
Meja kursi terbalik, pajangan berantakan di lantai, belum lagi kristal yang sudah tak utuh bahkan hancur berkeping-keping memenuhi lantai. Para art hanya bisa melihat dari jauh, ngeri jika mereka kena imbas akan kemurkaan majikannya. Lagi pula tiga art tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya tertegun memandangi keadaan rumah yang amburadul entah bagaimana nanti akan membersihkannya.
"Sialan kamu Bramanstya!" Pekik Felicia, wanita itu tidak bisa kemana-mana. Pasalnya, setelah pertengkaran seminggu yang lalu, Bram menyetop jatah bulanan yang selalu Bram kirim setiap bulan ke rekening Felicia.
Felicia sebenarnya sudah mendapat warisan tabungan yang cukup banyak dari almarhum Andro. Namun uang itu ia gunakan untuk foya-foya sudah barang tentu cepat habis.
Walaupun tinggal di rumah itu, Felicia tidak berkuasa mengelola keuangan. Untuk perawatan rumah termasuk membayar art pun Bram yang turun tangan sendiri. Sebab jika Felicia yang pegang, Bram tidak yakin akan tepat sasaran.
Felicia sudah beberapa hari menghubungi Bram tetapi tidak pernah di ladeni, membuatnya naik darah.
"Aku harus mendatangi kantor." Ujarnya. Wanita ramping itu meninggalkan rumah, menuju perusahaan milik mantan suaminya hendak minta penjelasan mengapa anak tirinya itu tega membuatnya kelaparan.
Dengan gayanya yang sombong dan angkuh, Felicia sudah tiba di kantor bersikap acuh kepada semua karyawan Bramanstya.
Pegawai rendahan maupun yang sudah mempunyai jabatan, tidak ada yang berani kepada istri almarhum Andro itu. Semua karyawan yang sedang bekerja menganggukkan kepala.
"Kemana, Bramanstya?!" Tanya Felicia ketus kepada Patrick asisten pemilik perusahaan yaitu Bramanstya. Selama tidak ada Bram Patrick yang ditugaskan untuk handle semua pekerjaan
"Sedang tidak ada di sini Nyonya." Jawab Patrick yang sedang sibuk di depan lap top, menghentikan kegiatannya.
"Kemana?!" Tandas Felicia tidak disuruh langsung duduk di sofa melipat kaki.
"Ke Indonesia Nyonya,"
__ADS_1
"Kurangajar." Umpat Felicia, wanita itu mencaci maki Bram, padahal tidak ada orangnya. Sementara Patrick menyibukkan diri untuk bekerja tidak memperdulikan wanita yang seperti orang gila itu.
Merasa di abaikan oleh Patrick, Felicia memlilih pergi menemui CPO, menagih uang bulanan yang tidak di kirim ke rekening Felicia.
"Saya tidak berani tanda tangan tanpa seijin Tuan Bram, Nyonya," Tolak CPO, tentu ia sudah di pesan Bram sebelum berangkat ke Jakarta.
Braak!
Felicia menggebrak meja di depan CPO, membuat pria itu terperangah, seketika berdiri dari tempat duduknya.
"Jadi, Anda berani menolak perintah istri pemilik perusahaan ini?!" Sinis Felicia congak menatap tajam pri yang kekeh dengan pendirian nya.
"Kami hanya menjalankan tugas Nyonya." Lirih pria itu, tetapi tidak bisa di tawar lagi.
**********
"Sarapan dulu Non, keburu dingin," Panggil Ami dari dalam apartemen.
"Iya Bu." Dewi pun segera masuk bersama Zaidan. Mereka ngobrol di luar, tidak terasa hingga jam sembilan pagi. Dengan cepat Zaidan menarik kursi untuk Dewi.
"Aiih... Zai, nggak usah. Saya bisa sendri tahu!" Tolak Dewi, tetapi kursi sudah ditarik. Begitulah Dewi saat ini serasa menjadi tuan putri, padahal ia tidak mau semua yang di rumah ini bersikap berlebihan kepadanya. Namun, semua hanya menjalankan tugas dari Bram, lantas siapa yang berani menolak.
"Tidak apa-apa Non." Ami menengahi. "Duduk Non, ini sarapan untuk Non," Titah Ami.
__ADS_1
Dewi pun tidak mau berdebat lagi menatap menu sarapan pagi. Roti, susu, dan kacang hijau, sebenarnya sudah bosan, tetapi Dewi tetap memakanya. Ia tidak boleh manja, sudah bagus di apartemen ini ia diperhatikan oleh semuanya.
Mereka bertiga sarapan bersama selayaknya keluarga di selingi obrolan tentang makanan. Tepatnya Ami dengan Dewi, sementara Zaidan hanya memperhatikan saja.
"Non, saya tinggal ke supermarket sebentar nggak apa-apa kan?" Tanya Ami, selesai makan.
"Aku ikut ya Bu," Dewi antusias, selama seminggu tidak pernah ke luar apartemen rasanya jenuh.
"Jangan Non." Cegah Zaidan, tentu ia tidak mau melanggar pesan Bram.
"Kenapa memang, aku kan hanya ingin cuci mata, masa nggak boleh?" Tanya Dewi memelas.
"Benar kata Zaidan Non, besok kalau sudah ada Tuan, Non bisa ajak jalan-jalan ke mana Non, suka," Imbuh Ami. Dewi pun akhirnya mengalah, hanya bisa mengantar Ami sampai pintu, hingga Ami tidak terlihat lagi lalu masuk kembali tanpa mengunci pintu karena risi hanya berdua dengan Zaidan.
Dewi pun telepon Bramanstya yang sejak tadi malam ingin ia lakukan.
"Nomor yang Anda tuju, sedang berada di luar jangkauan." Begitulah jawaban operator.
"Yah... nggak aktif, ya sudah lah mungkin sedang sibuk." Dewi meyakinkan diri sendiri.
Tuling lung... Tuling lung.
Mendengar bel berbunyi Dewi bergegas ke depan, sebenarnya Zaidan yang akan membuka tetapi Dewi melarang.
__ADS_1
...~Bersambung~...