Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta

Mahkota Dewi Dijual Sahabatnya 100 Juta
Bab 67


__ADS_3

Sore hari di pemukiman penduduk sedang bergotong royong. Para bapak-bapak sedang menggotong peti mati dari rumah Firmansyah yang dia berikan dengan suka rela untuk mengantar tubuh Surti ke peristirahatan terakhirnya.


Bendera kuning bertuliskan Surtini pun telah dipasang di gapura. Para tetangga wanita sedang merangkai bunga yang akan dikalungkan di atas peti. "Nggak nyangka ya, Surti akan secepat itu," Bisik para ibu-ibu tersebut.


"Iya, eh ada yang tahu tidak, Surti itu sakit apa?" Ibu gendut penasaran. Tidak ada yang tahu penyakit yang di derita Surti selain Budhe, Firman dan ayahnya. Bahkan Laras pun hingga kini belum mengetahui.


"Masih rahasia, jangan-jangan penyakit Surti kanker ya, masa secepat itu Surti meninggal," Ibu kurus menyahut.


"Ada yang tidak beres deh! Sama kematian Surti," Ibu perawakan sedang menimpali. "Jangan-jangan di santet sama keluarga Endang." Imbuhnya.


"Sudahlah Bu... jangan dibahas lagi, kita doakan saja semoga amal ibadah Surti diterima di sisi Tuhan. Kematian adalah rahasia Allah, kita tidak tahu kapan akan di panggil. Untuk itulah kita harus bisa menjaga Lisan. Jika ada berita yang belum pasti kebenarannya jangan main fitnah. Karena fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan." Nasehat bu rt menghentikan obrolan.


Bu rt heran warganya ini mudah sekali memfitnah, mengadu domba. Kendati seburuk apapun manusia ada sisi baiknya. Yakni para warga desanya saling membantu jika ada kesuhahan seperti sekarang.


Sementara di dalam, isak tangis masih memenuhi rumah duka.


"Surti, semoga kamu mendapat tempat paling indah." Doa Dewi disela-sela isak tangis. Ia duduk di samping jenazah dengan pakaian hitam.


"Dewi... sekali lagi maafkan Surti Nak." Budhe merengkuh tubuh Dewi, tangisnya pecah.

__ADS_1


"Budhe yang sabar, aku sudah memaafkan Surti," Jawab Dewi. Dua wanita yang sudah seperti kelurga itu menangis pilu.


"Mbak Endang... maafkan Surti..." Budhe memeluk bu Endang yang berada di sebelah Dewi.


"Jum, seperti yang dikatakan Dewi, kami sekeluarga sudah memaafkan Surti dari lubuk hati kami yang paling dalam," Bu Endang mengusap bahu Jumiati. "Sekarang sebaiknya kita mengaji karena bukan tangis yang Surti butuhkan saat ini." Nasehat bu Endang. Dewi, Endang, dan Jumiati pun bersama-sama membaca surah yasin.


Setelah jenazah Surti rapi, enam orang warga memanggul peti mati ke kuburuan yang berada di desa itu. Diiringi para taziah berjalan kaki termasuk keluarga Dewi dan keluarga Firmansyah pun turut mengantar.


*************


"Ini gara-gara kamu Firmansyah, jika kamu mau menikahi Surti, Dia tidak akan meninggal secepat ini." Bu Larasati marah begitu tiba di rumah.


"Cek! Apa maksudmu mati cepat Firman?!" Laras terkejut air minum yang sudah di mulut pun tumpah.


"Lupakan Bu." Firman tidak mau ibunya tahu tentang penyakit Surti. Buat apa, toh Surti sudah tiada.


"Itu hanya alasan kamu kan Fir? Kamu ini ngeyel! Surti meninggal itu pasti karena stres memikirkan kamu." Laras tampak menyesal, tiap kali Surti mendekati Firman, Laras perhatikan anaknya selalu mengabaikan. Rasa sayang Laras kepada Surti, sama sayangnya kepada Dewi ketika Dewi belum hamil. Laras masih seperti keyakinannya bahwa Surti meninggal karena cintanya ditolak Firmansyah.


"Sudahlah Bu, sebentar lagi magrib" Firman ke kamar meninggalkan ibunya. Bukan tidak sopan tetapi ia malas untuk berdebat.

__ADS_1


"Tuh! Anakmu itu tidak sopan sama aku ibunya! Diajak bicara malah pergi!" Adu Laras kesal ketika suaminya baru saja tiba. Pak Gatot menunggu proses penguburan hingga selesai maka datang terlambat.


"Ada apa lagi sih Bu... pasti kamu bahas Surti lagi kan!" Pak Gatot tahu. Firman bukan anak yang seperti itu jika bukan karena Laras yang mengajak ribut.


"Mulai sekarang, jangan membicarakan Surti lagi Bu, biar dia tenang. Sudahlah, mendingan kita shalat," Pungkas pak Gatot. Akhir-akhir ini istrinya itu jarang sekali shalat, kerjaanya marah-marah terus.


Keesokan harinya di tukang sayur, memang dasar ibu-ibu tukang gibah. Walaupun kemarin sore sudah di ceramahi bu rt, tetap saja paginya di tukang sayur kematian Surti karena penyakit menular sudah menyebar entah darimana asal beritanya.


"Apa? Jadi... Surti mengidap virus sifilis?" Laras terkejut. Ia letakan lagi daging yang sudah ia pilih, netranya menatap para tetangga yang sedang gibah itu.


Bu Laras lantas pulang meninggalkan tukang sayur. Sepanjang jalan hatinya gemuruh, virus sifilis? Itu artinya Surti telah melakukan hubungan bebas. "Oh tidak!"


Laras menarik napas panjang seketika ingat kata-kata Firman jika menikah dengan Surti akan mati cepat. Bu Laras mempercepat langkahnya membatalkan belanja sayuran.


**********


"Reader yang setia, jangan dulu kabur ya... konflik antara Bramanstya dengan Firmansyah belum usai. Maaf kalau sudah tag tamat tapi masih berlanjut. Karena jujur, Buna sedang sibuk di real life, jadi bisa sedikit santai uptude. Karena terlalu sibuk Buna sering sakit-sakitan. 😥😥😥 ❤❤❤


.

__ADS_1


__ADS_2