kesal kala Dewi tidak menjawab "Hai... kenapa kamu malah menatap aku seperti itu?" Imbuhnya.


"Sudah satu tahun lebih, kenapa gitu?" Dewi balik bertanya.


"Asal kamu tahu saja, saya ini wanita tidak terkalahkan ketika melakukan adegan ranjang. Makanya... Bram itu menjadikan aku wanita nomer satu. Hahaha..." Wanita itu tertawa meledek.


"Hihihi... tapi kan hanya nomer satu di ranjang kan Mbak? Bukan nomer satu di hati Bram. Karena... hanya aku wanita nomer satu di hati Bram." Dewi balik meledek.


"Honey..." Bram pun akhirnya datang.


.

__ADS_1


.


__ADS_2